Tantehot's Blog

Nikmatnya dokter cantik

Posted in wanita karir by tantehot on March 19, 2010

Setelah berputar putar keliling kota. Akhirnya kutemukan juga tempat praktek sunat. Hati-hati aku masuk kedalam dan, terjadilah yang kutakutkan. Terlihat banyak anak kecil yang antre untuk disunat. Aargh.. tidaak. Rasa malu kembali mengalahkan logika. Sehingga aku pun ngacir pergi dari tempat itu dan bertekad untuk mencari tempat lain saja. Namun keadaan semakin sulit karena kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 19.00. Waduh, bisa batal ini, dan Ine pasti marah lagi padaku besok, kenapa tadi aku tidak sunat saja ditempat yang banyak anak kecil itu, kataku dalam hati. Jam menunjukkan pukul 19.30 aku melihat papan nama sebuah klinik yang melayani penyunatan. Kali ini aku sudah bertekad untuk tidak akan lari apapun yang terjadi, ini demi rasa sayangku pada Ine, aku tidak mau mengecewakannya lagi. Dengan jantung berdegup kencang, kudorong pintu kaca depan klinik dan.. thank god, tidakada orang. Hanya ada seorang perawat, yang menurutku lumayan cantik, beranjak menyambutku dan menanyakan keperluanku dengan ramah. Aku menjawab “Emm, benar disini bisa sunat suster?”
“Oh betul sekali bapak. Nah, dimana anaknya yang mau disunat pak?” Tanya suster itu.
Waduh, sialan, pertanyaan yang aku sangat tidak suka. Terlebih lagi untuk menjelaskan. “Engg, sebenarnya…. sebenarnya..” Aku merasa tidak sanggup mengucapkannya, ingin rasanya lari lagi namun bayangan Ine yang menangis tiba-tiba terlintas di benakku sehingga aku memutuskan untuk menjawabnya. Ah terserah sajalah kata orang, batinku. “Sebenarnya saya yang mau sunat sus..” There, selesai sudah, aku sudah berhasil mengatakannya. Rasanya seperti beban 100kg sudah terangkat dari pundakku.

Suster itu agak terkejut mendengarnya, yang membuatku lega, dia tidak menertawakanku seperti bayanganku semula. Tidak lama kemudian dia masuk kedalam untuk menemui dokternya, lalu kembali lagi kedepan menemuiku dan berkata “Baik pak, dokternya sudah siap, silahkan masuk.”
Akupun masuk kedalam ruang praktek dan.. aku kembali terkejut karena dokternya seorang wanita. Wah, masak aku mesti buka-bukaan didepan cewek selain Ine. Tetapi pikiran itu semakin memudar melihat sosok dokter itu yang cantik, sangat cantik bahkan. Kalau kutaksir kira-kira umurnya baru 23 mungkin 24, pastilah baru lulus dan buka praktek batinku, ukuran dadanya… tidak terlalu kelihatan karena ia memakai jubah khas dokter yang putih.
“Eee, dokter yang nanti……” Kata-kataku terputus. “Ya betul mas, saya yang akan menyunat anda.” Katanya sambil tersenyum ramah. Kemudian dokter itu memintaku untuk melepas celana berikut celana dalamku. Wah, aku degdegan juga karena harus mengekspos bagian pribadiku dihadapan lawan jenis yang tidak kukenal. Perlahan tapi pasti, celana jeansku beserta celana dalamku sudah terlepas sehingga kemaluanku kini gandul-gandul dihadapan dokter tersebut. Dokter itu sendiri tidak terlalu memperhatikan karena sibuk menyiapkan peralatannya. Baru kemudian ia memandang penisku ini. Entah apa yang ada dibenaknya karena kurasa, biasanya dia menyunat anak-anak, sekarang dia dihadapkan pada penis pria dewasa.

Dokter wanita itu memintaku duduk di atas meja periksa dan kemudian dia memakai sarung tangan lateks. Barulah kemudian kedua tangan dokter itu menuju ke arah alat kelaminku. Waduh, aku kembali dagdigdug. Kemaluanku ini kan bukan punyanya anak kecil. So, kalau dipegang-pegang, apalagi oleh lawan jenis, pasti bakalan bangkit dari tidurnya. Benar saja, sewaktu dokter itu memegang batang penisku, si junior langsung bangun dan mengembang dengan cepat menuju ukuran maksimalnya, 18cm. dokter itu terlihat terkejut sekali, entah itu terkejut karena adikku tiba-tiba bangun, atau terkejut karena ukuran adikku yang lumayan besar. “Eeh, maaf ya dok, ini… spontan soalnya.” Kataku dengan senyum yang kecut. “Oo, ee. nggak apa-apa kok.” Dokter itu sepertinya juga salah tingkah, mukanya memerah. Melihat itu, pikiran jorokku mulai bermain. Bagaimana kalau dokter cantik ini kusuruh melakukan handjob. Tentu ia kaget waktu tadi tahu pasiennya adalah pria dewasa. Nah, kalau kubilang bahwa aku tidak tahu cara mengecilkan kembali penisku ini kemungkinan ia akan percaya, apalagi hingga sebesar ini aku belum disunat.

“Mmmm, tapi saya tidak bisa mengkhitan kalau sedang…. begini.” Kata dokter itu padaku sambil sesekali memandang penis tegangku. “Lebih baik mas.. ee.. keluarkan dulu di kamar mandi baru kita lanjutkan.” Tambah dokter itu lagi. Akupun mulai aksi pura-pura bego, “keluarkan? Maksudnya apa dok? Saya kan lagi nggak kebelet pipis.” Jawabku dengan memasang tampang yang sebego mungkin. “Ee.. bukan pipis maksud saya. Maksudnya mas.. ee.. masturbasi dulu.” Jawab dokter itu gugup. Nah, umpanku mulai kena, batinku. “Mas.. apa dok, saya nggak ngerti. Setahu saya kalau lagi begini ya didiamkan aja, ntar juga kecil lagi. Kalau pagi-pagi bangun juga gitu dok, saya diemin aja.” Jawabku bego dengan penis yang tetap mengacung. “Memang caranya bagaimana dok?” Pancingku. “Ee.. ya, mas .. ngg.. kocok itunya, nanti kalau sudah keluar, pasti mengecil.” Jawab dokter itu dengan muka yang kian memerah. Hatiku semakin girang, pasti ia percaya kalau aku tidak tahu apa-apa tentang ini. “Bagaimana dok? Aduhh, saya nggak ngerti. Atau, dokter aja deh yang keluarkan. Saya takut soalnya saya bener-bener nggak ngerti soal ini.” Tambahku. Dokter itu tampak terperanjat dengan jawaban polosku tadi. Namun sepertinya ia kehabisan akal untuk mengajariku cara masturbasi, dan ia juga tampak tidak ingin berlama-lama dengan pasien yang satu ini. Akhirnya dokter itu setuju untuk melakukan handjob. Hehehe, berhasil!! Batinku. >:)

Pertama-tama, dokter itu menggenggam batang penisku dengan tangan kirinya yang masih terbungkus sarung tangan lateks. Kemudian ia mulai menggerakkan tangannya naik-turun. Ohh, gila, rasanya enak sekali. Apalagi kemudian dokter itu memainkan kedua buah zakarku dengan tangan kanannya yang, tentunya, juga masih bersarung tangan. Lalu, tangan kanannya digunakan untuk merangsang bagian sensitif penis pria, yaitu daerah dibawah kepala penis. Ahh, rasanya semakin nikmat, aku terkadang sampai memejamkan mataku untuk menikmati sensasinya. Tidak seberapa lama, cairan pelumas (cairan yang keluar jika pria terangsang) mulai menetes dari lubang kencingku. Dokter itu menadahinya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya yang mendapat giliran mengocok batang penisku. Setelah seluruh cairan pelumas keluar. Tangan kanannya behenti mengocok penisku dan tangan kirinya yang ada tetesan cairan tadi dipakai untuk mengocok batang penisku. Woow, sensasinya bebeda karena lebih licin rasanya. Nafasku mulai memburu, perjalanan menuju puncak sudah mencapai tengahnya. Dokter itu tidak mengurangi ritme kocokannya melainkan malah mempercepatnya, aah rasanya enak sekali apalagi karena ada cairan tadi. Lima menit kemudian aku sudah tidak tahan lagi, sedikit lagi sudah mencapai orgasme. “Aaaaaaa.. aaa.” pekikku. Dan sedetik kemudian “Aaahh… hhh… hhh.” Muntahlah spermaku ke lantai tempat praktek itu, sebagian mengenai pakaian dokter itu. Lega dan senang sekali rasanya, apalagi karena dokter cantik ini bersedia memberiku handjob, hehehe. Singkat cerita, akhirnya aku disunat juga, entah memakai metode apa, dan dokter itu bilang bahwa lukanya akan sembuh dalam waktu dua minggu. Sebelum pergi, aku menanyakan nama dokter itu, ternyata namanya Ika. Ternyata lagi, aku salah mengira, umurnya ternyata 27. Heh, dua tahun lebih tua dariku, tapi kok kelihatannya masih sangat muda, pastilah ia pandai merawat kecantikannya. Aku juga bertanya apakah aku bisa datang kembali ke klinik itu untuk memeriksakan juniorku dua minggu lagi.

Dalam waktu dua minggu itu pula aku berencana agar bisa melakukan yang lebih. I mean, dokter ini sudah mau handjob, bagaimana kalau aku bisa mendapatkan yang lebih dari itu. Dalam dua minggu itu pula, aku menolak ajakan Ine untuk melanjutkan ‘hidangan utama’ yang belum sempat dinikmati di hotel dulu. Aku bilang kepadanya bahwa penyembuhannya makan waktu satu bulan setengah dan bahwa sebaiknya kami melakukannya setelah menikah saja. Untung si Ine mau mengerti dan tidak ngambek lagi. (Lagi lagi lagi) singkat cerita, dua minggu telah berlalu. Aku menunggu lagi satu hari untuk memastikan bahwa juniorku ini sudah siap tempur. Hari yang ditunggu tibalah juga, aku berangkat kembali ke klinik itu pada jam yang serupa dengan terakhir kali aku ke sana. Harapanku, tidak ada pasien yang mengantre. Dan… betul juga, hanya ada satu orang pasien anak-anak dan bapaknya yang baru saja pergi meninggalkan klinik itu.

Aku menemui suster yang jaga. “E… bisa saya bertemu dengan dokter Ika? Saya sudah bikin janji dua mingu yang lalu.” Tanyaku. Suster itu kemudian menuju ke ruang praktek dan tidak seberapa lama kemudian kembali dan mempersilakanku masuk. Aku akhirnya masuk kedalam ruang praktek. Dokter Ika menanyakan apakah ada keluhan pada kemaluanku. Aku menjawab bahwa tidak ada keluhan dan tidak terasa sakit. Dokter Ika kemudian menyatakan bahwa aku sudah sepenuhnya sembuh. “Ehh, tapi dok. Begini.. Saya, dalam waktu dekat ini akan menikah. Engg, saya kan tidak tahu apakah anu saya akan normal saja pas malam pertama.” Pertanyaan yang ngarang dan ngaco. “Begini saja mas, mas coba saja masturbasi dulu, kalau tidak sakit kemungkinan tidak akan sakit waktu dipakai berhubungan badan.” Jawab dokter Ika dengan wajah yang sedikit memerah. Mungkin karena mengingat yang tejadi dua minggu yang lalu. Aku kembali mencari akal agar dia mau kuajak yang tidak-tidak. “Mmm, saya masih takut dokter, bagaimana kalau nanti lukanya kambuh. Aduuuh, saya takut.” Jawabku beralasan. “Emm.. gimana kalau dokter aja yang….” Tambahku. Ika hanya terdiam. Aku tidak ingin ia menjawab tidak sesuai keinginanku, jadi aku langsung berjalan menuju meja periksa dan melepas bawahanku sehingga bagian bawah tubuhku kini sudah tanpa sehelai benangpun. Sesuai dugaanku, Ika terpaksa harus menuruti kemauanku. Iapun menuju meja periksa dan kemudian langsung menggenggam batang penisku, tapi kali ini tanpa sarung tangan, wow. Menerima sentuhan dari tangan wanita, kontan penisku mengeliat dan bangun dari tidurnya. Dokter Ika kemudian tampak tertegun, memang, setelah disunat juniorku tampak lebih garang. Ika kemudian memeriksa bagian leher penis dan menyentuh-nyentuh disekeliling diameternya untuk memastikan bahwa aku tidak merasakan sakit. Kemudian ia mulai mengocok penisku. Ahh, memang enak sekali kalau disentuh oleh lawan jenis. Kocokan tangannya mulai dipercepat, pasti tujuannya supaya aku cepat keluar dan cepat pergi dari sini. Aku tahu itu, tapi aku tidak akan membiarkannya terjadi. Saat ini posisiku duduk diatas meja periksa sementara Ika duduk di kursi yang dihadapkan ke meja periksa itu sehingga posisinya agak lebih rendah dariku. Akupun menggerakkan tanganku menuju payudaranya yang terbalut jubah dokter dan kemeja hitam. Tanpa basa basi, kuremas kedua payudaranya. Ikapun terkejut dan melepaskan genggaman tangannya dari penisku. Kemudian kedua tangannya disilangkan diatas dadanya. “Mas, apa-apaan sih.. emph!” Sebelum banyak berkata-kata, kulumat dan kuhisap-hisap mulutnya. Kedua tangan Ika mencoba mendorongku, tapi tidak cukup kuat untuk melakukannya. Dengan tangan kiriku, kuremas sebelah payudaranya. Sementara tangan kananku, meremas-remas bongkahan pantatnya dari luar rok kain berwarna hitam yang dikenakan Ika. “Emmm… mmmhhh.” Hanya itu yang terlontar keluar dari bibir Ika yang sedang kucium dengan ganas. Perlahan kucoba memasukkan lidahku kedalam mulutnya dan bermain-main dengan lidahnya, mungkin karenasudah terangsang, Ika membalas pemainan lidahku, lidahnya juga dimasukkan kedalam mulutku dan akupun langsung menghisap-hisapnya. Jemari tanganku mulai bergerak lincah membuka satu demi satu kancing kemeja Ika. Dan, aku tidak measakan penolakan darinya, berarti keadaan sudah benar-benar aman nih, hehehe. Akupun melepaskan ciumanku dan Ika tampak terengah-engah. Setelah kubuka semua kancing kemejanya segera kulepas kemeja dan jubah dokternya, kemudian menyusul bra putih yang dikenakannya. Wow, ternyata payudara dokter ini cukup sekal, kira-kira seukuran dengan punya Ine. Kedua payudara Ika juga terlihat masih tegak dan menantang. Tanpa buang-buang waktu, aku langsung mengulum sebelah puting susu Ika sementara yang satunya lagi aku mainkan dengan tanganku. “Ahh, ssshh.. mmmhh.” Desah Ika. Tangan kananku yang bebas begerilya kebelakang dan bergerak kebawah, melepas pengait dan resleting rok Ika. Begitu sudah terbuka, rok hitam itupun meluncur bebas kebawah. Tangan kanankupun leluasa meremas-remas pantat Ika yang terbungkus celana dalam warna putih. Perlahan jemari tanganku kususupkan ke kemaluannya yang ternyata sudah basah. Ok, tidak perlu menunggu lagi, segera kuturunkan celana dalam itu sehingga Ika kini benar-benar telanjang bulat. Segera kuangkat tubuhnya dan kubaringkan diatas meja periksa. Aku membuka kaosku sehingga kini aku dan Ika sama-sama telanjang bulat. Kukangkangkan kakinya lalu segera kuarahkan batang penisku yang sudah tegang sekali menuju liang vaginanya. Kugesek-gesekkan terlebih dahulu di permukaan vaginanya. Lalu, bless, batang penisku melesak dalam di vagina Ika. “Aaa… masss.. pe.. lan.” Desah Ika. Kudiamkan terlebih dahulu penisku. Setelah beberapa saat, barulah kugerakkan maju mundur diiringi dengan desahan Ika, si dokter cantik itu. Plok, plok! Suara pahaku yang bertemu dengan pangkal paha Ika. Sambil bersenggama, tanganku meremas-remas payudaranya dan terkadang memilin-milin putingnya, sementara bibirku berulang kali menciumi bibir, pipi dan leher Ika. Sepuluh menit berselang, nafas Ika semakin memburu dan tidak lama kemudian, “Aa.. ahhh… aaahhh!” Ika mencapai orgasme. Kedua matanya dipejamkan. Keringat deras membasahi tubuhnya. Kudiamkan sejenak dan kubiarkan Ika menikmati orgasmenya. Lalu kubalikkan badannya dan kumasukkan lagi penisku dalam posisi doggy style. Kusodokkan penisku pelahan, namun kian lama kian cepat. “Ahhh, mass… ahh.. ach.. enak mass!!” Racau Ika. Sekitar lima belas menit kami bercinta dalam posisi ini, Ika kembali orgasme. “Achh.. mass.. aku keluar, ahh, aaaaaa!” Kubalikkan lagi badannya dan kupompa terus karena aku juga merasakan gelombang orgasme kian mendekat. Kupacu dan kupecepat sodokanku dan “aaa.. aku mau kel.. luar.” Aku hendak mencabut penisku untuk memuntahkan sperma diatas perutnya, namun kedua kaki Ika tiba tiba dilingkarkan disekeliling pinggangku dan “Ahh… hhh.. hhh!” Semburan demi semburan sperma masuk kedalam rahim Ika. Aku merasakan suasana ini sangat intim. Kudiamkan penisku didalam vagina Ika selama beberapa saat dan kupagut bibirnya lalu kubisikkan thank you di telinganya. Ika hanya tersenyum manis.

betty dientot om-om

Posted in om-om genit by tantehot on March 19, 2010

Weekend kemaren, persediaan kebutuhanku sehari2 sudah hampir habis. Di
supermarket besar yang ada di mal deket tempat kosku kebetulan sedang
menggelar program diskon 15% untuk semua barang, tapi kalo diteliti sangat terbatas dalam jumlah yang boleh dibeli yaitu masing2 item hanya 2 unit. Satu iklan yang menjebak pelanggan yang tidak teliti membaca iklannya, memang sih keterbatasan ini dicetak dalam font kecil2 sehingga biasanya tidak dibaca. Sesampainya di kasir biasanya suka terjadi perdebatan antara pelanggan yang sudah memenuhi trolley belanjaannya sampe hampir luber dengan sang kasir dan seperti biasa kasir biasanya mengeluarkan kartu asnya berupa fotokopi iklan di surat kabar dimana kata2 ‘maksimum 2′ sudah dibold dengan stabilo berwarna. Dimana juga pelanggan gak pernah menang dalam kondisi seperti itu. Aku memang butuh beli tapi pasti pembeliaanku tidak maen borong karena keterbatasan dana sehingga aku teliti dalam membaca tag harga dan pengumuman mana yang diskon mana yang tidak. Lagian aku belinya juga biasanya masing2 item cuma satu. Karena lagi weekend aku santai ja, cuma pake celana pendek dan kaos gombrong ja, sendal jepit. Aku senang mengelilingi supermarket sekalian membunuh waktu, walaupun aku cuma menenteng kranjang belanja, tetrus saja aku brosing melihat produk yang dijual
di supermarket itu. Beberapa kali aku berpapasan denganseorang lelaki, ganteng juga sih, atletis, mungkin umurnya akhir 30an. Dia tersenyum setiap kali papasan dengan aku. Mula2 aku gak memperhatikannya, tapi setelah beberapa kali papasan dan dia selalu senyum, apa salahnya kalo aku membalas senyumnya.

Disatu lorong, aku sedang nungging memperhatikan produk pembersih yang
kebetulan diletakkan di rak bagian bawah ketika dia lewat. Entah sengaja ato tidak trolleynya menyenggol pantatku sehingga kranjang blanjaanku jatuh. Dengan sigap dia membantu aku memunguti belanjaanku yang tercecer kelantai sambil minta maaf. Ya gak apa sih, gak sakit, tapi sengaja aku pasang muka cemberut. “Sori banget ya mbak, tadi gak sengaja kesenggol. Saya lepas trolleynya untuk mengambil produk ini, ee kok jalan ndiri. Sakit ya mbak”. Aku diem aja. “Wah marah ya mbak, maaf deh sekali lagi. Jangan cemberut dong, ntar cantiknya luntur lo. Gini deh, buat nebus dosa saya yang bayarin deh belanjaannya”. Aku tersenyum mendengar tawarannya. “betty gak apa2 kok om”. “O betty toh namanya, aku …. (sambil memperkenalkan diri). Kok blanjanya dikit amir”. “Kok Amir sih om”. “Iya si amat lagipulang kampung”. Aku tertawa mendengar guyonannya. “Santai amat si pakeannya”. “Napa om gak suka ya liatnya”. “Suka kok, orang cantik kalo pake pakean apa aja tetep ja cantik. Apalagi…” Aku seneng mendengar sanjungannya dan penasaran juga kenapa kok dia tidak menyelesaikan omongannya. “apalagi apa om,
ngomong kok sepotong2 gitu seh”. Dia diam saja sambil meneruskan mengambil produk2 yang dia butuhkan ke trolleynya. Aku mengikutinya karena kranjang blanjaanku diletakkan di trolleynya juga. “Om, tadi mo ngomong apa”. “Apa, aku gak ngomong apa2 kok”. “Itu tadi ngomongnya belum selesai. Apalagi apa si”. “Penasaran ya”. “Iya ni, om bikin betty penasaran ja sih, ayo dong om apalagi apa”. “Tapi janji ya jangan marah lagi kalo aku ngomong”. “Napa mesti marah”. “Kan tadi aku bilang, kamu tu cantik, jadi pake pakean apa aja tetep ja cantik”. Sengaja dia gak meneruskan keterangannya, aku jadi makin penasaran. “Tadi ngomongnya pake apalagi, ayo dong om apalagi apa”, aku mulai merajuk. “Apalagi kalo gak pake apa2, makin cantik deh”, sambungnya sambil tertawa. “Ih, om genit. Pagi2 gini dah mo liat betty gak pake apa2″. “O, mau toh gak pake apa2 didepan aku”. “Ih, piktor”, kataku sambil mencubit lengannya. “Kamu blanjanya dikit banget sih. Kalo masih ada yang diperluin beli aja, kan aku yang bayarin”. “Bener boleh om”. “Bener, kan buat minta maaf dan supaya kamu mau gak pake apa2 didepanku”. “Ih ngaco deh”, kataku sambil senyum. Karena ditawarin ya aku gak sungkan untuk membeli semua
yang aku butuhkan sehingga cukup banyak juga blanjaanku.

Selesai blanja, dia membawa trolley ke kasir, dah rame yang blanja, jadi ngantri cukup lama. “Laper ya Din”, “Iya om, ngantrinya lama banget sih”. “Lagian sekarang dah waktunya makan siang. Kamu tadi kesini naek apa”. “Ojek om”. “Deket sini tinggalnya”. “Deket om, betty kos kok”. “Ya udah kita drop blanjaan kamu ke kos kamu, dah gitu kita makan ya”. “Ngapain om bolak balik. Kita taruh blanjaan dimobil om aja, baru cari makan, disini ja juga banyak makanan”. “Oke nona manis”. Dia menuruti saranku. Trolley
dibawa ke basement, dan isinya disimpen dibagasi mobilnya. Kemudian kita
kembali lagi ke atas, dia menggandeng tanganku. aku membiarkan saja tanganku digenggamnya. “Gak apa kan gandengan”. “Gak om”. “Kan kaya lagi pacaran ya Din”. “Iya om”. “Mau jadi pacar aku mangnya”. Alu diem sambil memandang wajahnya yang ganteng. “Makan dulu deh om, dah laper, pagi betty gak sarapan”. “Kok gak sarapan”. “Namanya juga anak kos om, gak ada persediaan makanan, lagian mo disimpen dimana, gak punya lemari es kan”. “Kasian, yuk deh kita makan”. Dia mengajak aku ke foodcourt, aku disuruh milih apa yang aku suka dan dia yang pesan.

Sambil makan kita nerusin ngobrolnya. “Mau gak jadi pacar aku?” “Mangnya gak ada yang marah kalo betty jadi pacarnya om”. “Gak ada tuh, aku kan sendiri. Kamu dah punya pacar ya”. “Udah putus om”. “Kok putus”. “Abis dia egois sih”. “Egois?” “Ya, mo enaknya sendiri ja, gak pernah mikirin betty”. “Om kok sendiri”. “Iya say, aku dah pisah ma istri, kebetulan gak punya anak, jadi ya sendirian”. “Om tinggal dimana”. “Di apartment deket sini kok”. “Rumah buat mantan ya om”. “Kok tau, mau ya jadi pacar aku”. “Mangnya om gak malu, betty kan masi abege”. “Kamu masi sekolah”. “Masi om”. “Kelas berapa”. “kelas tiga om”. “Wah abege banget ya”. “Makanya om gak malu pacaran ma betty”. “Gak, kamu gak kliatan kok masi klas tiga, tadinya aku kirain dah kuliah”. “betty kan biasa aja om”. “Kamu cantik, seksi
lagi”. “Kok seksi om”. “Tu yang kamu umpetin debalik kaos gombrong kamu besar kan”. “Ih matanya genit deh, ngeliatin dada orang”. “Keliatan kok, asik ya cowok kamu”. “asik apaan om”. “Pasti suka ngeremes ya Din”. “Iya sih om, mantan betty dah kerja”. “O gitu, kamu kok kos”. “Kan ortu didaerah om”. “Pacar kamu selaen ngeremes kamu, ngapain aja kalo pacaran”. “Ya biasalah om”. “Biasa apaan”. “Kaya om gak pernah pacaran aja, biasanya lelaki ngapain kalo berdua ceweknya. Kan gak cuma ngeremes aja”. “Kamu dah maen ya ma mantan kamu”. “Udah om”. “Sering?” “Setiap pacaran om”. “asik dong”. “enggak tuh, dia kan egois”. “O, ngerti aku sekarang, pasti dia gak bisa muasin kamu ya”. “Tu om tau”. “Cepet keluar ya Din”. “Iya om, kalo dah gitu ya udah, padahal betty masi pengen banget. Kesel, jadi
daripada ribut terus ya bubaran aja”. “Jadi sekaang betty cari lelaki yang bisa muasin kamu”. Aku jadi tersipu mendengar ucapannya. “Aku bisa banget Din muasin kamu”. “Om, ah betty jadi malu”. “Gak usah malu lah, normal kok”.

Sembari ngobrol gitu, selesailah kita makan. “Din mo aku beliin pakean gak”. “om kok royal amir sih”. “Amat dah balik lo”, katanya sambil tertawa berderai. “Kamu kan mo jadi pacarku. anak kos kaya kamu kan dananya suka cekak, ya gak apa kan kalo aku yang beliin kamu pakean. Mau ya”. Aku mengangguk, dia mengajakku ke dept store yang ada di mall dan mambiarkan aku memilih pakean yang aku inginkan. Aku membeli jins dan t
shirt aja karena sehari2 memang aku pake pakean jenis itu. “Gak beli daleman sekalian”, katanya sambil tersenyum. Ditawari ya aku iya aja. Aku membeli bra dan cd. Ketika dia bayarin semuanya, dia melihat ukuran braku. “Pantes besar ya Din”. “Aku jadi tersipu, “om nih, gangguin betty ja”. Kasi senyum2 aja melihat aku ma si om, pasti dia mikir aku abege bispak yang lagi di book om2. Masabodoh lah, emangnya gua pikirin. Seelsai belanja, kita menuju ke mobilnya. Dia mengantarku pulang. Sebelon aku turun, dia mengajak aku malem mingguan. “Ntar aku jemput jam 7 ya Din”. “Mo ngajak betty kemana om”. “Ya santai aja, masak kamu malem minggu
bengong nepokin nyamuk”. Aku mengiyakan ja ajakannya.

Tepat jam 7, dia dah menjemputku lagi. Aku mengenakan pakean yang dia belikan tadi. “Kamu cantik banget deh Din, beda dari tadi siang, Bangga aku punya pacar secantik kamu”. “Mangnya kita dah jadian om”. “Anggep ja udah”. “Om mo ajak betty kemana sih”. “Kita cari makan malem ya, aku mo ajak kamu ke cafe. Bisa makan sembari dengerin musik”. Di cafe itu dia memesan makanan yang jarang aku makan, karena memang gak kebeli dari uang sakuku. Asik juga jadi pacar om2 ya, duitnya tebel soale. “Kamu kalo maen pake gaya apa Din”. “Om seneng banget ya ngomongin maen”. “Mangnya kamu gak suka ya, aku tau kamu sukanya ngelakuinnya ja ya”, “Gak juga sih om, betty malu ja ngejawabnya”. “Ya udah ntar jawabnya diranjang ja ya”. Aku tertegun mendengar ucapannya yang to the poiny
banget itu. Baru kenal dah mo bawa aku ke ranjangnya. Bener sih aku dah diblanjain, kaya dah ngasi uang muka ja. Masak bodoh lah, aku juga dah pengen karena dah lama aku gak maen setelah bubaran ma mantanku itu. Karena tau aku gak mo ngomongin itu, dia ngajakin ngobrol yang enteng2 aja. Selesai makan, kita masi mendengarkan musik di lounge cafe itu. Dia memesan minuman alkohol, “gak apa ya Din minum dikit, biar tambah anget”. aku gak pernah minum alkohol, tapi dia dah pesen ya aku minum saja sesloki. “Om jangan minum banyak2, ntar mabuk, pulangnya sapa yang nyetir”. “Kan ada kamu”. “betty gak bisa nyetir om”. “Mangnya
betty gak pernah diatas ya”, katanya sambil tertawa. “Ih, si om, ngomongin mabuk kok nyambungnya ke situ sih”. “Ya udah, aku brenti minum deh”. DIa minumnya cuma beberapa sloki saja sih. Aku enjoy banget malming ma si om, dia pinter banget bikin aku nyaman. Orangnya humoris sekali, ada aja yang jadi bahan omongannya. Gak terasa waktu dah larut juga. “Om ngantuk nih, pulang yuk” “Pengen bobo ya Din, ato pengen diboboin”. “Gak tau ah, orang ngantuk masi aja dibecandain”, “Aku gak becanda, aku beneran pengen boboin kamu”. Aku diem aja, di mobil aku juga gak
banyak ngomong, ngantuk sih, sehingga aku gak sadar alo dia membawa aku ke apartmennya. “Kok ke sini om”, “Gak apa kan, kamu nemenin aku malming di apartmenku aja ya”.

Dah sampe diapartmennya ya aku gak bisa nolak lagi. Dia parkir mobilnya ditempatnya di basement, aku digandengnya menuju ke lift. Didalem lift aku dipeluknya, pipiku diciumnya lembut. Aku senang diperlakukan romantis gitu. Sesampainya diapatrtmen aku ditunjukkan ruangan2nya. Gak besar sih, ada 2 kamar tidur dengan kamar mandi didalem, ruang tamu menyatu dengan ruang makan, pantri yang sekaligus berfungsi sebagai dapur dengan peralatan standard : lemari es, oven gas, rice cooker dan microwave. Satu lagi corner untuk cuci dan jemur. Tempat jemurnya diteras balkon apartmennya. Malem gini asik juga berdiri di teras balkonnya menikmati kerlap kerlip lampu kota dan udara yang sejuk. Dia memelukku dari belakang dan mencium leherku. “Oom…”, aku melenguh kegelian.
“Masuk yuk, disini dingin, nanti kamu masuk angin. Mending juga kemasukan yang laen kan”. Aku digandengnya mauk dan duduk di sofa. “Kamu mo tuker baju Din, pake aja kaos oblongku yang gombrong, biar santai. Kamu malem ini gak usah balik ke kos ya”. Aku menggangguk, dia mengambilkan kaos gombrongnya, aku mengganti pakeanku dengan kaos itu, bra juga kulepas, dan cd masi kupake. Aku mengganti pakeanku di kamar mandi. Memang kalo di kos aku selalu pake cd aja dalemannya. Aku tau pasti dia dah napsu mo maen ma aku. aku juga pengen jadi gak masalah deh. Ketika aku keluar dari kamar mandi yang ada dikamarnya, dia
sudah terbaring diranjang. Napsuku langsung timbul melihat pemandangan indah, tubuh yang kekar dan dadanya yang bidang hanya dibalut sepotong cd dimana terlihat jelas batangnya besar dan panjang, tercetak dengan jelas di cdnya. Kayaknya batangnya dah tegang berat. dia tersenyum melihatku. “Suka ngeliat aku gini Din”. Aku jadi tersipu malu. Kemudian dia mulai mengusap2batangnya dari luar cdnya. sengaja dia pelan2 menurunkan cdnya sehingga nongollah batangnya yang besar mengacung dengan gagahnya. Aku terbelalak ngeliat batang segede itu. “Kamu
pengen ngerasain batangku ya Din, belum pernah ya ngerasain batang segede aku punya. Aku juga napsu ngeliat kamu Sin, bodi kamu merangsang banget deh”.

Dia bangun dalam keadaan telanjang bulat menuju ke tempat aku berdiri. batangnya yang tegang berat berayun2 seirama jalannya. Dia segera memelukku dan menarikku ke ranjang. Kaos yang kupake segera dilepaskannya, begitu juga cdku. Dia meneguk liur memandangi tubuh telanjang ku yang mulus, dada yang besar dengan pentil yang dah mengeras dan jembiku yang lebat menutupi meqiku dibawah sana. Kemudian dia mencium serta mengulum bibirku. Aku balas memeluknya.
bibirku digigitnya pelan pelan, bibirnya turun terus menciumi seluruh lekuk tubuhku mulai dari leher terus kebawah kepentilku, dikulumnya pentilku yang sudah mengeras, aku merintih rintih karena nikmat. Aku menekan kepalanya ke dadaku sehingga wajahnya terbenam di dadaku. Dia terus menjelajahi tubuhku, dijilatinya pelan dari bagian bawah dadaku sampe ke puser. Aku makin mendesis2, apalagi ketika jilatannya sampe ke meqiku yang berjembi tebal. Dia menjilati jembiku dulu sampe jembiku menjadi basah kuyup, pelan pelan jilatannya mulai menyusuri bibir meqiku terus ke klitku. Ketika lidahnya menyentuh klitku, aku terlonjak kegelian. Dia
menahan kakiku dan pelan2 dikuakkannya pahaku sehingga kepalanya tepat berada diantara pahaku. Lidahnya menyusupi meqiku dan menjilati klitku yang makin membengkak. meqiku berlendir, dia menjilati lendir yang keluar. Aku gak tahan lagi, aku mengejan dengan suara serak, tanganku mencengkeram seprei dan kakiku menjepit kepalanya yang ada diselangkanganku. Aku nyampe. “Om, nikmat banget deh, padahal belum dienjot ya”, kataku mendesah. Dia diam saja, dan berbaring telentang.
“Kamu diatas ya Din, biar masuknya dalem”, ajaknya.

aku mulai mengambil posisi berjongkok tepat diantara batangnya yang sudah tegang berat. “Aku masukkin batangku ke meqi kamu ya Din”, katanya sambil mengarahkan batangnya menyentuh bibir meqiku. Dia tidak masuk menekankan batangnya masuk ke meqiku tapi digesek2kan di bibir meqiku yang berlendir sehingga kepalanya yang besar itu basah dan mengkilap. Aku terbuai, dengan mata terpejam aku mendesah2 saking
napsunya, “mas, masukin dong.” aku mulai menekan kepala batangnya yang sudah pas berada di mulut meqiku. Pelan2 batangnya menyusup kedalam meqiku, “Akh om, gede banget”, erangku. “Apanya yang besar Din”, dia memancing reaksiku. “Punyanya om..!!” “Apa namanya..?” dia memancing lagi, aku langsung aja menjawab, “batang om, besar sekali”. Dengan sekali hentakan keatas batangnya menyeruak masuk meqiku. “Ooh om, pelan2 om”, aku mendesah lirih. Mataku terbeliak, mulutku terbuka, tanganku mencengkeranm seprei kuat2. Bibir meqiku ampe terkuak lebar seakan tidak muat untuk menelan batang besarnya. “meqi kamu sempit sekali Din”, jawabnya. aku mulai berirama menaik turunkan pantatku,
batangnya masuk merojok meqiku tahap demi tahap sehingga akhirnya ambles semuanya. Pelan2 dia ikut bergoyang menarik ulur batang besarnya. Aku mulai merasa sensasi yang luar biasa nikmatnya. meqiku yang sudah licin terasa penuh sesak kemasukan batangnya yang besar, batangnya terasa banget menggesek meqiku yang sudah basah berlendir itu. “om, enak banget om, terus om”, erangku. “Terus diapain Din”, jawabnya menggoda aku lagi. “Terus enjotin meqi betty om”, jawabku to the point. “enjotin pake batang gede om”. Enjotannya dari bawah makin
menggebu sehingga aku makin menggeliat2. AKu memeluknya dan mencium
bibirnya dengan agresif, dia menyambut ciumanku. Nafasku memburu kencang, lidahku saling mengait dengan lidahnya, saling menyedot.
Kemudian dia menggulingkan aku sehingga aku dibawah, dia mulai mengenjotkan batangnya keluar masuk dengan cepat. aku mengangkangkan pahaku lebar2, supaya dia lebih mudah menyodokan batangnya keluar masuk. Keluar masuknya batangnya sampe menimbulkan suara berdecak2 yang seirama dengan keluar masuknya batangnya, karena basahnya meqiku. “om, enak sekali batang om, enjotin meqi betty yang cepet om, nikmat banget”, desahku. “Ooh meqi kamu sempit banget
Din, terasa banget sedotannya. Nikmat banget deh”, jawabnya sambil terus mengenjotkan batangnya keluar masuk meqiku. Enjotannya makin ganas, pentilku diemut2nya. Aku menggelinjang kenikmatan, dada kubusungkan dan kugerak2kan kekiri kekanan supaya 2 pentilku mendapat giliran diemut, “ssh, om, nikmat banget dienjot ama om, pentil betty dikenyot terus om”, erangku lagi. “betty bisa ketagihan dienjot ama om. Ooh om, betty gak tahan lagi om, mau nyampeee”.” Aku mengejang sambil memeluk tubuhnya erat2, sambil menikmati kenikmatan yang melanda
tubuhku, luar biasa rasanya. “Din, aku masih pengen ngenjotin meqi kamu yang lama. Kamu bisa nyampe lagi berkali2″, katanya sambil terus mengenjotkan batangnya.

Dia minta ganti posisi, aku disuruhnya nungging dan meqiku dienjot dari belakang, meqiku terasa berdenyut menyambut masuknya batangnya. Aku memutar2 pantatku mengiringi enjotan batangnya, kalo dia mengenjotkan batangnya masuk aku menyambutnya dengan mendorong pantatku dengan keras ke belakang sehingga batang besarnya masuk dalem sekali ke meqiku. “Ooh nikmatnya om, dienjot dari belakang. Kerasa banget geseken batang om di meqi betty”. Jarinya mengilik2 klitku sambil terus mengenjotkan batangnya keluar masuk. ” Uuh om, nikmat banget om,
terus mainin klit betty om sambil ngenjot meqi betty”, erangku saking nikmatnya. Jarinya terus menekan klitku sambil diputar2, aku mencengkeram seprei erat sekali. Pantat makin kutunggingkan keatas supaya enjotannya makin terasa. Dia memegangi pinggangku sambil mengenjotkan batangnya keluar masuk dengan cepat dan keras. “om, nikmat banget banget om, betty udah gak tahan neh, mau nyampe lagiii”, aku menjadi histeris ketika nyampe untuk kedua kalinya, lebih nikmat
dari yang pertama. Diapun mencabut batangnya dari meqiku dan berbaring
disebelahku. “om. belum muncrat kok dicabut batangnya”, tanyaku. “betty masih mau kok om dienjot lagi, biar bisa nyampe lagi”. Dia setengah bangun dan membelai rambutku, “Kamu masih bisa nyampe lagi kok Din”.”betty mau kok dienjot om semaleman, kan betty bisa nyampe terus2an, nikmat banget deh om”.

Istirahat sebentar, dia kembali menaiki aku lagi, secara perlahan tapi pasti dia pun memasukkan batangnya ke dalam meqiku. Aku mendesah dan merintih, ketika dia mengenjotkan batangnya sampe ambles semua aku kembali menjerit, “Aaah , om ..”. batangnya bettyikturunkan dengan cepat, akupun mengimbanginya dengan gerakan pantatku yang sebaliknya. Bibirnya bermain di pentilku, sesekali dia menciumi ketekku, bau keringatnya merangsang katanya. Aku memeluknya dan mengelus2
punggungnya sambil menjerit dan mendesah karena nikmat banget rasanya, “Aah om, nikmatnya Terus om, tekan yang keras, aah”. Dia meremas2 dadaku dengan gemas menambah nikmat buatku. Dia terus mengocok meqiku dengan batangnya, aku menjadi makin histeris dan berteriak2 kenikmatan.

Tiba2 dia mencabut batangnya dari meqiku, aku protes, “Kok dicabut om, betty belum nyampe om, dimasukin lagi dong batangnya”. Tapi dia segera menelungkup diatas meqiku dan mulai menjilati bagian dalam pahaku, kemudian meqiku dan terakhir klitku. “om, diapa2in sama om nikmat ya om, terus isep klit betty om, aah”, erangku. Dia memutar badannya dan menyodorkan batangnya ke mulutku. batangnya kujilati dan kukenyot2, dia mengerang tapi tidak melepaskan menjilati meqiku yang dipenuhi lendir itu. “Din, aku dah mau muncrat neh”, katanya sambil mencabut batangnya dari mulutku dan segera dimasukkan kembali ke meqiku.

Dia mulai mengenjot meqiku dengan cepat dan keras, aku rasanya juga sudah mau nyampe lagi, goyangan pantatku menjadi makin liar sambil mendesah2 kenikmatan. Akhirnya dia mengenjotkan batangnya dalam2 di meqiku dan terasa semburan maninya yang hangat didalam meqiku, banyak sekali muncratnya, bersamaan dengan muncratnya akupun nyampe lagi. Aku memeluk tubuhnya erat2, demikian pula dia. “om, nikmat banget deh om”, erangku. Aku terkulai lemes dan bermandikan keringat. Dia kemudian mencabut batangnya dan berbaring disebelahku. Aku meremes2 batangnya yang berlumuran mani dan sudah lemes. Hebatnya gak lama diremes2, batangnya mulai tegang lagi. “om, betty dienjot lagi dong, tuh batangnya
sudah tegang lagi. om kuat banget seh, baru muncrat udah tegang lagi”.
Dia diam saja, aku berinisiatif menaiki tubuhnya. Kusodorkan pentilku ke mulutnya, segera pentilku dikenyot2nya, napsuku mulai memuncak lagi. Aku menggeser ke depan sehingga meqiku berada didepan mulutnya lagi. “om, jilat dong meqi betty, klitnya juga ya om”. Dia mulai menjilati meqiku dan klitku dihisapnya, kadang2 digigitnya pelan, “Aah, om, diemut aja om, jangan digigit”, desahku menggelinjang.

Aku gak bisa menahan diri lagi. Segera meqiku kuarahkan ke batangnya yang sudah tegang berat, kutekan sehingga batangnya kembali amblas di meqiku. Aku mulai menggoyang pantatku turun naik, mengocok batangnya dengan meqiku. Dia memlintir pentilku, aku mendesah2. Karena aku diatas maka aku yang pegang kendali, bibirnya kucium dan dia menyambutnya dengan penuh napsu. Pantatku makin cepat kuturun naikkan.

Tiba2 dia dengan gemas menggulingkan aku sehingga kembali dia yang diatas, dia segera mengenjotkan batangnya keluar masuk meqiku. Aku mengangkangkan pahaku lebar2, menyambut enjotan batangnya, aku gak bisa nahan lebih lama lagi, tubuhku makin sering menggelinjang dan meqiku terasa berdenyut2, “om, aah”. Akhirnya aku nyampe lagi, aku tergolek lemes, tapi dia masih saja menggenjot meqiku dengan cepat dan keras, aku mendesah2 kenikmatan. Hebatnya, dia bisa membuat aku nyampe lagi sebelum akhirnya dengan satu enjotan yang keras kembali dia muncratkan mani di meqiku. Nikmatnya. Dia menciumku, “Din, nikmat banget deh ngenjot kamu”. “iya om, betty juga nikmat banget, kalo ada kesempatan
betty mau kok om enjot lagi”.

video jilbab mesum

Posted in video mesum by tantehot on March 4, 2010

ngentot guru bahasa inggris

Posted in guru mesum by tantehot on March 3, 2010

Pagi itu, Randy, seorang mahasiswa sebuah universitas terkenal di Malang, memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Ia memang senang kebut-kebutan, ditambah dengan motor gede yang dimilikinya, lengkaplah sudah pemenuhan hobinya itu. Ketika melewati sebuah rumah di ujung Jalan Mawar, pikirannya pun sedikit terbang dan tidak lagi fokus ke jalan yang sedang dilaluinya. Pemilik rumah sederhana di ujung Jalan Mawar itu adalah Ibu Nina Alfiyah, guru Randy ketika kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah. Ia ingat sekali waktu itu Bu Nina mengajar mata pelajaran Fikih. Bu Nina adalah seorang guru yang cantik, kulitnya putih, hidungnya mancung, bibirnya merah delima, postur tubuhnya tinggi, body tubuhnya lumayan dan masih demikian singset.

“Cittt, …” tiba-tiba saja seekor kucing lewat di hadapan Randy sehingga membuatnya harus mengerem mendadak dan hampir terpelanting. Bayangan Bu Nina pun hilang dan Randy pun melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, remaja 21 tahun itu langsung masuk ke kamarnya, kemudian mengambil handuk dan pakaian ganti untuk mandi. Di kamar mandi, bayangan tentang Bu Nina kembali merayapi pikirannya. Ia ingat waktu mengajar dulu Bu Nina masih berusia sekitar 30 tahun. Masih cukup muda bila dibandingkan dengan guru-guru yang lain. Ia telah menikah dengan Pak Sapto, guru Bahasa Inggris yang juga mengajar Randy di Madrasah dulu.

Seperti layaknya guru madrasah, Bu Nina selalu memakai jilbab yang lebar dengan kemeja panjang yang mengulur hingga bagian pahanya. Ketika mengajar, gaya Bu Nina juga biasa saja. Standard lah seperti guru-guru yang lain. Tapi satu hal yang tidak bisa dilupakan Randy adalah ketika ia secara tak sengaja melihat Bu Nina berganti pakaian di ruang kelas 6. Kejadiannya berlangsung sangat singkat. Suatu siang, Randy kembali ke ruang kelasnya sepulang sekolah. Buku catatan yang ia pinjam dari Selvy, teman sekelasnya, ketinggalan di kolong meja. Sesampainya di ruang kelas, dilihatnya ruangan itu telah kosong, ia pun langsung menuju mejanya yang berada di barisan paling belakang. Ketika ia sedang menunduk untuk mengambil bukunya di kolong meja, tiba-tiba terdengar suara orang masuk ke ruang kelas 6, ternyata dia adalah Bu Nina.

Randy tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, tapi tiba-tiba Bu Nina yang manis itu pun mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu selepas ia menutup dan mengunci pintu kelas.

“ Aduhh, gara-gara saos bakso itu, pakaianku jadi kotor. Untung tadi bawa baju ganti,” gumam Bu Nina yang saat itu tengah melepas kerudung hitam yang melilit kepalanya.

Randy pun menyaksikan pemandangan menakjubkan dari bagian belakang kelas. Bu Nina tengah menghadap ke papan tulis, jadi tak mungkin ia melihat Randy yang sedang bersembunyi di belakang. Randy pun tidak bersuara sama sekali, ia sampai menahan nafasnya demi melihat kelanjutan ganti bajunya Bu Nina. Seperti yang diperkirakan Randy, selanjutnya Bu Nina pun melepas kancing kemejanya satu persatu dan menanggalkannya begitu saja di atas meja. Otak yang masih kecil waktu itu pun segera merekam setiap lekuk tubuh indah Bu Nina. Rambut Bu Nina yang tidak pernah terlihat ternyata begitu indah. Warnanya hitam dan panjangnya sebahu.

Bu Nina tidak memakai apa-apa lagi di balik kemejanya selain bra yang ditaksir Randy berukuran 34B. Tubuh yang selalu ditutupi ibu guru manis itu ternyata putih bersih, lekuk demi lekuknya demikian sempurna dan seksi. Setelah itu, dengan cepat Bu Nina kembali menutupi tubuhnya dengan baju ganti dan kemudian memasang jilbab lebarnya kembali. Randy pun sedikit kecewa ketika Bu Nina keluar ruangan kelas.

“Beruntung sekali Pak Sapto,” piker Randy sambil mengelus-elus batang kejantanannya yang sedang keras.

Sejak saat itu, pikiran Randy tak pernah lepas dari tubuh telanjang Bu Nina. Setiap Bu Nina mengajar, pandangan Randy tak lepas dari buah dada Bu Nina yang menonjol dari balik jilbabnya. Randy pun demikian senang ketika angin besar bertiup melewati ruang kelasnya, karena kemudian tubuh indah Bu Nina akan tercetak jelas di pakaiannya dan membuat Randy begitu tergila-gila. Di rumah pun ia sering sekali membayangkan sedang bercinta dengan guru fikihnya tersebut. Membayangkan hal itu semua, membuat Randy masa kini yang sedang berkutat di kamar mandi kian cepat mengocok kemaluannya hingga akhirnya “crooottt … “ segumpal mani pun menyemprot dinding kamar mandi dan membuat empunya terkulai lemas di lantai kamar mandi.

Sampai ketika suatu saat Randy melihat di Facebook ada invitation untuk reuni Madrasahnya di Bali. Ia pun langsung tertarik dan menghubungi contact person acara tersebut untuk memastikan keikut sertaannya. Sampailah di waktu keberangkatan dan ia pun kembali bersua dengan semua teman-teman Madrasahnya dulu. Tiba-tiba Randy melihat Bu Nina juga hadir dalan acara tersebut. Randy melihat Bu Nina masih tetap cantik seperti dulu.
Ia pun langsung menyenggol Roni, teman sebangkunya sewaktu Madrasah dulu,

“Eh, Ron. Liat deh, itu Bu Nina kan?”

“Iyah bener, guru favorit lo dulu tuh, hee … jadi CLBK neh!” kikik Roni menjengkelkan.

“Apaan sih lo Ron, gw kan Cuma nanya doank”

“Alah, gak usah muna deh lo Di, kita sekelas tuh dah pada tahu kalo pas kelas 6 dulu lo kan sering ngeliat ke arah teteknya Bu Nina. Hee, hee, itu mah dah rahasia umum.”

“Siall lo Ron.” Ujar Randy sambil sekali menjitak kepala Roni.

Tanpa membuang waktu, Randy pun segera menghampiri Bu Nina. Ia pun mengajukan tangannya untuk bersalaman dengan mantan gurunya itu. Namun yang dituju malah hanya mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya sambil menyindir,

“Ayoo, sudah lupa yah sama pelajaran Ibu. Kan pria dan wanita yang bukan mahrom gak boleh bersentuhan,” ujar Bu Nina sambil tersenyum manis.

Beberapa menit mereka mengobrol. Dan Randy melihat yang lain sudah naik ke dalam bus. “Ibu sama siapa ke Bali-nya? Koq Bapaknya gak diajak?”

“Pak Sapto lagi melayat ke rumah temannya di Surabaya, gak bisa ikut. Dia titip salam aja sama kalian semua.” Tiba-tiba handphone di tasnya Bu Nina berbunyi dan akhirnya dia mengangkatnya. Beberapa detik pembicaraan Randy dengan Bu Nina terpotong karena Bu Nina harus mengangkat telponnya.

“Tuh kan, belum berangkat saja masih ditelpon sama Bapak, katanya hati-hati di jalan.”

“Maaf Bu Nina, sepertinya yang lain sudah pada masuk ke dalam bus, bagaimana kalau saya bawakan bawaannya.” Ujar Randy sopan.

“Ohh, apa tidak merepotkan?”

“Gak apa-apa koq Bu.” Tanpa berpikir lebih lama lagi, Randy langsung membawakan tas bawaan Bu Nina dan memasukkannya ke bagasi bus sedangkan Bu Nina langsung naik ke atas bus.

Ketika Randy masuk ke atas bus, ternyata hanya ada satu bangku yang kosong, yaitu di sebelah Bu Nina. Terdengar cekikikan Roni dari belakangku, “Siall, rupanya Roni telah mengaturnya.” Gumam Randy.

Sepanjang perjalanan Randy terus mengobrol ngalor ngidul tentang kegiatan Bu Nina sekarang, termasuk juga tentang Fathimah, anak perempuan satu-satunya Bu Nina yang sangat cantik dan sekarang tengah kuliah di ITB. Mereka ngobrol cukup lama sampai akhirnya Bu Nina tertidur dalam bus. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan hampir seluruh penumpang bus telah lelap tertidur. Randy pun melirik Bu Nina di sebelahnya.

“Ahh, ingin sekali kudekap tubuh mulus nya itu,” Pikirnya.

Randy pun mulai melancarkan serangannya sedikit demi sedikit. Demikian perlahan agar Bu Nina tidak menyadarinya. Ia sedikit meraba buah dada Bu Nina yang alim itu dengan perlahan sampai ia merasakan putting Bu Nina yang naik turun dengan kecepatan statis.

Tiba-tiba tubuh Bu Nina bergerak, tapi untungnya Randy bisa dengan cepat menarik tangannya hingga Bu Nina pun tertidur lagi tanpa mengetahui apa yang telah dilakukan Randy. Randy pun terlelap juga setelah itu. Waktu terus berjalan, akhirnya pukul 5 pagi rombongan madrasah itu pun tiba di pantai Sanur untuk melihat sunrise. Pukul 10 pagi Randy dan rombongan tiba di Hotel.

Sesampainya mereka di hotel, Randy dan kawan-kawan langsung melepas kepenatan dengan mandi di kolam renang. Saat mandi di kolam renang, para wanitanya, termasuk Bu Nina, pun ikut berkumpul untuk menonton dari pinggir kolam renang.

Ketika teman-temannya tengah asyik bermain, Randy pun menghampiri Bu Nina yang sedang duduk-duduk di pinggir kolam renang dengan pakaian tertutup rapat namun tetap menunjukkan keindahan tubuhnya.

“Bu, bisa minta tolong ambilkan Randy minuman dingin gak? Randy haus.”

“Ohh, iya. Tunggu sebentar ya Di,” dengan sedikit tergesa-gesa Bu Nina langsung membelikan Randy minuman ringan dan membawanya ke kolam renang. “Ini Di, minumannya.”

Randy pun langsung naik ke kolam renang dan menghampiri Bu Nina. Inilah saat yang paling ia tunggu-tunggu. Ia sengaja ingin memperlihatkan tubuhnya yang setengah telanjang dan hanya memakai celana renang tipis. Bu Nina hampir tak berkedip menatap tubuh Randy yang demikian sempurna dari atas hingga bawah. Perutnya begitu six-pack dan ketika sampai di bagian selangkangannya, Bu Nina pun hampir menjerit. Seonggok kemaluan Randy yang sedikit menyembul dari celah celana dalamnya itu begitu mengejutkan. Seumur-umur Bu Nina tak pernah melihat kemaluan lelaki selain milik suaminya. Dan itu pun begitu kecil dan jarang bisa memuaskannya. Berbeda sekali dengan yang kini sedang berada di hadapannya. Randy pura-pura tidak menyadari keadaan itu dan hanya cekikikan dalam hati melihat Bu Nina mendengus dan menahan ludah ketika melihat tubuhnya. Kemudian ia pun mengembalikan gelas minuman itu kembali kepada Bu Nina dan meninggalkan mantan gurunya yang alim itu dengan fantasi birahinya sendiri.

Malam pun tiba. Pukul 8 malam Randy pun mengetuk pintu kamar Bu Nina. Ia ketuk beberapa kali tapi tak ada yang membuka. Kemudian tepat ketika Randy hendak kembali ke kamar, Bu Nina memanggilnya. “Ada apa Di??? “Bu Nina melongokkan kepalanya ke luar. Terlihat ia mengenakan sebuah mukena berwarna putih. Ternyata dia baru akan shalat Isya’.

“Randy mau ngobrol sesuatu sama ibu, gak apa apa kan kalau Randy masuk, maaf Bu kalau Randy menggangu ibu”

“Ohhh… ya udah masuk ajah. Tapi Ibu mau shalat Isya’ dulu yah” seketika Randy masuk ke kamar gurunya yang sendirian itu, ia langsung mengunci pintu tanpa sepengatahuan Bu Nina.

Bu Nina pun langsung menghadapkan diri ke kiblat dengan beralaskan sehelai sajadah tanpa mengetahui kalau Randy sedang mengikutinya. Randy segera mendekati tubuh Bu Nina yang sedang membaca Surat Al-Fatihah dengan khusyu’ dalam hatinya. Randy merasakan penisnya telah begitu kencang, walaupun sebenarnya ia sudah tidak mengenakan celana dalam dari tadi. Ia merasakan getaran yang berbeda ketika hendak menyetubuhi wanita muslimah setengah baya yang alim itu. Dengan cekatan Randy memeluk tubuh indah Bu Nina dari belakang. Bu Nina pun sedikit tersentak dan memberontak, namun kekuatannya tentu kalah besar bila dibandingkan Randy yang perkasa.

“Apa –apaan kamu Di, Ibu kan sedang shalat,” ujar Bu Nina seperti tak menyadari bahaya yang kini mengintainya.

“Bu aku sangat ingin sekali memiliki kamu bu, tapi ibu sudah bersuami dan ibu sudah punya anak, kalau boleh memilih takdir aku ingin jadi suamimu Bu”
Langsung seketika Bu Nina kaget dan marah dengan pengakuan Randy tadi.

“Di…kamu gak boleh seperti ini sama Ibu…bagaimanapun juga Ibu ini tetap Mantan Gurumu dan harus kau hormati dan jangan mengada ngada tentang kata katamu tadi”

Randy langsung mencium pipi kiri Bu Nina yang kian berdebar-debar karena merasakan penis sang mantan murid di selangkangannya.. “Astagfirullah Di…jangan…di…”

Saat Bu Nina melontarkan kata kata itu dengan nada marah dan kesal, tanpa panjang lebar langsung Randy tetap memeluk tubuhnya dengan erat dalam keadaan berdiri, segera Randy membalikkan tubuh Bu Nina dan menciumi pipi dan bibirnya. “Di jangan Di….Ibu mohon jangan” Bu Nina hanya marah tapi dia tidak berontak seperti adegan adegan perkosaan lain. Dia hanya melarang Randy dengan kata – kata nya yang bernada marah tapi dia tak melawan bahkan tangannya diam tak berusaha mendorong tubuh Randy sedikitpun.
Setelah beberapa kali Randy menciumi pipi Bu Nina baik sebelah kanan maupun kiri, Randy pun menarik paksa mukena yang sedang dipakai Bu Nina. Ternyata di balik mukena itu Bu Nina masih memakai jilbab panjang berwarna merah muda. Randy pun beralih ke bagian dagu Bu Nina yang putih dan mulus dan menjilati bagian telinga Ibu Guru setengah baya itu dari balik jilbab merah mudanya. Randy menciumi setiap senti tubuh indah ummahat beranak dua itu dengan beringas seperti orang kesetanan.

“Stop..hentikan ini Di…kamu jangan kurang ajar sama Ibu..aaaahhh…aaaahhh…hentikan Di….aaaahhh” terdengar nada kata kata Bu Nina yang tadi seperti orang marah ternyata sekarang berubah menjadi lirih dan diiringi dengan desahan desahannya yang membuat Randy semakin bringas dan liar menciumi jilbabnya. Aroma wangi tubuh Bu Nina yang semerbak membuat penis Randy seperti ingin keluar merobek celana dalamnya sendiri. Sambil menciumi seluruh bagian tubuh Bu Nina yang bisa digapainya, Randy pun segera melepas bajunya sedikit demi sedikit hingga ia hanya mengenakan celana dalam. Bu Nina tampak hanya memejamkan mata sambil mendesah dan melarang Randy melakukan itu.

“Di…jangan….Di….aaaaahhhhh….ini perbuatan dosa Di….aaaahhhh….sekali lagi…ibu mohon………aaaaaaahhhhhhh”

Dengan sebuah hentakan, Randy pun berhasil menjatuhkan Bu Nina di atas ranjang nan empuk di hadapannya. Randy langsung beralih menciumi bagian pundak Bu Nina sambil mencoba melepaskan baju kurung yang dipakai Bu Nina. “Dasar….bajingan kamu…Di….hentikan…ibu mohon….aaaaaaaaahhhhh…..Ibu gak mau Di….ini dosa….….aaaaahhhhh….” Bu Nina terus mendesah sambil memejamkan mata. Tak lama kemudian baju kurung Bu Nina pun terjatuh dilantai. Di balik baju kurungnya, ternyata Bu Nina hanya memakai BH G-string merah, terlihat BH G string yang dipakainya seperti terlalu ketat dan kekecilan sehingga payudaranya di bagian atas seperi mau menjumbul keluar. Dengan cepat Randy pun menyosor dengan lahap pundak dan dadanya yang terlihat mulus.

Di tengah aksinya menciumi dada Bu Nina, Randy berkata pada Bu Nina “Bu aku ingin sekali ibu menjadi orang yang pertama kali mendapatkan perjakaku ini, cccccpppppccckkk….. jadi aku mohon…mmmmuuuuaaaachhhh…mmmmhhhhcccchhh….. izinkan aku menjamah tubuh ibu yang mulus ini… karena sejak SD aku menantikan kesempatan seperti ini dengan kamu Bu” Randy langsung meneruskan ciumannya ke pundak dan dada Bu Nina yang mulus.

“Tapi kamu salah Di…ibu ini hanya wanita tua berumur 38 tahun… aaaaahhhh….tak pantas…kau perlakukan ibu seperti ini….….aaaaahhhhh…. ibu tak ada bedanya dengan ibu kamu sendiri….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….hentikan hentikan Di….kamu memang biadab….….aaaaahhhhh….dasar terkutuk kamu….aaaaahhhhh….” setelah puas menciumi dada Bu Nina, Randy pun menciumi payudaranya yang masih terbungkus BH G-String berwarna merah. Saat bibir Randy menyentuh tali BH Bu Nina, ia benar benar seperti orang kesetanan dan bringas, dilahapnya dengan cepat payudara muslimah setengah baya itu hingga BH yang dipakainya basah karena air liur Randy. Kemudian sambil terus menciumi payudara Bu Nina yang terbungkus BH Randy mencoba membuka kancing BH nya yang berada dibelakang punggungnya. Akhirnya tangan Randy pun berhasil meraih kancing BH Bu Nina. Segera Randy menariknya dengan kencang hingga dengan cepat terlepaslah BH yang dipakai Bu Nina dan terjatuh begitu saja di lantai kamar hotel. Randy sangat kaget melihat ukuran payudara Bu Nina saat BH nya dibuka, ternyata sangat montok dan besar. Dulu, ketika ia tak sengaja mengintip Bu Nina yang sedang berganti pakaian, Randy mengira payudara Bu Nina ukuranya kecil serta biasa saja, tapi setelah terpampang jelas di hadapannya, Randy pun tak kenal ampun langsung melahapnya dengan bringas dan liar, bahkan seperti orang kesetanan. Randy langsung menciumi kedua payudara Bu Nina yang montok itu baik kanan ataupun kiri, seperti orang yang tak sabaran dan tergesa gesa.

“…. Aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh …. biadab kamu .aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh …. jangan …. Aaaaahhhhh …. Jangan …. Aaaaahhhhh …. jaaaaaaaaaangaaaaaannn Di” desahan Bu Nina yang lirih dilakukannya sambil mengelus elus dan memegangi kepala Randy. Sangat lama sekali Randy menciumi kedua payudara Bu Nina. Tak henti hentinya ia menciumi berulang ulang payudara Guru Agama yang telah banyak memberikan ilmu kepadanya itu.

“mmmccchhhhh…mmmmmcccchhhh,…..” terasa nikmat sekali terasa seperti dipuncak kenikmatan saat Randy berulang ulang menciumi kedua payudara Bu Nina. Setelah berulang kali Randy menciumi dan menghisap payudara Bu Nin secara bergantian baik sebelah kiri maupun kanan begitu lamanya. Bu Nina dan Randy kini terbaring di atas ranjang dengan posisi tubuh Randy diatas tubuh Bu Nina. “…. Aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh …. biadab kamu …. Aaaaahhhhh ….…. bangsat kamu aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh …. Jangan …. Aaaaahhhhh …. Jangan …. Aaaaahhhhh …. jaaaaaaaaaangaaaaaannn Di”

Setelah cukup lama Randy menciumi dan menghisap kedua payudara ummahat setengah baya itu, ia pun beralih ke perutnya. Randy menciumi perut dan pusarnya sampai menuju vaginanya yang masih terbungkus oleh CD G-String Hitam. Randy merasakan sendiri ketika menyentuh vagina Bu Nina, ternyata kemaluan suci wanita muslimah itu sudah basah sekali. Langsung saja sambil menciumi selakangannya yang wangi, Randy memelorotkan CD G-string hitam yang dipakai Bu Nina hingga terlepas dan terjatuh ke lantai. Randy pun ganti menyosor dengan lahap vaginanya. “ …. Aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh …. biadab kamu …. Aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh …. Jangan …. Aaaaahhhhh …. Jangan …. Aaaaahhhhh …. jaaaaaaaaaangaaaaaannn lakukan itu …. Aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ……. Aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh …. stop ibu gak mau berbuat dosa …. Aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….”

Tak lama kemudian Bu Nina tak lagi melarang Randy tapi dia hanya mendesah berulang kali “….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh…….aaaaah hhhh….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh…….aaaaahhhhh….….a aaaahhhhh….….aaaaahhhhh…….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh ….….aaaaahhhhh…aaaauuuuuhh……”
Setelah Randy menciumi seluruh permukaan vagina Bu Nina, dia pun beralih terus ke bawah dan terus hingga jari kaki Bu Nina. Sambil melepas CD yang ia kenakan, Randy pun menciumi betis dan kaki Bu Nina. Setelah menciumi kaki dan jari ummahat alim itu, Randy pun naik kembali ke bagian atas tubuh Bu Nina. Ia tindih lagi tubuh Bu Nina sambil menancapkan penisnya ke liang vagina mantan gurunya itu. Terlihat Bu Nina hanya bisa pasrah sambil memejamkan mata. Tak lama kemudian penis Randy pun terbenam tepat di vagina Bu Nina yang sedari tadi sudah basah sekali. Randy menggenjot tubuh Bu Nina berulang kali. “ …. Aaaaahhhhh ….…. oooohhhhh ….…. aaaaahhhhh ……. Aaaauuuu ….…. aaaaahhhhh …. Aaahhhhh ….…. oooohhhhh ….…. aaaaahhhhh ……. Aaaauuuu ….…. aaaaahhhhh …. Aaaaahhhhh ….…. oooohhhhh ….…. aaaaahhhhh ……. Aaaauuuu ….…. aaaaahhhhh” hanya desahan dan desahan yang keluar dari bibir Bu Nina sambil memejamkan kedua matanya. Ia benar-benar sedang berada di puncak kenikmatan walaupun berawal dari pemaksaan. Randy merasa bahwa ia benar-benar manusia paling bahagia di dunia waktu itu. Setelah berulang kali menggenjot tubuh Bu Nina, tak lama kemudian Randy merasakan ada yang menyembur deras dari penisnya menuju liang vagina suci milik ummahat alim beranak dua itu.

Setelah air mani itu keluar dan menuju liang vagina Bu Nina, Randy pun menggenjot tubuhnya lagi berulang kali dengan ritme yang semakin pelan, hingga air mani itu keluar berulang kali. Setelah beberapa saat kemudian Randy pun merasa lelah sekali setelah berulang kali melakukan genjotan. Terlihat pula dari wajahnya, Bu Nina tampak kelelahan. Terlihat dia memejamkan matanya dan menoleh ke arah kiri dan tak berani memandang wajah Randy. Segera Randy menarik penisnya dari vagina Bu Nina dan ia pun berbaring disamping Bu Nina sambil menciumi payudaranya. Di tengah-tengah ciumannya Randy meminta maaf pada Bu Nina ”Bu maafin aku… aku sudah berbuat dosa pada ibu…sekali lagi maaf” kemudian Randy pun mengambil selimut dan akhirnya ia pun berbaring di samping Bu Nina sambil memeluk tubuhnya yang mulus, ia menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut yang tebal. Karena udaranya sangat dingin. Dua insane yang habis berzina itu pun tidur bersama hingga pagi menjelang.

seks dengan mantan Guru

Posted in guru mesum by tantehot on March 3, 2010

Cerita ini berawal ketika aku memasuki bulan kedua kelas II di sebuah SLTP N di daerah Jateng. Sebut saja aku Bujang, aku adik dua bersaudara lahir dari keturunan Sumatera ? Jawa. Dari keisengan ku sering memakai sepatu warna putih (di SLTP ku sepatu harus warna hitam), aku sempat mau berkelahi dengan Guru BK ku gara-gara sepatu putihku hadiah ulang tahunku harus dicat warna hitam.

Kakakku adalah seorang preman di kotaku, jadi aku sedikit banyak menjadi anak yang cenderung nakal. Suatu hari aku datangi guru BK ku kerumahnya, sampai dirumah ternyata guruku sedang tidak di rumah, dan hanya istrinya yang berada di rumah. Aku katakan maksudku, minta ganti rugi atas sepatu baruku. Dengan berlinang air mata ternyata guruku sedang tertimpa musibah, orangtuanya sakit dan harus dioperasi dengan biaya banyak. Dia mau melakukan apa saja asal aku tidak minta ganti. Aku cium pipinya beberapa kali dan aku tinggalkan dia.

Dua tahun kemudian aku lulus dan melanjutkan sekolah ke SMA di Jateng. Tak disangka istri guruku yang dulu pernah aku cium, ternyata mengajar di SMA itu. Pada saat pendaftaran aku langsung dipanggil masuk ke kantor, aku tak tahu ada apa, aku hanya menurut saja.

“Masuk.. tidak usah sungkan-sungkan” katanya seraya menyilahkan aku duduk.
“Makasih..” jawabku sekenanya.
“Nanti aku tunggu di rumah jam 3 sore, kamu boleh pergi” katanya singkat.

Aku keluar ruangan dengan pikiran tak menentu, ada apa sebenarnya. Aku jadi agak takut juga. Sampai dirumahnya, aku hampir jam empat. Aku ketuk pintu dan dan saya tunggu sambil duduk di teras rumah.

“Masuk.. tidak dikunci” jawabnya dari dalam, ternyata dia sudah tahu yang datang aku.
“Kenapa terlambat, aku sudah hampir tak tahan nih!”, jawabnya sambil menyilakan aku duduk di kursi tamunya.

Aku terkejut melihat apa yang aku hadapi, ternyata dia tidak memakai pakaian bawahnya hanya memakai kaos tanpa lengan dan sudah mulai memainkan “sesuatunya” dengan vibrator/atau apa namanya aku kurang tahu. Sambil terus memasukkan dan mengeluarkan alat itu sambil terus mendesah-desah. Aku jadi bingung harus berbuat apa, baru aku mau berbalik keluar tanganku sudah dipegangnya.

“Berani keluar, aku akan berteriak” ancamnya pelan namun pasti.
“Mau ibu apa”, jawabku kaku, tak tahu harus bagaimana. Baru sekali ini aku menghadapi seorang perempuan setengah telanjang.

Belum sempat aku berpikir banyak, ditariknya tanganku menuju kamarnya. Seluruh pakaiannya dia buka, dan dalam keadaan telanjang bulat aku disuruhnya mempermainkan “barangnya”. Dengan agak takut-takut aku pegang miliknya, aku mainkan dengan jariku. “Sss.. ss.. hh” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Tak puas dengan tangaku, dia minta aku menjilatinya, aku tolak tapi dia mengancam akan berteriak. Terpaksa dengan agak sedikit perlahan aku dekatkan mukaku, terlihat “sesuatu yang aneh” di usiaku yang ke 17 tahun lebih (aku beberapa kali tidak naik kelas) aku baru sekali ini aku melihat “mm” dari dekat (karena aku termasuk orang yang acuh terhadap perempuan, aku lebih banyak mengkonsumsi obat-obatan daripada perempuan), bau tidak wajar antara enak dan tidak enak langsung tercium, aku sampai mau muntah. Belum sempat mulutku sampai di “barangnya” didorongnya kepalaku dengan dua tangannya, tak bisa mengelak mulutku langsung beradu dengan memeknya. “Sss.. Sss.. hh.” Lagi-lagi yang terdengar hanya desahnya.

“Ayo jilatin, kalau tidak awas kamu”, ancamnya lagi.
Aku hanya bisa menurutinya. Tidak puas dengan itu, dengan disertai ancaman aku disuruhnya tidur terlentang, dia bangkit, dan tahu-tahu duduk dimukaku. Dia gesek-gesekkan memeknya dimukaku dan dimulutku. Sampai beberapa lama sampai aku sulit untuk bernafas, tak sampai lima menit dia sudah mengerang tanda selesai, wajahku jadi basah semua, dan dengan bau yang tidak enak. Dia bangun aku langsung bangun, duduk dipinggir tempat tidur dan langsung muntah-muntah. Keluar semua isi diperutku, termasuk minuman yang aku minum tadi.
“Maaf, aku kurang kontrol tadi” katanya sambil memijit-mijit belakang leherku.
“Sudahlah.. aku mau ke kamar mandi dulu cuci muka”, kataku pelan sambil meninggalkannya duduk sendiri di tempat tidur. Baru sekali ini aku muntah-muntah merasakan sesuatu yang tidak enak dan asing.

Keluar dari kamar mandi, aku sudah disambutnya dengan tawanya. Manis juga pikirku, tapi ini calon guruku. Belum sempat aku berpikir jauh dia sudah memegang celanaku.
“Sudah siap..” katanya.
“Siap apa..”, kataku pelan.
“Masak tidak pernah, atau mungkin pernah menonton” katanya lagi, sambil membuka semua pakaianku.
Aku jadi malu, dan mau lari saja rasanya. Tapi dia terus main ancam.

Tak berapa lama aku sudah dalam keadaan telanjang bulat, dan dengan sigap dia sudah memegang senjataku dan siap dimasukkan dimulutnya. Dia jilat, dikulum sampai aku hanya bisa mendesah. Pelan-pelan senjataku bangkit. Baru aku tahu rasanya enak, pantas dia juga tadi minta digitukan.
“Sss ahh ss ahh” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku, sambil tanganku memegang kepalanya, agar tidak dilepaskan isapannya. Kurang dari tiga menit terasa ada yang mau keluar dari mulutku, ss..ahh, dan cret.. cret.., beberapa kali airku keluar di mulutnya.
“Baru kali ini ya, kok sebentar sudah keluar, belum digoyang”, candanya tanpa malu-malu. “Biasa untuk pertama kali, tapi nanti akan kuat juga lama kelamaan”, terangnya sambil memelukku.
“Yya..” aku hanya bisa mengangguk pelan.

Dituntunnya aku ke kamar mandi, dibersihkannya senjataku, perlahan-lahan dengan teliti. Terus kami ngobrol di kamarnya masih dalam keadaan telanjang bulat, tapi tubuh kami dibalut selimut. Tak terasa kami ketiduran, dan bangun sudah malam sekitar jam setengah sembilan. Belum sempat aku bangkit duduk, dia sudah mendekapku. Diciumnya bibirku, dimasukkannya lidahnya di mulutku, aku hanya bisa membalas walaupun agak sedikit canggung. Lama kami saling berciuman.

“Ayo hisap lagi ya..” katanya manja setelah menjauhkan bibirnya dari bibirku.
Aku langsung menjilati memeknya, ada rasa aneh dan enak yang tak bisa dilukiskan. Ternyata setelah aku terangsang, pikiran kotor, bau, jijik, dan lainnya tidak terasa. Aku hanya senang saja melakukannya. Ess.. ahh aahh, hanya itu yang terdengar.
“Gantian..”, kataku pelan setelah agak lama aku mencumbu memeknya.
Tanpa diminta lagi dia sudah memegang senjataku dan mengulumnya dengan buas. Saya pegang kepalanya, aku dorong senjataku sedalam-dalamnya masuk dimulutnya. Dia terbatuk-batuk sambil berbisik “kamu mau membalas saya ya..”. Aku hanya tersenyum.
“Ayo masukkan sayang ..” katanya manja.
“Sss ahh, sudah tidak kuat nih” pintanya lagi setelah aku gantian lagi mencumbu memeknya

Aku masukkan senjataku kedalam lobang memeknya. Enak juga ya, kok aku dari dulu tidak pernah tahu. Kugoyang Senjataku maju mundur sesuai permintaannya. Baru beberapa kali goyangan sudah ada yang mau keluar dari Senjataku”. Crret.. creet, aku keluarkan airku di dalam memeknya. Setelah beristirahat, saya goyang atau dia goyang saya malam itu beberapa kali sampai pagi, sampai lama-kelamaan aku bisa bertahan agak lama, dan dia mulai senang dengan permainanku.

Aku diterima di SMA itu tanpa ada masalah, walaupun nilaiku sedikit. Aku diterima dan diakukan sebagai anak kakanya. Dan itu pula sebabnya tidak ada yang curiga aku terlihat sering ngobrol dengan dia. Dan kebetulan dia sambil menjadi pembina pramuka. Kami jadi bebas, tidak ada yang curiga aku keluar malam dari tenda waktu kemah, ngobrol sambil dilanjutkan dengan adegan ML. Seperti malam itu..

“Ayo sayang .., lagi pengen nih” katanya padaku.
“Aku juga” jawabku sekenanya.

Aku keluar berjalan menuju sungai yang agak sedikit jauh dari tenda kami, diikuti guruku dibelakangku.
Sampai di sungai aku dudukan ibu guruku di semak-semak, sebelumnya aku sudah mencari alas dari daun pisang ditepi sungai. Aku mulai memainkan tanganku dibali seragam pramukanya. Aku remas-remas gunungnya, aku gelitik puncak gunungnya secara terus menerus, sambil terus mulut kami saling beradu, bertukar air lir dan saling berpangutan memainkan lidah kami masing-masing.

Tak puas dengan itu, saya buka seragam pramukanya, terlihat gunungnya yang begitu indahnya. Walaupun aku sudah seringkali mengulum, mencium dan mempermainkan lidahku di atas gundukan daging kenyalnya, tapi aku tidak pernah merasakan bosan. Aku gigit-gigit ujung daging kenyalnya, dia hanya bisa mendesah ss.. ahh aahh.. seperti yang biasa dia bisikan.

Aku selipkan tanganku dibawah CD nya yang ternyata dia sudah mulai basah, aku mainka tanganku disana. Aku pegang, aku usapkan seluruh telapak tanganku diatas memeknya sampai ujung jari menyentuh lubang belakangnya. Aku masukkan jari tengahku kedalam lubang memeknya. Dan dia hanya bisa mendesis, mendesah seperti ular yang sedang mencari mangsa. Aku yang tadinya merasa agak kedinginan, karena kebetulan kami kemah di atas sebuah bukit mulai agak merasakan panas ditubuhku.

“Tolong lepaskan pakaianku sayang ..”, pintaku sedikit manja sambil terus menerus memainkan tiga jari tengah ku di lubang kewanitaannya, dan dua jariku yang lainnya untuk menahan dan membuka daerah terlarangnya.
“Sss aahh aahh ah..”, jawahnya mulai tak karuan. Tangannya mulai melepaskan satu persatu pakaianku, hanya tertinggal CD nya saja. Dimasukkannya tangannya kedalam CD ku, dia remas-remas bolaku seperti biasa yang ia sukai.

Dia pegang senjataku dengan tangannya, sementara dia sudah mulai menarik kebawah CD ku dengan tangan yang lainnya. Aku bangkit aku bersandar pada sebuah pohon, aku tarik kepalanya menuju senjataku. Tanda diminta dia sudah biasa langsung bisa mengulum, menjilat-jilat batang senjataku. Hampir setengah jam aku dibuai oleh kenikmatan mulutnya di senjataku, aku tekan kepalanya terus setiap dia hendak melepaskan kulumannya.

“Sayang .. aku sudah tidak kuat nih.. ahh”, rintihnya pelan.
“Gantian dong..”, pintanya lagi.

Setelah dia berhasil melepaskan kulumannya setelah aku menumpahkan beberaa tetes air ku dimulutnya, karena aku sudah tak tahan.Saya lepaskan CD guru ku yang sudah sangat basah itu, aku mulai memainkan kedua tangaku di daerah terlarangnya. Aku buka dengan tanganku, dan saku masukkan tanganku yang satunya lagi dengan perlahan-lahan, maju mundur, maju mundur dengan teratur.

“Sss ahh..” hanya itu yang terdengar diantara sayup-sayup suara angin berdesir.
“Enak sayang .., ayo jilati dong”.
“Ayo sayang .. jilati aku dong”, pintanya lagi, setelah sekian lama di meminta tapi aku masing memainkan tanganku di memeknya.

Aku dekatkan wajahku ke memeknya dan mulai aku jilati sedikit demi sedikit. Mulai dari atas, diatas bulu-bulu lembutnya, ke bawah sampai aku merasakan lidahku menjilati sesuatu yang hangat, kenyal dan sedikit basah. Aku mainkan lidahku didalam memeknya, dia pegang kepalaku, dia tekan, sampai mukaku menyentuh semua permukaan kulit kemaluannya. Aku mainkan lidah ku teru, terus, dan terus sampai aku terdengar suara erangan yang panjang si keheningan malam.

“Aaahh, aahh, ahh!
Aku bersihkan diriku, aku pakai kembali pakaianku dan pakaiannya sudah dipakai pula. Aku berjalan bergandengan menuju kemahkami, sambil sekali-sekali bibir kami saling bertemu, dan tersenyum puas. Sebelum sampai di perkemahan..
“Ayo sayang, dimasukkan di sini..”, tiba-tiba senjataku yang masih lemas dipegangnya, aku jadi terbangun.

Dan senjataku mulai bangkit. Aku balas pegang kedua gunung kembarnya, aku selipkan tanganku dari balik bajunya.
Beberapa lama kami saling meraba, sampai akhirnya aku singkapkan roknya keatas, dan aku lepaskan CD nya kebawah. Dengan tangan berpegangan di pohon, aku goyang guruku dari belakang tanpa melepaskan celanaku. Aku goyang terus lama sekali.

“Ganti aahh, aku sudah pegal nih!, katanya.
“Yaahh “, jawabku pendek, sambil melepaskan senjataku dari lubang memeknya.

Aku duduk di bawah pohon, aku turunkan sedikit celanaku. Dia aku suruh duduk di atas pangkuanku. Aku masukkan senjataku ke dalam lubang hangatnya. Dia bergerak naik turun seirama nafasnya yang sudah tidak teratur lagi. Sampai akhirnya..

“Aku hampir keluar ..ahh”, desahnya.
“Tahan dulu, aku pingin yang lebih lama lagi..” jawabku.
“Aku tak tahan .. aahh”, balasnya lagi.
“Aaahh, crett, aahh, creett” desah kami berdua.

Aku cium bibirnya, dengan lembut dan agak lama. Kami saling tersenyum puas. Aku bali ke tendaku dan langsung ganti celana, kulihat teman-temanku sudah pada tidur semua. Aku lihat jam, astaga sudah jam 2 lebih padahal barusan kami berdua berangkat kesungai jam 9 malam. Berarti lama benar saya bermain di luar.

Perbuatanku aku lakukan sampai aku lulus dari SMA itu tanpa ada seorangpun yang tahu. Sampai akhirnya aku lulus dan sebagai tanda perpisahan kami, aku diajak dia pergi keluar kota selama tiga hari. Dan aku lewatkan waktu itu dengan terus memuaskan diri kami masing-masing.

Setelah sekian lama berpisah, lima tahun sudah aku tidak bertemu. Kami kebetulan bertemu di sebuah restoran. Sambil menangis dia peluk aku, aku cium keningnya, terlihat orang-orang disekelilingku heran memandang perbuatan kami berdua, karena terlihat seperti sepasang kekasih tetapi dilihat wajah kami jauh berbeda (karena perbedaan usia).

Dia cerita bahwa suami dan dua anak nya meninggal karena kecelakaan, beberapa tahun setelah aku lulus sekolah. Dan suaminya sempat minta maaf dan berpesan bahwa dia juga sudah memaafkan perbuatanku dan dia, sebetulnya suaminya tahu tapi dia diam saja tidak pernah mengusik kami berdua. Dan baru saat itu pula, aku tahu bahwa suaminya suka melakukan ML dengan kasar dan sering sambil memukulnya. Dan dia memilikiku sebagai pelampiasan nafsunya tanpa ada rasa sakit di badannya.

Sejak saat itu aku dan dia tinggal satu rumah dengan istriku, tanpa istriku tahu keadaan yang sebenarnya. Istriku adalah teman sekelasku dulu, jadi dia pikir dia adalah tanteku. Kami hidup bahagia tanpa harus mengulang perbuatan kami dulu yang sering ML.

Ibu Dona, Guru Doyan Seks

Posted in guru mesum by tantehot on March 3, 2010

perkenalkan namaku dona, 26 tahun, masih single, aku bekerja sebagai seorang guru SD di Jakarta. Hobiku adalah masturbasi sambil menghayalkan pria pujaanku, fantasi-fantasi liar sering kali tidak dapat kubendung, apalagi semenjak aku jomblo hampir setahun ini.
Dan beginilah, belakangan ini jika sedang horny aku tidak kenal tempat untuk memuaskan gejolak birahiku. Balik ke cerita tadi…
Sangkin nikmatnya masturbasi di toilet sekolah, aku sampai tidak menyadari kalau pintu toilet meski kututup tapi tidak kukunci. Aku semakin tidak peduli, yang kutahu aku harus memuaskan birahiku yang sedang terbakar, kucoba menahan desahanku, meski terkadang terlepas juga desisan desisan kecil dari bibir tipisku.
“sshh..emhhh”, desisan kecil sesekali kelaur dari bibir tipisku.
Aku membayangkan bercinta dengan pak Oki, guru olah raga baru disekolah tempatku bekerja, pak Oki sungguh tampan dan tubuhnya yang sangat kekar, tadi siang aku memperhatikannya yang sedang memberi petunjuk cara meregangkan otot kepada murid kelas 6 SD. ototnya begitu keakar, belum lagi ada tonjolan yang menggelembung di antara pahanya. Terus terbayang-bayang, aku jadi ga kaut lagi menahan birahiku sampai akhirnya berujung di toilet sekolah ini ketika jam pelajaran berakhir dan sekolah sudah sepi. Aku membayangkan bercinta dengan pak Oki di toilet ini, dia memompa k*ntolnya yang besar di vaginaku dari arah belakang, tubuhnya mendorong tubuhku sehingga aku terpaksa menahan tubuhku di tembok toilet dan sedikit menungging.
Aku mempraktekkannya seolah-olah semuanya nyata, satu tanganku bertopang di dinding dan yang lain membelai klitorisku dari depan.
‘uuuh pak oki’, desisku pelan. aku terus mengejar kenikmatan, keringatku mulai keluar dari atas keningku. Tidak lama aku merasa hampir tiba di ujung kenikmatan itu, namun tiba-tiba,
‘braaak’, pintu toilet tiba tiba terbuka.
‘bu dona’, kata orang yang berdiri di depan pintu toilet dengan mata yang tidak berkedip sedikitpun melihatku. Aku tersentak kaget,
‘pak parman ehhhh…’, kataku kaget ketika melihat pak parman, cleaning service sekolah yang umurnya sekitar 40 tahun. Sangkin kagetnya dan tidak tau berbuat apa aku jongkok merapatkan kakiku sangkin kagetnya, namun tanganku masih berada diantara selangkanganku, aku begitu kaget sampai luapa menarik tanganku.
‘pak parmaan keluar’, kataku dengan suara pelan. Wajahku pucat sangkin takut dan malunya. Kurang ajar benar dia, bukannya keluar tapi malah cepat-cepat masuk dan menutup pintu kamar toilet dan menguncinya.
‘ngapain pak… keluar,’ perintahku dengan tetap berjongkok sambil merapikan rok ku ke bawah yang tadinya tersingkap sampai ke pinggul.
‘Bu dona’, kata parman sambil mendekatiku dan mendekap tubuhku. Aku bertambah kaget, tapi aku tdak berani berteriak, aku takut ada orang yang mengetahui kalau aku masturbasi di toilet sekolah.
‘jangaan pak’, kataku berusaha melepaskan dekapannya, kugeser tubuhku untuk melepaskan diri dari dekapannya, namun dia tetap mendekapku sampai aku menabrak dinding.
‘jangan paak’, kataku takut, dia tidak mendengarkanku, bahkan dia mendekatkan wajahnya dan menciumi leherku,
‘jangaaan’, kataku lagi.
Melihat parman yang begitu beringas dengan nafas mendengus dengaus menciumi leherku dan tangannya mulai meraba raba buah dadaku. Aku menyadari kalau aku terjebak, aku berusaha melawan, dengan sekuat tenaga aku dorong tubuhnya, berhasil, dia terjatuh di lantai toilet.
Aku langsung mengambil kesempatan, berdiri ke arah pintu, namun ketika aku mencoba membuka grendel pintu toilet. Tanganku tertahan oleh tangan parman yang kekar,
‘lepaskan’, kataku, namun parman yang sudah kesetanan itu tidak mendengarkanku, dia malah memutar tangan kananku ke belakang tubuhku dengan paksa, tangannya yang lain menahan tangan kiriku didinding. Aku terjebak, tenaganya kuat sekali, tubuhku seperti terkunci dan tidak bisa bergerak,
‘pak parmman jangan…sakit..lepaskan’, kataku memohon dengan suara memelas.
‘bu dona… biarkan aku…’, katanya didekat telingaku, dengusan nafasnya sampai terasa menerpa telingaku.
“ahhh lepaskan’, aku memohon lagi begitu mengetahui tubuh kekarnya menekan tubuhku kedinding. Aku sangat takut, ketika merasa ada benda yang keras kenyal menabrak bokongku.
‘ahh k*ntolnya udah tegang, dia akan memperkosaku’, jerit batinku
Aku semakin memberontak berusaha melepaskan kuncian tangannya yang menahan kedua tanganku.
’sebaiknya bu dona jangan berisik, nanti ada orang yag dengar, biarlah saya dipukuli orang tetapi saya akan cerita ke semua orang kalau ibu dona masturbasi di kamar mandi’, katanya mengancam, aku mengurangi perlawananku, ancamannya begitu mengena. Apalagi di sekolah aku dikenal sebagai wanita anggun yang berkarisma. Aku menghentikan perlawananku…berpikir sejenak.
Kesempatan itu tidak disia siakannya, tangan kananku diletakkan keatas merapat didinding bersatu dengan tangan kiriku, dengan tangan kirinya dia menahan kedua tanganku.
‘jangan paak, kumohhhon jangaan’, aku memelas kepadanya. Tapi sia-sia, tangan kanannya sudah bebas meraba raba buah dadaku, dia memeras buah dadaku keras sekali. Ingin rasanya menangis tetapi aku takut malah ada yang dengar.
“aahh bu dona..toked bu dona gede banget emmhh’, kata-kata kotor yang memuji keindahan tubuhku keluar dari mulutnya.Kurang puas meraba buah dadaku yang masih ditutupi kemeja, dia menarik kemejaku keatas melepaskan dari dalam rokku. Tangannya yang kasar mulai terasa meraba raba perutku,
‘ammpuun pak lepaskan’, kucoba lagi memohon ketika dia mulai memeras buah dadaku.
‘emmh bu dona, gede banget toket bu dona”, katanya lagi dengan berbisik dari belakang, dengusan nafasnya yang berderu menandakan dia sangat bernafsu. Dan aku bisa merasakan penisnya sudah sangat keras sekali menabrak nabrak pantatku. Ini semua menandakan dia benar benar sudah sangat ingin menyetubuhiku.
‘Bu dona ijinkan saya ngent*tin bu dona’, bisiknya pelan sambil menarik rokku keatas. Aku kaget mendengarnya, tetapi tenagaku tidak cukup kuat melepaskan kuncian tangannya.
‘Pak..jangan jangan kasihani aku’, kataku memelas. Sepertinya apapun yang kukatakan tidak dapat membendung nafsu setannya, sejenak tidak kurasakan tangan kanannya meraba raba tubuhku.
Penasaran apa yang dilakukannya. aku menoleh ke belakang dan alangkah kagetnya..
‘oooh jangan pak’, aku panik ketika melihat ke belakang dia mengeluarkan k*ntolnya, meski tidak begitu jelas aku bisa melihat penisnya yang besar dan hitam legam sudah keluar dari sarangnya. Belum hilang rasa kagetku, Parman menekan tubuhku merapat kedinding, aku merasakan benda kenyal dan keras mengesek dan menabrak pantatku.
‘Aduuh pantat bu dona montok banget’, katanya meremas remas pantatku. Aku terkaget, aku baru teringat jika ketika masturbasi tadi aku melepas celana dalamku dan celana dalamku masih tergantung di pintu toilet.
‘Gawat neh’, pekikku dalam hati mengetahui bokongku tidak dibaluti kain sedikitpun. Pasti dia dengan mudah mencari sasaran tembaknya apa lagi vaginaku udah mengeluarkan cairan karena masturbasi tadi, aku menjadi panik kembali, aku takut membayangkannya. Kucoba lagi memberontak, tapi tetap sia sia.
Aku pasrah, rasanya tidak mungkin lepas, kurasakan ada benda kenyal sedang menggesek gesek belahan vaginaku yang licin seperti mencari cari sasaran. Akhirnya benda itu berhenti tepat di mulut lubang vaginaku setelah mendapatkan sasaran tembak, k*ntol parman sudah berada tepat di depan mulut vaginaku, aku sungguh tidak berdaya.
‘Pak parman ampun pak’, kataku memohon lagi menyadari dalam hitungan detik k*ntolnya akan segera masuk kedalam tubuhku.
‘Bu dona udah lama saya pengen giniin bu dona, bu dona seksi banget’, katanya, dan tiba tiba kurasakan k*ntolnya mulai masuk, aku panik mencoba melawan sengan sisa sisa harapanku, bukannya terlepas tapi malah karena gerakan tubuhku k*ntol itu malah terbenam masuk ke dalam lubang vaginaku,
‘aaaah tidaaak’, pekikku dalam hati ketika kurasakan k*ntolnya terasa terbenam memenuhi vaginaku. Aku menarik nafas, ingin rasanya menangis.
Sungguh sial, vaginaku yang sudah basah ketika aku masturbasi tadi malah memudahkan batang itu masuk, tetapi kupikir itu lebih baik, jika tidak mungkin vaginaku bisa lecet karena ada benda yang memaksa masuk, tapi berkat cairan yang sebelumnya memang udah membanjiri vaginaku membuat k*ntol parman yang besar itu pun masuk perlahan menggesek dinding lubang vaginaku perlahan.
‘emmmh bu dona, vagina bu dona enak banget, ooohhh’, desahnya didekat telingaku ketika k*ntolnya dibenamkan sedalam dalam mungkin dan terasa menyentuh rahimku,
‘Ya ampuuun panjang banget k*ntol laki laki ini, ampuuun’, pekikku dalam hati. Aku berharap k*ntol itu udah mentok karena terasa sangat keras menabrak rahimku dan terasa sedikit perih karena jujur aja belum pernah ada benda sebesar itu masuk ke vaginaku. Ketika batangan itu amblas, aku terdiam, antara bingung, takut, takjub, nikmat dan kaget. Semuanya berkecamuk dikepalaku… aku benar benar terdiam, tidak bergerak.
Aku pasrah, tidak mengeluarkan sepatah katapun, tidak kusangka khyalanku bercinta di toilet sekolah, dan disetubuhi dari belakang kesampean juga, tetapi bedanya bukan dengan pak oki dan aku tidak menginginkan ini terjadi. Tapi kenyataannya, laki laki yang sedang mendesah desah dibelakangku, yang sedang membenamkan batangannya di lubang surgaku yang berharga adalah pegawai kebersihan alias cleaning service di sekolah kami.
Kenyataan yang harus kuterima, parman sedang menikmati vaginaku, menikmati memompa penisnya keluar masuk di lubang kemaluanku.
‘oooh bu dona…ohhh enaknya’, desah parman ga karuan berkali kali
‘emmmh’, aku mendesis kecil, meski aku tidak suka tapi tiba-tiba aku merasakan rasa nikmat meski tersamar oleh rasa takutku. Parman terus mengocok k*ntolnya tanpa henti, begitu dalam melesak masuk di lubang vaginaku. Kedua tanganku masih ditahan oleh tangannya yang kekar di dinding toilet.
‘oooh ya ampppuuun k*ntolnya teraasa banget’, teriakku dalam hati. Ketika aku mulai tenang, aku menyadari kalau k*ntol parman memang besar dan keras sekali, gesekan dan tusukan k*ntolnya begitu mantap memenuhi lubang vaginaku. Terasa banget ada benda yang mengganjal selangkangku, mulai menebarkan rasa nikmat yang menjalar diseluruh tubuhku.
Diam diam aku mulai menikmati diperkosa pria ini, tiap kali dia menggerakkan batang k*ntolnya, darahku berdesir, sungguh luar biasa nikmat yang kudapat. Ketika dia menancapkan penisnya kembali ke dalam liangku, aku mendesis pelan, kucoba tidak mengeluarkan suara, aku terlalu sombong untuk mengakui kalau batangan itu sungguh memberikan kenikmatan padaku, tetapi tetap saja desisan kecil keluar dari bibirku.
‘mmmh mmmmh’, desisku pelan.
‘enakkan bu?, katanya tiba tiba.
Ternyata dia mengetahui kalau aku mulai menikmati tusukan k*ntolnya. Aku terdiam malu, tidak berani berkomentar, kalau kubilang tidak atau memaki makinya, dia pasti tahu aku bohong karena vaginaku sudah mengeluarkan banyak cairan yang menandakan aku juga terangsang dan menikmati enjotan k*ntolnya. Aku menundukkan kepalaku dan mencoba menghindari ciuman bibirnya yang mengecup pipi kananku.
‘Tunggingin dikit bu dona’, katanya sambil menarik pantatku keatas.
‘Kurang ajaaar… berani beraninya dia malah menyuruhku menungging’, umpatku dalam hati.
Tapi aku tidak punya pilihan selain menuntaskan birahinya secepat mungkin, dan berharap agar semuanya secepat mungkin berakhir. Aku ikuti saja kemauannya dengan menunggingkan sedikit pantatku.
‘emmh pantat bo dona memang montok banget, ga salah apa yang aku khayalin selama ini’, katanya sambil meremas remas bokongku gemas.
‘Gila, ternyata aku sudah lama jadi fantasi laki laki ini’, pikirku dalam hati.
Merasa posisiku sudah siap, sambil tangan kirinya menahan pinggulku, dia kembali menggerakkan k*ntolnya kembali.
‘emmh pak pelan’, kataku ketika kurasakan penetrasi k*ntolnya terasa lebih dalam dari sebelumnya,mungkin karena aku menunggingkan pantatku sehingga posisi vaginaku benar-benar bebas hambatan.
Parman tidak memperlambat kocokannya, dia malah mempercepat, aku mulai mendesah-desah pelan masih menjaga sikapku,
‘emmh emmmh’, desisku pelan merasakan gesekan batangannya di lubang vaginaku.
Melihat tubuhku yang terdorong dorong kedepan, parman sepertinya sengaja melepaskan kedua tanganku sehingga aku dapat menahan tekanan tubuhnya, dengan kedua tanganku bertopang pada tembok.
‘emmmh gila seret banget’, erangnya. Kini kedua-tangannya meremas remas bokongku yang bulat padat sambil tidak berhenti mengocok k*ntolnya.
‘ooh bu oooh’, parman semakin keras mendesah, aku jadi takut kalau-kalau ada orang yang mendengar desahannya itu.
“pak parman..ja..jangan berisik pak..”, kataku memohon takut desahannya didengar orang.
‘I..i..iya bu emhh abis enak banget’, katanya pelan dengan nafas menderu.
Kocokan k*ntolnya terasa semakin cepat. Kurang puas meremas-remas bokongku, dia menguakkan belahan pantatku. dan kurasakan satu jarinya membelai anusku. Kontan aja aku menggeliat, pantatku bergoyang ke kanan ke kiri karena kegelian.
‘oooh pak parman..oooh’, aku bukan lagi mendesis tetapi desahan mulai keluar dari bibirku, rasa nikmat yang tercipta dari kocokan k*ntol parman ditambai gesekan jarinya yang membelai anusku seperti racikan yang pas membuat aku lupa diri, dan membuatku tidak dapat membendung desahanku. Hebat sekali, rasanya aku mulai benar benar menikmati semua ini, tubuhku terasa sangat geli, kenikmatan rasanya menyebar diseluruh tubuhku.
‘oooh ahhh’, aku semankin menggila desahanku bertambah keras saja, parman bukan saja hanya membelai anusku dengan jarinya tetapi memasukkan satu jarinya ke anusku dan menusuk nusuk jarinya ke anusku, refleks pantatku semakin kutungingin, tiap kali dia menarik k*ntolnya dia membalasnya dengan menusukkan jarinya ke anusku. Jujur saja terlintas dibenakku untuk melakukan anal sex dengan pak parman, seperti yang dulu pernah kulakuan dengan pacarku.
Parman semakin mengerang tak karuan, tidak kuhiraukan lagi apa yang dikatakan parman, rasanya aku sudah mau orgasme.
’saya mau keluar..ahh bu dona’, kudengar samar samar erangannya, namun tidak kupedulikan karena aku juga merasa sudah mau orgasme.
‘ooh emmmh oooh’ desahku lebih keras, kurapatkan tubuhku kedinding, parman mengikuti tubuhku dan menekan keras keras k*ntolnya kedalam vaginaku, bahkan dia menusuk jarinya sampai amblas didalam anusku
‘ahhhh setaaan kau parmaaaaan’, lirihku panjang, aku orgasme, aku tidak dapat menahannya, sungguh luar biasa aku bisa orgasme ketika diperkosa.
Kutelan air liurku menikmati sisa kenikmatan, masih kurasakan penis parman memenuhi liangku, tetapi tidak kurasakan lagi jari parman di anusku, kedua tangannya memegang pantatku dan memompa k*ntolnya dengan ganas.
‘oooh bu dona oooh’, tiba tiba parman mengerang keras dan menekan tubuhku keras, aku kaget menyadari dia mau orgasme, tapi terlambat, diringi erangannya, k*ntol parman sudah menyemburkan sperma hangat menyirahi rahimku. Berkali kali dia mengehentakkan penisnya dalam-dalam membuat tubuhku terdorong ke tembok.
‘ooooh emmmh’, entah kenapa aku ikut menikmati sensasi ketika parman orgasme di liangku, denyutan-denyutan kecil batang k*ntolnya terasa di sinding lubang vaginaku ketika cairan hangat spermanya berhamburan keluar menyirami lubangku.
‘Ahhh apa yang kulakukan? Parman orgasme di vaginaku’, pekikku dalam hati. Aku tersadar kembali, kurapatkan tubuhku kedinding dan menarik nafasku, aku teringat kalau aku memang sudah mau haid, aku hanya bisa berharap spermanya tidak membuahi telur dirahimku.
‘ahh bu dona emmh’, dia mencoba mencium pipiku tapi kudorong dengan mata melotot. Melihatku protes, dia segera merapikan pakaiannya tanpa membersihkan k*ntolnya yang masih dilumuri cairan vaginaku.
‘Cepat keluar pak’, kataku dengan suara lantang sambil merapikan posisi rokku. Parman tanpa berkata apa apa langsung keluar dan kukunci pintu toilet. Aku langsung membersihkan kemaluanku dari cairanku sendiri dan sperma parman yang mengalir keluar,
‘gila..banyak banget spermanya’, umpatku dalam hati.
Aku mengenakan celana dalam dan merapikan baju yang kukenakan. Aku mengendap endap keluar toilet dengan hati berdebar, takut ada orang yang mengetahui apa yang terjadi tadi di toilet. Suasana sekitar sekolah sepi, memang saat itu sudah hampir jam 4 sore. Dengan hati berdebar aku memasuki ruangan guru, kulihat kepala sekolah dan 2 orang guru belum pulang mereka lagi sibuk dengan urusan masing masing. Aku sedikit bernafas lega meski perasaan kotor masih ada dipikiranku. Dan sore itu aku pulang kerumah dengan perasaan yang tidak menentu antara malu, takjub dan takut.

ngentot guru biologi jilbab

Posted in guru mesum by tantehot on March 3, 2010

Hari itu aku berangkat mengajar pagi-pagi ke sekolah. Habis mau bagaimana lagi, tempat tinggalku agak jauh dari tempatku mengajar. O,ya aku mengajar di SMA negeri di kota X. Sekolah ini termasuk unggulan, namun bukan dalam hal akademisnya melainkan dalam hal ekskulnya. Ssetiap pulang para siswa terlebih dahulu mengikuti ekskul hingga sore hari. Karena termasuk sekolah baru, guru yang mengajar umumnya masih muda. Mereka rata-rata tidak ada yang berumur lebih dari 30 tahun. Sedangkan aku sendiri termasuk guru senior karena yang pertama masuk sejak pertama kali sekolah ini didirikan (disamping umurku juga yang mendekati 40-an).
Jam 6 pagi aku sudah berada di ruangan guru. Disitu baru nampak beberapa pengajar yang sudah hadir bersamaan. Diantara mereka ada yang amat menarik perhatianku dari semenjak ia pertama kali bergabung bersama staf pengajar di sekolah ini. Namanya Firdhayanti biasa dipanggil oleh lingkungan sekolah Bu Firdha dan dia mengajar biologi. Selain mengajar biologi, dia juga menjadi pengurus UKS maklum sekolah kami masih baru 2 tahun berdiri jadinya minim SDM. Bagiku dia termasuk kategori perempuan yang manis, umurnya terpaut 15 tahun lebih muda dariku. Tingginya dibawah beberapa senti dariku dengan berat badan yang ideal. Perempuan itu selalu berpenampilan rapi dengan secarik kain jilbab menghiasi kepalanya. Dia baru mulai mengajar sekitar 2 bulan yang lalu. Pagi itu Firdha datang memakai baju lengan panjang berwarna biru muda dipadu dengan rok panjang sewarna pula sedangkan jilbab yang dikenakanannya berwarna putih bermotifkan bunga, amat serasi. Sejujurnya, yang membuat aku begitu tertarik padanya diluar wajahnya yang manis menggemaskan itu tidak lain karena bentuk tubuhnya yang aduhai mengundang birahiku. Pakaian yang dikenakannya selalu terlihat agak ketat entah disengaja atau tidak. Dan walaupun jilbab yang dikenakannya panjang selengan namun ukuran payudaranya yang montok selalu tersembul dari balik baju dan jilbabnya. Belum lagi kalau memperhatikan saat ia berjalan, pantatnya yang montok itu selalu bergoyang naik turun membuat selalu tidak konsen. Akibat sering membayangkan Firdha jadinya aku sering berfantasi sedang menyetubuhinya dalam keadaan dia telanjang namun tetap mengenakan jilbabnya. Tentu merupakan hal yang menarik apabila wanita berjilbab namun tidak berbusana. Selama ini aku hanya bisa mengkhayal Firdha yang berjilbab telanjang di depanku. Memikirkan hal itu aku jadi sering merasa horny. Sampai-sampai aku bertekad untuk bisa melancarkan hasrat terpendam yang begitu menyiksa ini.

Pukul 1 siang dan bel pulang berbunyi dan aku masih berada di lingkungan sekolah ini sampai sore karena memang hari itu aku punya jadwal untuk mengajar les tambahan untuk anak kelas 2. mulai jam 2 siang hingga 4 sore.
Tak terasa sudah jam 4 sore. Semua murid les pulang, sedangkan aku masih ada di sekolah untuk membereskan perlengkapan mengajarku. Sore hari itu sekolah yang tadinya ramai kini menjadi sepi.
Aku berjalan menuju ruang guru untuk beres-beres pulang dan kulihat nampak tas kepunyaan Firdha masih ada di ruangan. Nampaknya guru lainnya sudah pulang sedangkan dia masih di sekolah. Aku penasaran mencari tahu keberadaan perempuan cantik itu . Tapi sebelumnya aku ingin sekali cuci muka melepas kepenatan selama mengajar tadi. Segera aku menuju kamar mandi dekat ruang guru. Di sana hanya ada 2 kamar mandi satu untuk pria satu untuk wanita. Namun dindingnya tidak membatasi dengan sempurna, ada sekitar 30 cm celah di atas dinding yang membatasi kamar mandi itu.
Perlahan kubuka pintu kamar mandi khusus guru pria dan belum lagi kututup pintunya aku mendengar suara desahan pelan dari kamar mandi sebelah. Terkesima dengan suara yang aku dengar, segera kuberjingkat-jingkat menaiki bak mandi untuk mengintip ke kamar mandi sebelah. Saat mengintip aku terkejut bukan kepalang karena ternyata di sana kulihat Firdha, guru berjilbab yang mempunyai wajah manis nan menggemaskan itu sedang berjongkok tanpa mengenakan rok panjangnya. Terlihat roknya berada di gantungan kamar mandi. Saat itu dia memandangi gambar di ponselnya. Aku menduga dia tengah menonton blue film, karena terlihat dia tidak bias mengendalikan diri dan menggosok-gosok vaginanya. Tak kusangka walaupun berjilbab, Firdha terlihat sangat birahi. Kuabadikan masturbasi guru berjilbab tersebut dalam ponsel kameraku. Firdha tidak sampai mengerang, mungkin dia takut ketahuan apabila terdengar orang lain. Melihat ia sedang bermasturbasi membuat gairah birahi mulai menguasai pikiranku. Tak dinyana, kesempatan untuk melampiaskan hasratku padanya telah muncul dengan sendirinya.
Kira-kira 15 menit setelah Firdha guru biologi berjilbab yang “alim” itu baru keluar dari kamar mandi. Sekali lagi kulihat-lihat rekaman video dan foto hasil jepretanku tadi. Kulihat seeorang wanita manis berjilbab dengan tangan yang sedang asyik memainkan jemarinya di vaginanya. Kakinya terlihat putih dan mulus sekali. Ini menjadikan birahiku semakin meluap-luap. Segera aku bergegas menuju ruangan guru seraya menghampirinya yang sedang duduk. Kemudian dengan tanpa basa-basi kuelus-elus kepalanya yang berjilbab putih dengan motif bunganya. Dengan gerak refleks guru berjilbab itu terlompat dari duduknya.
“Astaga! Kurang ajar! Apaan sih maksud pak Dino!”, hardik Firdha yang terkaget-kaget dengan kelakuanku terhadapnya tadi dengan wajah memerah karena marah.
Tanpa banyak omong kutunjukkan fotonya saat bermasturbasi tadi, kulihat dia sangat shock.
“Dengar sayang, kalo kamu sampai berani menolak melayaniku, foto dan video ini akan kusebar luaskan”, ancamku seraya mendekatinya lalu mengelus-elus jilbabnya.
Dia hanya bisa terdiam tanpa kata-kata. Sekilas kemudian kujambak jilbabnya agar dia mengikutiku menuju ruang UKS. Sesampainya di sana pintu kukunci.
“Firdha meskipun kamu pakai jilbab ternyata libidonya tinggi juga yah?”, kataku sembari tersenyum penuh kemenangan.
Guru cantik berjilbab itu hanya bisa diam tertunduk sambil duduk di kursi. Air matanya hampir keluar. Kudekati ia seraya menjamah dan mengelus kepalanya yang berjilbab. “Sudahlah sayang kamu tidak usah banyak tingkah. Yang penting kamu tinggal ikut saja apa mauku semuanya pasti beres. Yakinlah kamu akan segera tahu apa bedanya main sendirian dengan main berpasangan”, ucapku lagi seraya menurunkan ritsluiting celanaku. Melihat hal itu wajah Firdha semakin tertunduk. Aku hanya bisa tertawa kecil melihat ia serasa tidak berdaya.
Setelah celanaku melorot seluruhnya kebawah segera kuperintah Firdha untuk menurunkan celana dalamku seraya memintanya untuk mulai mengoral penisku. Mulanya ia berontak namun karena ancamanku yang akan menyebarkan gambar dan video yang memalukan itu akhirnya dengan sangat terpaksa dia menurutiku karena takut gambarnya tersebar. Dari tempatnya duduk, sambil berdiri kuusap-usap kepalanya yang berjilbab itu saat mulut Firdha perlahan mulai memainkan penisku. Air matanya terlihat menetes membasahi jilbabnya. Namun aku hanya tersenyum lebar penuh kemenangan sambil mengusap-usap jilbabnya. “Sshh…mmmhh…ennak sekallii sayaangg..”, desahku saat penisku keluar masuk mulutnya. “Mmmh…slurp…cupp..”, desah suara dan bunyi yang dari mulut guru berjilbab itu menahan birahi yang nampaknya mulai merasuki dirinya. Ya, sepertinya ia mulai terangsang karena saat ia sedang mengoralku tanganku yang satu lagi asik meremas-remas payudara montok miliknya dari luar busananya.
Sekitar 10 menit kemudian kurasakan gejolak yang tidak tertahankan di ujung penisku. Nampaknya aku tak mampu lagi menahan lebih lama dan, “Croot…croott”, spermaku keluar dengan deras. Karena kaget Firdha melepas hisapannya sehingga spermaku tidak hanya menodai wajah manisnya namun juga jilbabnya. Kulihat jilbabnya yang bermotif bunga kini bertambah dengan bercak-bercak spermaku. Namun aku belum puas. Kuperintahkan dia melepas semua bajunya namun tetap mamakai jilbabnya. Dan aku juga segera melepas bajuku.
Fantasiku melihat Firdha yang berjilbab namun tidak berbusana akhirnya terpenuhi” kataku dalam hati.
Kulihat dugaanku tidak salah, Firdha terlihat menantang walau telanjang tanpa melepas jilbabnya. Dadanya montok seolah minta untuk diemut. Segera kuraih dada kanannya dan kukulum dengan rakus.
“Ohh…ah..ah…ah..”, walau kupaksa ternyata Firdha terdengar amat menikmatinya. Kulihat wajahnya di balik jilbab ketika sedang horny, hal itu segera membuat penisku kembali tegang. Lalu kubaringkan Firdha di ranjang yang berada dalam ruangan UKS dan kuserbu mulut guru berjilbab itu dengan nafsunya. Sembari menciuminya tangan kananku meremas buah dada montok miliknya itu sedangkan tanganku yang kiri mulai mengelus dan memainkan vaginanya. Sekitar 10 menit kulakukan hal itu. Kemudian kupandangi wajahnya yang cantik masih terbalut jilbab nampak sedang terangsang karena ulahku.
Terasa jemariku yang bermain di vaginanya mulai kebasahan akibat cairan kewanitaan yang keluar dari dalam. “Hmm…nampaknya dia benar-benar sudah terangsang” ujarku dalam hati. Sejurus kemudian kubalik tubuhnya seraya menunggingkan bokongnya yang sekal itu. Lalu kulebarkan kedua paha putih mulus guru berjilbab itu. Sembari mencengkeram pantatnya dengan tangan kananku, tangan kiriku membimbing penisku menyodok perlahan ke dalam belahan vagina Firdha. “Ouhh…”, desahnya dengan tubuh bergetar kala kupenetrasi liang surgawi miliknya. Perlahan tapi pasti penisku masuk sesenti demi sesenti dan rasanya sempit sekali. Dan akhirnya setelah berjuang beberapa menit penisku bisa menembus dalam-dalam sampai menyentuh dinding rahim miliknya. “UUhhhh..”, hela nafasku sembari melirik kebawah. Kulihat batang penisku tidak seluruhnya masuk tersisa sesenti. Dan yang tidak kusangka-sangka ternyata dari situ tidak terlihat adanya darah tanda keperawanan. “Hmm…Sepertinya Firdha sudah tidak lagi perawan”, ujar batinku namun tidak kupedulikan karena yang penting sekarang menuntaskan birahi yang selama ini kupendam padanya habis-habisan. Perlahan kugenjot tubuh sintal guru berjilbab ini seraya kedua tanganku mencengkram bongkahan pantatnya yang montok. Seperti joki yang memacu kuda. “Ohhh…nikmat sekali milikmu sayang…”, racauku seraya menggenjot penisku keluar masuk. “Ouuhhh…uuuhh…ahhhh…ppakkk…dinnoo…”, balasnya mendesah penuh nikmat. Dari belakang dapat kulihat jelas kedua tangannya meremas-remas kasur menahan nikmat. Sedangkan kepalanya yang terbungkus jilbab menggeleng ke kanan dan ke kiri dengan wajahnya yang cantik nampak seperti terbuai oleh nikmatnya sodokanku dari belakang. “Plak…plakk…”, bunyi selangkanganku beradu dengan pantatnya yang sekal ini.
Sekitar 15 menit dapat kurasakan penisku sudah tidak dapt lagi menahan gejolak sperma yang akan keluar.
“Sayyanggh…akkkuuu…keluarr…nnih…!”, seruku yang akan klimaks. “Akkhh…ppakk…Dinn…”, sahut Firdha dengan wajah mendongak keatas yang ternyata juga akan mencapai puncak orgasmenya. “Ooohhh…”, desahku panjang saat kubenamkan penisku dalam-dalam bersamaan dengan keluarnya spermaku kedalam vaginanya. Setelah keluar semua. kuambil rok panjang biru milik guru jilbab ini untuk membersihkan penisku dan vaginanya dari cairan yang keluar baik dari milik kami berdua.
Setelah aku merasa kembali mendapatkan tenaga menggenjot Firdha, kuminta dia untuk berbaring telentang. Tanpa membuang waktu segera kuaduk-aduk vaginanya. Dia terlihat sangat menikmati permainanku ini. Puas dengan posisi itu, gantian aku yang telentang, kemudian kuminta dia menggenjot penisku dari atas. Jepitan vaginanya terasa nikmat sekali. Genjotannya yang liar membuatku tidak bisa bertahan lama. Tujuh menit kemudian aku memuncratkan spermaku di lubang kenikmatan Firdha. Terlihat wajahnya yang manis menunjukkan ekspresi kepuasan.

Sehabis itu kami ngobrol sebentar sambil memakai pakaian kami kembali. Dan dari situ muncul pengakuan kalau dulu Firdha pernah nge-seks dengan pacarnya sebelum pakai jilbab. Sebelum berpisah aku mendapatkan kesepakatan dengan guru berjilbab ini apabila aku berjanji tidak akan pernah menyebarkan foto dan video yang kuambil di kamar mandi tadi, dia bersedia berhubungan seks denganku lagi. Tentunya lain kali dengan menggunakan pengaman! Setelah memeluk dan melumat bibirnya yang manis itu kami segera keluar sekolah karena takut ketahuan orang lain.
Tak terasa hari hampir gelap kulihat Firdha segera menuju tempat parkir dan menutupi jilbabnya yang penuh sperma dengan helm sepeda motor, mungkin dia malu bila ketahuan ada sperma di jilbabnya. Akupun segera pulang dengan senyum kepuasan di wajah karena kutahu, mulai besok aku akan menjalani hari dengan penuh gairah birahi!

Dosen ngewek mahasiswi

Posted in guru mesum by tantehot on March 3, 2010

Dosen Juga manusia.. Mungkin itulah ungkapan yang cocok buat pak dosen ini, dia merasa tidak bersalah jika memiliki hasrat tinggi dalam bercinta, apa salah seorang dosen memiliki birahi yang tinggi? Berikut adalah cerita seks setengah baya dari seorang Dosen. Silahkan menikmati Cerita Dewasa Dari kami….

Dulu terfikir, uang pensiunan pegawai negeri sudah cukup untuk menjadi jaminan sumber biaya untuk membiayai keluarg-ku, namun krisis berkepanjangan di negeri ini, ditambah harga kebutuhan hidup yang terus meningkat membuat dana pensiunan bulanan makin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini, membiayai biaya sekolah anak-anak-ku, dan gaya hidup mereka yang makin tinggi, belum lagi, Parni istri-ku yang tercinta mengidap penyakit kanker, harta yang tersisa pun aku jual untuk menutup semua biaya pengobatan, walaupun akhirnya Parni meninggal 5 tahun yang lalu..

Dan sejak 5 tahun itulah saya harus memutar otak, beruntung di usia-ku yang sudah lewat setengah abad ini, gelar S-2 sempat aku kenyam, hingga Aku masih dianggap pantas untuk mengajar di sebuah Universitas Swasta di Jakarta,..
Berbeda memang, anak-anak dari kaum borjuis ini, membuat rasanya diri ini malu, merasa gagal sebagai orang tua, rasanya tuntutan ke dua anak-ku Mardi dan Mira tidak lah berlebihan HandPhone berwarna atau pun sepeda motor, itu masih jauh di bawah standard para Mahasiswa-ku,..

Ya bagaimana-pun aku mulai bersyukur, bersyukur anak-anak-ku masih mau menggap aku sebagai ayah, dan mau menerima keadaan ekonomi yang meski tidak berlebih, namun untuk sekedar biaya makan dan sekolah bukan-lah masalah,..
Selama 5 tahun ini juga aku berusaha menjadi dosen idealis, dosen yang baik dan objektive pada murid-murid-ku, berusaha sedikit tegas dan memang itu yang aku fikir harus aku lakukan, sayang rasanya membiarkan mereka membuang uang orangtua-nya untuk sekedar bermain di dalam kelas, aku gak mau seperti Pak Irham, atau Pak Bambang, yang dikenal sebagai dosen ‘baik’ di kampus ini, sayang rasanya mereka tidak mendapat sesuatu di dalam kelas,..
Namun kejadian ini membuat hidup-ku berubah, mungkin…

Waktu itu aku mengajar pelajaran Bank dan Lembaga Keuangan, salah satu mata kuliah yang paling aku kuasai, kelas yang kuajar itu bisa dibilang kelas buangan, karena memang hal yang biasa kalau daftar kelas dan dosen yang mengajar itu sudah bocor sebelum pengisian Jadwal mahasiswa,..
Jadilah kelas-ku salah satu kelas yang paling dihindari,.. Yang payahnya lagi anak-anaka ini seperti tidak mau Belajar, aku berusaha bersabar, hingga pada akhirnya saat membacakan nilai UTS, 3 minggu sebelum UAS murid-murid mulai menjambangi meja kerja-ku di ruang dosen, ya seolah aku yang menentukan nilai, aku yang sengaja membuat nilai mereka Jatuh,..

Hal itu sudah biasa terjadi 5 tahun belakang ini, namun entah satu orang ini, seorang mahasiswi membuatku jatuh dalam perangkapnya, aku bahkan terkadang berfikir, apa aku pantas masih menjadi seorang dosen ??
Sore itu, seorang Mahasiswi, murid kelasku, usianya sekitar 21-an diatas rata-rata usia mahasiswa di kelas-ku, memang salah satu mahasiswa bermasalah dengan nilainya,.. orang-nya cantik, cantik sekali memang, rasanya dia pun terlihat berbeda memiliki keistimewaan tertentu yang membuat seorang lelaki, bahkan seusia-ku ini masih menaruh minat padanya,..
Tubuhnya sintal proposional, memang lebih tinggi dari-ku yang hanya 164 cm ini, sore itu sekitar pukul 5 sore, suasana ruang dosen sudah sangat sepi, apalagi hari jum’at hanya sedikit dosen yang mengajar hingga sepetang ini pada hari itu, aku baru saja duduk di kursi-ku setelah mengambil air putih dari dispenser di sudut ruangan,.
Saat itulah Veronica, nama Mahasiswi itu datang menghampiriku, perlahan dia melangkah masuk, dengan senyuman lembut, rambut panjangnya yang berwarna coklat dikuncir, celana panjang jeans berwarna hitam ketat memperlihatkan pahanya yang berisi, bokongnya yang padat,..

Balutan kaus kuningnya, berdada rendah memperlihatkan payudaranya yang membusung, bahakan BH yang dikenakannya pun adalah Bra yang mengait dileher, hingga aku dapat dengan jelas melihat warna Bra-nya talinya berwarna merah, sedangkan Cup-nya sendiri berwarna Hitam, kutaksir ukurannya 36 B, terlihat dari balik kausnya yang berbahan tipis itu,..
Entah apa maksudnya, aku tak berusaha menerka, mungkin hanya berusaha memberikan sogokan, seperti beberapa mahasiswa lain yang datang beberapa hari kebelakang,.. Aku pun berusaha memasang tampang cuek, meski iman ini mulai terguncang,..
” Pak Agus,..” Suara lembut itu memanggil,..
” Ya,.. ” Kata-ku menjawab,..masih berusaha memberikan ekspresi datar,..
” Saya Veronica, murid BLK bapak… ” Memperkenalkan diri ” Boleh saya duduk ?? “
” Oh ya silahkan, Veronica dari kelas G ?? ” Aku pura-pura bertanya, meski sebagai lelaki tidak mungkin aku tak mengingat mahasiswi secantik Veronica
” Iya pak, saya mau minta bantuan pak,.. ” tampaknya dia sudah biasa berbuat seperti ini, hingga tak malu-malu lagi untuk mengajukan permintaan yang sebenarnya memalukan itu,..
” Oh, memang apa yang bisa saya bantu ? ” Aku pura-pura bertanya meski sudah bisa menerka keinginan-nya,..
” Nilai saya Pak, Cuma 24,..Saya mau lulus pak,.. ” Dia meminta lagi tanpa rasa malu
Wajahnya pun terlihat cuek, seolah tak bersalah,..
” Wah, jauh ya,..gimana mungkin kamu mengulang semester depan,.. ” ya memang itu yang bisa kulakukan, nilai itu terlalu jauh, dan tampanya sulit untuk dia bisa mengejar nilai di UAS, meski bukan hal yang tidak mungkin,…

” Yah, bapak, masa gak bisaaa… ” Vero berkata Manja,..tubunnya dibusungkan seolah sengaja mendorong dada-nya lebih maju, menempel di meja kerja-ku,.. menapak diatas kaca bening diatas meja,..Dadanya terkesan lebih besar, tak hanya itu belahan dada-nya yang rendah membuat payudaranya sedikit terangkat keluar, belahan-nya menantang dalam jarak yang begitu dekat, darah tua ini mendidih,..entah apa, aku berusaha menerka maksud dari murid cantik-ku ini,..
” Bapak, tolongin saya ya pak,.. ” Suaranya sengaja dibuat demikian manja, manja membuat hati ini sedikit luluh, aku seorang manusia, seorang lelaki normal
” Eh, ehmmm.. “,” Mungkin kamu bisa, bisa kerjakan makalah bab 14 – 18 , saya akan maksimalkan nilai tugas-mu.. ” Aku berusaha untuk tidak menatap ke belahan dadanya itu,..
Aku yakin seyakin yakinnya, Vero bukan tak tahu aku mengintip, tapi dia seolah cuek-cuek saja, bahkan kesan yang diberikannya semakin disengaja,..Seraya berdiri,..

” Bapak, bapak bisa kan bikin cepet selesai ?? “, Dia berdiri menantang dihadapan-ku, tatapannya menggoda,.. ” Ayolah Pak,.. ” Katanya lagi sambil membuka jepitan rambutnya, rambut panjangnya terurai indah,..menambah kecantikan gadis muda ini,.
Jantungku berdegup kencang,
” Eh,.. apa maks..maksud kamu,.. ” Aku tahu, aku tahu maksudnya, aku bukan orang bodoh, tapi aku bukan orang yang ingin mengambil kesempatan, aku tahu di lingkungan kampus ini sudah biasa mahasiswi yang bisa dibilang ( maaf ) Jablay, dan bukan tak mungkin Veronica ini pun salah satu bagian komunitas tersebut,..
” Saya cuma mau lulus pak,.. ” Dia menjawab santai, duduk diatas meja-ku, saat berdiri tadi dia sempat berbalik, tubuhnya indah sempurna, matanya indah bokongnya pun demikan menggoda,.aku meneguk ludah dalam deru jantung dan desir darah yang membara,..
” Bapak, bapak tahu kan, bapak tahukan musti bagaimana untuk membantu saya,.. ” Manja dia berkata,..tubuhnya menunduk, memeluk-ku dari belakang, menyela lewat bahu,..tangannya menempel didadaku, bersilang, kepalanya di tidurkan di bahu-ku, mesra, aku dapat merasakan hembusan nafas, tatapan matanya yang seolah menelanjangiku itu, mata berglayut manja memandang-ku, tiba-tiba Veronica mencium-ku,..

Memeluk-ku lebih erat, mencium pipi kiriku hangat, aku bahkan merasakan ciuman yang berbeda dari ciuman anak-anak-ku setiap ulangtahun-ku, bukan ciuman kasih sayang, tapi sebuah ciuman berbeda, mencium pipiku yang mulai berkerut dengan hangat, sentuhan lidahnya sesekali menyentuh kulit pipi-ku, darah tua ini tambah berdesir, makin menyerah akan kekalutan dosa birahi anak didik-ku,..
” Vero yakin, Bapak pasti bisa bantu Vero,.. ” Dia melepas pelukan dan menghentikan ciumannya,.Tuhan kufikir hanya ini saatnya bila aku ingin mengakhiri semua ini, mengakhiri dosa anak didik-ku,..
Vero melangkah perlahan , mendorong bangku-ku menjauh dari meja kerja-ku,.dia berdiri dihdapanku sekarang,..mulut orang tua ini tak sanggup berkata apa-apa lagi,..di depan kedua mataku, Vero menarik kausnya, meloloskan kaus kuning tipisnya,..sekaligus menarik jepitan rambutnya, rambut panjang coklatnya terurai, menambah kesan kecantikan sensual gadis itu.

Tubuhnya yang putih indah itu, tak berbalut lagi dengan kaus tipis itu, payudaranya yang masih terlidung oleh Bra-nya yang mungkin hanya menutupi bagian putingnya saja, ya Cup-nya kecil sekali tak sepadan dengan dada-nya yang padat berisi itu,,..
Vero, menatap ku, dengan tatapan manja Khasnya,..
Menunduk lah gadis itu membuat payudaranya itu kian menantang-ku, menantang birahi-ku yang terus memuncak, mamancing birahi seorang lelaki tua,..jemari lentiknya bergerak ke perut, seolah sengaja belaiannya seolah penari erotis yang begitu memamerkan perut ratanya yang putih rata itu,..

Rambutnya yang panjang terurai, makin menggoda, menutup sebagian wajahnya memberikan kesan misterius yang merangsang, jemari lentik itu menekan kancing celana jeans ketatnya, menarik keluar kancing celana itu keluar dari tempatnya,..
Belum lagi aku menghela nafas, Vero kembali membuatku harus menahan nafas lebih lama, jemari lentik berbalut kutek merah muda itu menempel di kancing resletingnya, sempat Vero menatap-ku, tersenyum…
Jemari lentik itu bekerja, menarik turun resletingnya, aku menarik nafas panjang-panjang,.. mata tua ini mengintip, mencoba mencari tahu indahnya dunia remaja, celana dalam hitam-lah yang bisa kulihat, aku menarik mata-ku dari daerah selangkangan itu, menatap mahasiswiku yang hanya tersenyum-senyum saja, dengan tatapan mata yang menggoda,..

” Srettt… ” celana itu meluncur turun, aku tak lagi harus mencuri-curi pandang, celana dalan hitam model string itu kini sudah menantangku, celana Jeans ketat itu terus diturunkan oleh Mahasiswi-ku itu,..
Meluncur turun melewati bokongnya yang padat berisi itu, melewati pahanya yang begitu putih mulus menggoda, lutut-nya yang indah, turun lagi melewati betis Vero,..Oh tuhan tubuh itu seolah menari indah sekali, hingga celana jeans itu tertahan di kakinya, Vero meloloskan celana jeansnya dari kaki sebelah kiri dahulu, berganti kaki kanan hingga Jeans itu terlepas dari tubuh indahnya,..sebelum dia menaruh kaus dan celana jeansnya diatas meja kerja-ku,..
Mahasiswiku berdiri menantang dihadapan-ku, sinar matahari senja yang menyelinap dari balik meja kerja-ku, membuat keindahan di hadapan-ku ini makin mempesona, sinar mentari yang hangat itu tersenyum mesra memantulkan keindahan tubuh mahasiswiku,..

Berdiri mematung, tangannya berpindah kebelakang menarik lepas kait branya,..sebelum dia meloloskan Branya itu lewat lehernya,..dadanya kian menantang, bulat dan cukup besar, tidak turun sedikitpun, sempurna adalah kata yang tepat untuk menggambarkannya, putingnya yang tidak terlalu besar itu berwarna merah kecoklatan, mengacung tegak yang membuat kesan sensual kian bertambah…
Mahasiswiku berdiri nyaris bugil dihadapan-ku,..
Tuhan,.. aku menarik nafas panjang,..jantungku berdegup kencang sementara Veronica melangkah mendekatiku,..
” Bapak,. Bapak bisa kan bantuin Vero,..” Dia mendekat ” Vero bakal nyenegin Bapak dech..” Rayunya
Jantung tua ini makin, payah, apalagi saat Vero tanpa tendeng aling lagi duduk di pangkuan-ku, bokongnya mendarat di paha kanan-ku, padat dan berisi sesuai dengan yang terlihat,..kedua tangannya langsung memeluk-ku melewati leherku, mesra bergelayut,..payudara indah-nya itu menempel di dadaku, membuatku yakin dia dapat merasakan degup jantung-ku yang begitu kuat berdebar, degup jantung yang makin menderu saat payudara itu bertempel di dadaku yang masih terbalut kemeja tua ini,..
Vero tersenyum, mungkin dia dapat merasakan jantungku yang berdebar keras,..
” Bapak, relaks ya,..” ,.” Vero yakin pasti bisa nyenegin bapak koq,.. ” dia tersenyum,..
Tangannya menempel di wajah-ku, halus lembut, sesaat kemudian bibir mungil itu kembali menempel, bukan lagi di pipi-ku yang berkerut, tapi di bibir tua berkarat ini,..

Menyentuh hangat di bibirku, lidahnya mulai berusaha menyelinap masuk dalam bibir-ku, persetan dengan semua ideologi, objektivitas dan Sumpah dosen, aku tak bahagia dengan itu semua, kini yang terfikir hanya keindahan tubuh Mahasiswi-ku ini,..
Aku tak lagi dapat menutup mulutku rapat, aku membiarkan lidah mudanya itu berpagutan dengan lidah tua-ku, ya-ya dia seolah tak sedikitpun jijik pada orang tua seperti-ku, aku pun tak lagi merasa malu, berhubungan dengan Gadis yang seumuran dengan putri-ku,,..
Birahiku mengalahkan akal-sehat-ku,..
Kami berciuman mesra, hidung kami sempat beberapa terantuk aku sudah tua untuk melawani frenckissnya ini, sedotan dibalas sedotan, kami berciuman dahsyat hingga menimbulkan bunyi aneh sewajarnya orang berciuman hebat,..

Lidah kami saling bersilangan seraya berciuman itu, liur kami sudah saling tertukar, penis-ku pun sudah makin sest dibawah sana,..apalagi kala Vero menarik tangan-ku untuk mengapai dadanya, seolah menginginkan-ku meremas payudara-nya,..
Jemari orang tua ini menyisir payudara kencang itu,..jemariku terasa bergetar saat menyentuh kulit halusnya,..aku mengganti jari-jariku dengan telapak tangan tua ini,..menyentuh permukaan payudara itu,..sedikit memberanikan diri menggoyang dan meremas payudara itu, pemiliknya sedikit mendesah diantara ciuman kami,..
Ku-kumpulkan segenap keberanian-ku, kumainkan payudara yang menggantung itu, meremasnya dengan sisa tenaga tua yang ada,..merema payudar itu, menekannya ataupun menarik-narik puting payudara itu, putingnya sesekali kuremas, kupelentir puting itu, teringat dengan istri-ku Parni dahulu,..
” Ougghhh.. ” Vero mendesah nikmat, membuat-ku makin PD untuk mengerjai mahasiswiku itu,..ya aku makin terbakar birahi,..tak lagi kupedulikan status ” Dosen ” ku,..
Kupeluk tubuh indah itu, kudekatkan lagi tubuh tua ini dengan tubuh indahnya,. memeluk mesra mahasiswiku, sambil berciuman, sambil memainkan puting payudara-nya itu,..,..
Tangan-ku yang memeluknya itu mulai berani lebih dalam lagi,..menyelinap diantara celana dalamnya meremas bongkahan pantat itu,..

” Aww… Bapak bandel ya,.. ” Vero menghentikan ciumannya,..tersenyum lah dia,..
Ya Vero malah berdiri dihadapan-ku sekarang,..
” Turunin pak, celana dalam-nya.. ” Rengeknya manja,..
Aku tersenyum menatap wajah cantik mahasiswiku itu, ya aku tak lagi ragu untuk melakukannya,..
Kujulurkan kedua tangannku, menarik karet celana dalam itusebelum menariknya turun, gundukan bulu kemaluannya yang tak terlalu lebat namun tertata rapi itu menimbulkan sebuah aroma, aroma khas wangi yang mematikan,..
” Hehehe, gitu donk pak,.. ” Vero kembali melompat dalam pelukan-ku, kini dia malah mengangakang dihadapanku,..
” Pak, Turn me On lagi donk,.. ” Pintanya,..
Aku pun tak menolak,..melakukannya,..
” Vero, Vero, sini sama bapak ya,.. ” aku memeluknya sekarang,..
Kujulurkan bibirku menciumnya, dari kening turun kebawah, teringat titik sensitif istriku dahulu, tepat di balik telingannya, kugayut telinga itu, kuhisap-hisap teliganya, sesekali lidah ini kusisipkan di lubang telinga itu,..
” Ahhh, ahhh pak,..enaaaak… ” Desahan manja melucur dari telingannya, tangan Vero pun tak lagi diam, membuka kancing perkancing kemeja ku itu,..

Perlahan tapi pasti kancing kemejaku terbuka semua, sementara aku masih sibuk merangsang titik sensitifnya yang ternyata sama dengan istriku itu,..
Tubuhnya bergerak-gerak manja, sambil tangannya berpacu dibalik kaus dalam-ku itu,..merajahi dadaku yang juga mulai berkeriput dimakan usia
Jemari lentiknya bermain, ya mencoba merangsang diriku lebih lagi, puting ku dijelajahinya dengan tangannya yang halus itu menjepit payudaraku, sakit tapi ya nikmat sekali aku tak menyangkal kenikmatan yang diberikan mahasiswi-ku itu,..
Aku pun mendesir hebat saat Vero dengan begitu bernafsunya berkata,..
” Sekarang giliran Vero ya pak” pinta si cantik itu,..” Vero yang bakal puasin Bapak “
Turunlah dia sambil tangannya menyibak kemeja dan kaus dalam-ku, tubuh tua yang sedikit buncit ini terpampang dihadapan Mahasiswi yang begitu cantik dan kontras dengan tua bangka seperti diriku,..
Lidahnya merangsang puting tua-ku itu, menjilatnya sambil menyedot-nyedotnya membuat si tua ini mendesah kenikmatan,..nikmat sekali dia mngerayangi puting kanan-ku tak lama berganti ke kiri,..tubuh tua ini bergetar,..
” Enak pak,.?? ” tanya-nya tersenyum manja menatap-ku,..
Aku membalas dengan senyuman, ..kembali Vero menarik tangan-ku,..
ditaruhnya diselangkangan, agak ragu aku saat itu,..
” Ayo pak, Vero pengen… ” Dia meminta,..
jempolku pun kugerakan,..menempel di Clitorisnya, sedangkan jemari telunjuk-ku itu kugerakan di depan bibir vaginanya,..
” Owhh,, pak, Enak,.. ahhh.. ” vaginanya sudah mulai basah, kugerakan jemariku makin cepat naik turun dipermukaan bibir vaginanya,..
Vero mendesisi, sembari tak henti menjilati puting payudara-ku,..tangan kirinya masih bergelayut memeluk-ku, sementara tangan kanan-nya digunakan merangsang permukaan dadaku,..
Kurasakan permukaan vaginanya bertambah basah, tangan-ku pun mencuri kesempatan menjamahi payudara kencangnya itu, ya makin lama kami makin terpacu birahi, terpacu dosa kenikmatan, entah berpura atau tidak, tapi gerakan tubuh Vero menggambarkan seolah Vero ikut menikmati ini, semua,..
” Pak… gak tahan, jangan di depan ajah.. ahhh, Pak masukin… ” Pinta Vero,..
Kuturuti kemauan anak didik-ku itu,..telunjuk-ku ini kugunakan untuk melakukan penetrasi dalam vaginanya,..terasa sempit liang kemaluan-nya sedikit basah dengan cairan cintanya yang mulai berproduksi dalam rahim muda gadis itu,..
Telujuk itu kugunakan mendesak lebih dalam, kutatap wajah mahasiswiku, wajahnya tampak kesakitan, namun mulutnya berkata lain,..
” Terus pak, awwww… enak pak… ” Dia terus menceracau,..akhirnya telunjuk-ku mentok juga, sesaat kudiamkan, Vero tampak menarik nafas panjang, sebelum akhirnya kugerakan telunjuk-ku naik turun dalam kemaluannya itu,..
” Owwww, ahhh pakk,, aaww…” Dia menceracau, berusaha memagut bibirku, kusodorkan saja bibir tua ini, kami berciuman mesra sementara tangan-ku terus keluar masuk menjelajahi kemaluannya,..
Jemari Vero seolah ingin membals kenikamatan yang kuberikan,..
Diraihnya kancing celana-ku, dipelorotkannya, sementara dengan jemari lentiknya dikeluarkan penisku yang sudah menegang itu,..
” Ich, keras juga ya pak, awww..” Dia berkata disela desahan-nya,..
aku makin liar, rasanya mendengar gadis secantik itu mendesah dalam pelukan-ku, makin membuat ku bergairah,….
Makin kupacu jemariku keluar masuk dalam vagina-nya, sementara Vero membalas dengan sentuhan tangannya yang membelai kemaluan-ku, membelai sambil mengocok kemaluan-ku, jemari tangan yang halus, begitu nyaman menggengam kemaluan-ku,..
Desah nikmat kami diantara ciuman Frenchkiss, nikmat menggema di Kantor dosen yang kosong itu,..beberapa menit kami berpacu dalam keadaan itu, hingga akhirnya tubuh Vero menggelinjang hebat, menggelinjang panjang disertai desahan dasyat tubuhnya mengeras, giginya menggelayut, Veronica mahasiswi-ku terhantam gelombang organsme dahsyat, membuatnya tak karuan mendesah, aku merasakan vaginanya yang seolah menarik jemariku, menyedot hebat sebelum cairan vaginanya merembes keluar,..
” Awhhhhh…Oughhh… ” Dia memeluk-ku mesra saat Organsme itu tiba, nafasnya tersengal sengal, sebelum dia merambat turun,..Penis-ku masih tegar berdiri saat itu,..
Dia melangkah mengambil air minum di meja, menegaknya,..
” Bapak, dasar,.. hebat banget.. ” celetuknya manja,..
Aku kembali hanya tersenyum membalas,..
” Sini Vero bales,.. ” Dia kembali mendekatiku, berjongkok dihadapan-ku, meraih penis-ku ditangannya meremasnya mesra, sebelum dibuka-nya bibir mungil miliknya,..
Penis ku dijilatnya, tubuh tua-ku mendesir nikmat,..merasakan basuhan hangat lidah Vero yang menari di penis-ku,..
” OWhh… ” geli nikmat yang dahsyat, berlanjut kebuah Zakar-ku, agak susah membuatnya harus melepas celana panjang-ku turun, jadilah kami berdua dosen dan Mahasiswinya saling bertelanjang,..
Tak lagi sempat berfikir, seketika buah Zakar-ku telah disantapnya, menghisap dan menyedotnya dahsyat,..menggelitik buah zakar-ku itu, hingga basah, bijinya ditarik tarik memberikan kenikmatan, seolah tidak jijik dengan penis si tua bangka ini, bahkan memberikan kenikmatan yang dahsyat sekali,..

Tangannya yang satu lagi terus mengocok penis-ku, belum lagi sedotan dahsyat pada buah zakarku, bulu kemaluan-ku yang sudah mulai beruban sesekali rontok tertarik tangannya, namun tak seberapa dibanding kenikmatan yang diberikan gadis muda ini,..
” Ahhh, ahhh.. ” Aku terus mendesah kenikmatan
sesaat penisku malah sudah berada dalam mulut hangatnya, mulut hangatnya yang bermain membalur penis tua itu dengan lidahnya, menyedot penisku itu, ” Aghhh.. ” aku mengelinjang nikmat,..
Kepala penisku dihisapnya sementara tangannya tak henti mengocok batang kemaluan-ku,..aku tak tahan lagi,..kutarik lepas kepala mahasiswi ku itu,.. kucium bibir mungilnya,.ku dorong dia keatas meja kerjaku, tangan-ku mencoba merangsang bibir vaginanya yang mulai basah,..

” Oughh, pak… ” Vero mendesah, kulepas ciuman-ku, kupindahkan ke payudaranya yang menantang itu,..
Tangan ku, kini kugunakan untuk merangsang clitoris Veronica, pemiliknya hanya dapat melenguh seakan melampiskan kenikmatan atas rangsangan yang kuberikan,.. Jemari-ku sesekali kusisispkn lagi dalam vagina-nya, sementara terus kuciumi juga payudara mahasiswi-ku itu,..
Kukunyah puting payudaranya itu, kujilati seluruh bagian dari payudaranya yang putih indah menggoda itu,. ” Ughhh, pakk..ahhhh ” Pemiliknya terus melenguh menambah naik birahiku,..
Pinggulnya bergoyang erotis menikmati rangsangan dari orang tua ini, apalagi vagina itu kian basah oleh cairan cintanya, aku dapat merasakan kehangatan dan remasan otot-otot vaginanya meremas telunjuk-ku didalam sana,..
Jemai Vero terus mencoba merangsangku, terkadang tangannya membelai dada-ku memberikan sentuhan pada puting susu-ku, ataupun dia mencari telingaku untuk dihisapnya, mungkin dia ingin kami sama-sama naik, apa dia sudah sering seperti ini dengan dosen-dosen lain?? Ataukah dia tak merasa Jijik brcinta dengan orang yang mungkin sudah lebih berumur dari orangtuanya itu,..ai enyahlah pikran semacam itu, tak perduli lagi dengan itu semua, yang terpenting aku dapat menikmati dagin hangat ini sekarang,..
Tangan Vero mencabut jemari-ku yang berada dalam vaginanya, ditariknya penisku yang sudah mengeras itu untuk merangsang vagina-nya, digesek-gesekannya lah kepala penis-ku itu, dia melenguh hebat menkmati ransangan yang diberikannya oleh permainannya sendiri itu,..
” Oughh , pak..enyakk..” Vero terus melenguh, peluh sudah mulai membanjiri wajah cantiknya itu…
Jemarinya terus membimbing penis tua-ku itu untuk brmain di mulut vaginanya,..penisku seakan berdenyut nikmat, tiap kali penis ini menyentuh bagian vaginanya yang basah dn trtekan-tekan nikmat, seolah ada yang ingin keluar meski aku tahu masih jauh buatku untuk menembak-kan sperma-ku ini,..
Tak terduga apa yang terjadi selanjutnya. Justru Vero sendiri lah yang menekan-kan penisku masuk dalam vaginanya, keset sekali saat di bimbingnya penis-ku masuk dalam vagina-nya,..dia terus meriung-riung tiap centimeter penisku melengsek masuk, ” Awwwh,..pak…ahhhh…” aku pun tak uasa mendesah..” Ahhh, Veroo… ” pertama kalinya aku menyebut nama murid-ku itu dalam persetubuhan ini,.
Betis Vero terus mendorong pinggulku, di kaitkannya kedua kakinya kuatkuat pada pinggulku demi untuk mendorong penis-ku masuk lebih dalam, aku tak mencegah aku keenakan menikmati remasan otot-otot vagina muda dari mahasiswi tercantik di kelas ku itu,..
Vero sendiri hanya merem melek saja, menikmati tiap detik penis-ku masuk lebih dalam,..sempat mentok beberapa kali, namun aku menarik pinggulku lagi mencai ruang agar dapat menekan penisku masuk lebih dalam ada vagina-nya,..
” Ahhh, pak,..dalem banget.. awwhhh..” Rintih Vero, saat penisku akhirnya tertanam semua dalam vagina-nya, sempit sekali, kesat namun vagina itu terus berdenyut seolah memijat penisku yang berada di dalam sana,.

Aku tersenyum saja mendengar perkataan anak didik ku itu,..
Entah sudah berapa tahun sejak aku menikmati vagina seorang wanita, namun aku yakin ini adalah vagina ternikmat yang pernah kurasakan dalam hidup-ku, lupakan kegilaan seorang PNS dahulu, hanya pelacur-pelacur kelas bawah yang pernah kunikmati dahulu, itupun sebelum menikahi istri ku yang tercinta, sejak kematian-nya tak pernah aku sekalipun bercinta dengan wanita, aku setia menjaga cintaku, hingga hari ini,..

Seluruh birahi yang terpendam selama 5 tahun ini kutumpahkan pada diri anak didik-ku ini, kugengam pinggangnya sebagai tumpuan, kugoyangkan penisku keluar masuk dalam vagina-nya dengan kecepatan yang teus meningkat..
Payudaranya itu terpental kesana kemari, ya bergoyang memutar hingga menambah kecantikan murid-ku itu, sungguh dia memiliki pesona sendiri dimata lelaki, bunyi tabrakan bokongnya dengan selangkangan-ku menimbulkan bunyi yang cukup nyaring tapi kami tak perduli lagi,..
Kami terus berciuman untuk mengurangi gaung suara desahan kami, lidah kami berpagutan sementara di bawah sana, vagina-nya terus meremas penis-ku, meremasnya nikmat sekali,..
” Uhhh, owghhh,..ahhhh… ” Vero terus mendesah,.mulutnya seolah tak pernah berhenti mendesah, meransang darah tua ini untuk terus terbakar oleh suasana,..Ya aku tak lagi berfikir selain memuaskan birahiku ini sekarang,..
Dahsyatnya lagi tiap sodokan sekuat tenaga-ku, aku merasakan sensasi lain dari vagina-nya, selain lolongan panjang Vero, seolah ada cairan yang terdrong keluar dari dalam vaginanya, sesekali meloncat hingga kebuah zakar-ku,..
Jemari Vero pun digunakan olehnya untuk membuka vagina-nya, entah mengapa dia lakukan itu, namun posenya itu membuat dia lebih merangsang saja,..Sementara tangannya yang satunya lagi terus merangkul, memeluk-ku.
Kutarik tangan kanan ku dari punggulnya, kuremas payudara Vero yang membuat pemiliknya kembali melenguh erotis,..lenguhan yang membuat ku kian bernafsu untuk mengocok gadis ini makin liar,..
” Srettt, Srettt , Plak, Plak,.. ” bunyi-bunyian yang sering terdengar karena sentuhan tubuh kami, belum lagi cairan vagina Vero yang terkadang merembes keluar melumasi penis-ku yang memungkinkanku untuk menyetubuhinya lebih cepat lagi..
” Awwhh, pak….Ahhhh..” Vero tiba-tiba mencakar-ku, tubuhnya mengejang hebat, apalagi tangannya yang mencengkram tangan-ku, mencengkamnya hebat membuat tangan-ku sediki terluka karena kuku jarinya yang panjang,..
Yang lebih dahsyat lagi adalah vaginanya yang seolah menjus penis-ku didalam sana, himpitan otot vaginanya seolah melumat penis-ku, kurasakan semburan hangat cairan vagina Vero yang menyentuh kepala penis-ku, terus membasahi batangnya hingga merembes keluar,.. Beberapa detik Vero menutup mata dengan tubuh yang bergetar,..
” Hahhh, ahhh, hahhh..” dia mendesah dengan nafas yang memburu,..
” Enak pak,.. ” Vero tersenyum genit,.” Lagi donk pak,..hehehe”
Sebenarnya tak perlu komando darinya, begitu punggungnya yang sempat terangkat saat organsme tadi turun kebawah, langsung kuhantamkan lagi penisku keluar masuk dalam vaginanya,..Desahan Vero kembali membahana,..

Terus kugali vaginanya beberapa menit, tak secepat tadi memang namun masih dapat kuakali dengan penetrasi pendek, ya hanya kepala penis dan sebagian kecil penisku yang masuk, ternyata itu cukup membuat Vero blingsatan dan berusaha menggoyangkan pinggulnya, menginginkan penterasi yang lebih dalam..
” Ahhhh, ahhhh, bapak,.. jahat ahhh.. ” Rengeknya, namun aku tak tak perduli aku berfikir unuk mendapatkan kepuasan maksimal darinya, aku gak mau buru-buru keluar,..
Kuciumi lagi puting payudaranya yang besar itu, kuremas dengan tangan-ku, kutarik-tarik lah puting payudaranya yang sudah mengeras itu, kujilati, kuhisapi sesekali mengunyahnya, bukan rahasia umum, kalau sebenarnya wanita lebih menyukai payudara bagian bawahnya untuk dijilati,..aku tahu itu dari istriku,..

Maka kugerakan lidahku menjilati payudara bagian bawah Veronica, Vronica langsun menggelinjang nikmat begitu lidahku ini, menjelajah payudara bagian bawahnya,.. kuciumi payudara putihnya yang sekal, bagian bawahnya begitu merangsang, Bulat sempurna,..sementara aku masih melakukan penetrasi di muka vaginanya,..
” Ughhh, pak..ahh,.. ” Veronica terus melenguh, melenguh keenakan, wajahnya kian merangsang, apalagi melihat matanya yang merem melek itu, sementara dari bibir mungilnya suara lolongan desahan nikmat terus saja keluar,..
Setelah kurasakan sedikit sudah tenang kusodokan penisku dalam-dalam pada vaginanya, kali ini dengan seluruh tenaga yang ada ditubuh orang tua ini, Vero langsung melolong dahsyat,..
Vagina-nya kembali mengejang, lelehan cairan cintanya kembali menerpa penisku, tubuhnya bergetar, meski tak sehebat tadi, namun aku tahu dengan pasti mahasiswiku in kembali mencapai puncak kenikmatannya,..
Sayang beribu sayang, dasar tubuh ini sudah tua, aku tak sanggup bertahan lebih lama lagi. Remasan yang seolah memijat penisku di dalam vaginanya, membuat penis ini seketika meledak, melelehlah sperma orang tua ini dalam vagina Vero,..
Banyak sekali, tabungan 5 tahun,..Vero tampak kaget merasakan cairan sperma yang meloncat dalam leher vaginanya, aku pun sungguh tak menduganya, kami hanya tertegun saja, aku hanya diam entah apa yang ada dalam benak-ku saat itu, perasan bersalah atau apalah,..
Kudiamkan saja penisku dalam vagina-nya, hingga kembali mengecil dan keluar dengan sendirinya, sementara Vero hanya diam menatap langit-langit ruang dosen, entah memikirkan apa, rambutnya sudah tak karuan,.. demikian juga dengan keaadan ruang kerja-ku,.. berantakan tak karuan,..

Aku tertegun saja, kembali duduk di kursi-ku, tanpa busana, langit senja berganti dengan langit malam, sebuah petir menyambar membelah heningnya suasana, kami masih diam beberapa menit, hingga Vero kembali berbicara,..
” Bapak, bisa bantuin Vero kan ?? ” Dia bertanya,..
Aku diam saja, memikirkan cara untuk membantunya,..Namun pikiran jahat dari mana yang muncul, berusaha aku untuk menepis semua kebusukan pikiran ini,.. Dia seusia anak-ku, akutak mau anak-ku seperti ini,..
Sebuah petir kembali menyambar,..diiringi derasnya hujan,.Hal yang langka diawal musim kemarau ini,..
” Kalo segini sich belum cukup,.. ” Aku bahkan tak percaya ini meluncur dari mulut-ku,..Vero sampai tertegun mendengarnya,..Aku berdiri mendekatinya,..Kuraih dagu muridku, kucium bibir mungilnya itu,..
Vero mendorong-ku,..Tak ingin lagi dia dicium oleh-ku,..
” Bapak mau apa ?? ” Vero bertanya, nadanya ketakutan,..
” Bapak Cuma mau lagi… “
Kudorong dia ke meja kerjaku, kali ini menungging,.. Dia berontak menghindari sergapan-ku,..namun ternyata aku masih bisa menggungulinya dengan tubuh tua ini, penisku kembali mengencang,..Kudorong paksa penisku masuk dalam vagina-nya,..
” Oughhh,..ahhhh.. ” pemiliknya menjerit tertahan, menahan sakit,..
Wajahnya seolah marah menatap-ku,namun aku tak perduli, aku terus memacu penisku dalam vaginanya, vaginanya pun masih memijitu seperti tadi, bukti dia tak 100% menolak aku menyetubuhinya,..
Aku terus mengerjainya dari belakang, kedua tangannya kutarik kebelakang, mencegah dia berontak atau memukulku, itu membuat dia tak dapat bersandar pada meja kerjaku,
Vero tetap mendesah hebat seperti tadi,..rambutnya terurai tak beraturan…
Di depan meja-ku adalah meja Bu Ratih, di belakangnya ada kaca berukuran besar, wajah Vero terpantul disana, matanya seolah marah padaku, aku tak perduli aku hanya ingin menikmati Mahasiswi cantik-ku ini lebih lama,..

Aku yang salah, atau dia yang salah ??
Salahkah aku sebagai seorang dosen ?? kenapa dosen tak boleh bermain seks dengan orang lain. seolah dosen tidak bisa meluapkan birahi yang berlebihan, apakah seolain dosen boleh melakukan seks sepuasnya??

ngentot ibu guru

Posted in guru mesum by tantehot on March 3, 2010

jika ingat dulu waktu sekolah, pasti ada saja salah satu guru yang menjadi favorit anda, mungkin banyak juga yang memfavoritkan ibu guru, apalagi ibu guru cantik, dan suka berpenampilan seksi, jadi pengen ngentot ibu guru kan, dari awalnya menghayal sampailah pada onani , okelah ini adalah cerita dewasa tentang pengalaman murid yang bisa bercinta dengan ibu guru nya sendiri, cerita nya hot dan mungkin akan membuat anda senat senut. Mungkin :) . bukan cerita seks ibu dosen, tapi cerita seks ibu guru.

Sebagai siswa sebuah SMU Swasta, aku bukanlah murid yang pintar tapi juga tidak bodoh-bodoh amat. Biasa-biasa saja. Tidak bisa dibanggakan. Yang bisa aku banggakan adalah wajahku yang ganteng dengan bentuk tubuh yang atletis. Tinggi jangkung dan berat yang seimbang. Dan paling aku banggakan adalah ukuran kemaluanku yang luar biasa besarnya, panjangnya 22 cm dengan diameter 5 cm. Membuat iri teman laki-lakiku.

Namaku Doni, cukup terkenal di sekolahku. Mungkin karena aku bandel dan sering berganti-ganti cewek. Banyak teman sekolahku yang pernah aku tiduri. Mereka tergila-gila setelah menikmati kontolku yang luar biasa dan tahan lama kalau bersetubuh.

Sore itu, setelah semua pelajaran selesai aku bergegas pulang kerumah. Semua buku-buku sudah kumasukkan kedalam tas. Kustart sepeda motorku menuju jalan raya. Tapi di tengah perjalanan aku baru ingat, pulpenku tertinggal di dalam kelas. Dengan tergesa-gesa aku balik lagi ke sekolahku. Setelah mengambil kembali pulpenku, aku berjalan lagi menuju parkir sepeda motorku. Untuk mencapai tempat parkir, aku harus melewati ruangan guru.

Ketika melewati ruangan guru-guru, aku mendengan suara mendesah-desah disertai rintihan-rintihan kecil. Aku penasaran dengan suara-suara itu. Aku mendekati pintu ruangan, suara-suara itu semakin keras. Aku semakin penasaran dibuatnya. Kubuka pintu ruangan, dengan berjalan mengendap-endap, aku mencari tahu darimana datangnya suara-suara itu. Begitu mendekati ruangan Bu siska, aku terkejut. Disana kulihat Bu Siska, guru bahasa Inggrisku yang telah setahun menjanda, sedang bercumbu dengan Pak Rio, guru olahragaku, dalam posisi berdiri.

Bibir mereka saling kecup. Lidah mereka saling sedot. Tangan Pak Rio meremas-remas pantat Bu Siska yang padat, sedangkan tangan Bu Siska melingkar dipinggang Pak Rio. Mereka yang sedang asik tak tahu akan kehadiranku. Aku mendekati arah mereka. Aku membungkukkan badan dan bersembunyi dibalik meja, mengintip mereka dari jarak yang sangat dekat.

Mereka menyudahi bercumbu, kemudian Pak Rio duduk dipinggir meja, kakinya menjuntai kelantai. Bu Sisca berdiri didepannya. Bu siska mendekati Pak Rio, dengan buasnya dia menarik celana panjang Pak Rio. Tak ketinggalan celana dalam Pak Rio juga diembatnya. Hingga Pak Rio setengah telanjang. Bu Siska menguru-urut kontol Pak Rio. Kontolnya yang tidak begitu besar, sedikit demi sedikit menegang. Bu Siska membungkukkan tubuhnya, hingga wajahnya pas diatas selangkangan Pak Rio. Kontol Pak Rio diciuminya.

“Isep.. sayang.. isep.. kontolku” suruh Pak Rio.
Bu Siska tersenyum mengangguk. Dia mulai menjilati kepala kontol Pak Rio. Terus turun kearah pangkalnya. Bu Siska sangat pintar memainkan lidahnya dikontol Pak Rio.
“Oohh.. enakk.. sayang.., truss.., truss”.

Pak Rio mengerang ketika Bu Siska mengulum kontolnya. Seluruh batang kontol Pak Rio masuk kemulutnya. Kontol Pak Rio maju mundur didalam mulut Bu Siska. Tangan Bu Siska mengurut-urut buah pelirnya. Pak Rio merasakan nikmat yang luar biasa. Matanya merem melek. Pantatnya diangkat-angkat. Aku sangat terangsang melihat pemandangan itu. Kuraba-raba kontolku yang menegang. Kubuka retsleting celanaku.Kukocok-kocok kontolku dengan tanganku. Birahiku memuncak. Ingin rasanya aku bergabung dengan mereka, tapi keinginan itu kutahan, menunggu saat yang tepat.

Lima belas menit berlalu, Pak Rio menarik dan menjambak kepala Bu Siska.
“Akhh.., akuu.. mauu.., ke.. keluar sayang” Pak Rio menjerit histeris.
“Keluarin aja sayang, aku ingin meminumnya” sahut Bu Siska.
Bu Siska tak mempedulikannya. Semakin cepat dikulumnya kontol Pak Rio dan tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal kontol Pak Rio seirama kocokan mulutnya. Kontol Pak Rio berkedut-kedut, otot-ototnya menegang.

Dan crott! crott! crott! Pak Rio menumpahkan spermanya didalam mulut Bu Siska. Bu Siska meminum cairan sperma itu. Kontol Pak Rio terus dijilatinya, hingga seluruh sisa-sisa sperma Pak Rio bersih. Kontol Pak Rio kemudian mengecil didalam mulutnya.

Pak Rio yang sudah mencapai orgasme kemudian turun dari meja.
“Kamu puas sayang dengan serviceku” tanya Bu siska.
“Puas sekali, kamu pitar sayang” puji Pak Rio sambil tersenyum.
“Gantian sayang, sekarang giliranmu memberiku kepuasan” pinta Bu Siska.
Bu Siska melepaskan gaunnya, juga pakaian atasnya, hingga dia telanjang bulat. Astaga ternyata Bu Siska tak memakai apa-apa dibalik gaunnya. Aku dapat melihat dengan jelas lekuk tubuh mulusnya, putih bersih, ramping dan sexy dengan buah dada yang besar dan padat, juga bentuk memeknya yang indah dihiasi bulu-bulu yang dicukur tipis dan rapi.

Bu Siska kemudian naik keatas meja, kakinya diselonjorkan kelantai. Pak Rio mendekatinya. Memek Bu Siska diusap-usp dengan tangannya. Jari-jarinya dimasukkan, mencucuk-cucuk memek Bu Siska. Bu Siska menjerit nikmat.
“Isep sayang, isep memekku sayang” pinta Bu Siska menghiba.
Pak Rio menurunkan wajahnya mendekati selangkangan Bu Siska. Lidahnya dijulurkan kememek Bu Siska. Disibaknya bibir memek Bu Siska dengan lidahnya. Pak Rio mulai menjilati memek Bu Siska.
“Oohh.. truss.. sayang.., jilatin terus.., akhh” Bu Siska mendesah.
Pak Rio dengan lihainya memainkan lidahnya dibibir memek Bu Siska. Dihisapnya memek Bu Siska dari bagian luar kedalam. Memek Bu Siska yang merah dan basah dicucuk-cucuknya. Kelentitnya disedot-sedot dengan mulutnya.
“Oohh.., enakk.., truss.., truss.., sayang” jerit Bu Siska.

Hampir seluruh bagian memek Bu Siska dijilati Pak Rio. Tanpa sejengkalpun dilewatinya.
“Akkhh.., akuu.. mauu.. ke.. keluar.. sayang” erang Bu Siska.
Memeknya berkedut-kedut. Otot-otot memeknya menegang. Dijambaknya rambut Pak Rio, dibenamkannya keselangkangannya.
“A.. akuu.., keluarr.., sayang” Bu Siska menjerit histeris ketika mencapai orgasme. Memeknya sangat basah oleh cairan spermanya. Pak Rio menjilati memeknya hingga bersih.

“Kamu puas Sis?” tanya Pak Rio pendek.
“Belum! Entot aku sayang, aku ingin merasakan kontolmu” pinta Bu Siska.
“Maaf Sis! Aku tak bisa, aku harus pulang”.
“Nanti istriku curiga, aku pulang sore” sahut Pak Rio menolak.
“Kamu pengecut Rio! Dikasih enak aja takut!” kata Bu Siska jengkel.
Matanya meredup, memohon pada Pak Rio. Pak Rio tak mempedulikannya. Dia mengenakan celananya, kemudian berlalu meninggalkan Bu Siska yang menatapnya sambil memohon.

Ini kesempatanku! Pikirku dalam hati. Nafsu birahiku yang sudah memuncak melihat mereka saling isap, ingin disalurkan. Setelah Pak Rio berlalu, kudekati Bu Siska yang masih rebahan diatas meja. Kakinya menggantung ditepi meja. Dengan hati-hati aku berjalan mendekat. Kulepaskan baju seragamku, juga celanaku hingga aku telanjang bulat. Kontolku yang sudah menegang, mengacung dengan bebasnya. Sampai didepan selangkangan Bu siska, tanganku meraba-raba paha mulusnya. Rabaanku terus keatas kebibir memeknya. Dia melenguh. Kusibakkan bibir memeknya dengan tanganku. Kuusap-usap bulu memeknya. Kudekatkan mulutku keselangkangannya. Kujilati bibir memeknya dengan lidahku.

“Si.. siapa.., kamu” bentak Bu Siska ketika tahu memeknya kujilati.
“Tenang Bu! Saya Doni murid Ibu! Saya Ingin memberi Ibu kepuasan seperti Pak Rio” sahutku penuh nafsu.
Bu Siska tidak menyahut. Merasa mendapat angin segar. Aku semakin berani saja. Nafsu birahi Bu Siska yang belum tuntas oleh Pak Rio membuatnya menerima kehadiaranku.

Aku melanjutkan aktivitasku menjilati memek Bu Siska. Lubang memeknya kucucuk dengan lidahku. Kelentitnya kusedot-sedot.
“Oohh.., truss.. Don.., truss.. isep.. sayang” pintanya memohon.
Hampir setiap jengkal dari memek Bu siska kujilati. Bu Siska mengerang menahan nafsu birahinya. Kedua kakinya terangkat tinggi, menjepit kepalaku.

Lima belas menit berlalu aku menyudahi aktivitasku. Aku naik keatas meja. Aku berlutu diatas tubuhnya. Kontolku kuarahkan kemulutnya. Kepalanya tengadah. Mulut terbuka menyambut kehadiran kontolku yang tegang penuh.
“Wow! Gede sekali kontolmu!” katanya sedikit terkejut.
“Isep Bu! Isep kontolku!” pintaku.

Bu Siska mulai menjilati kepala kontolku, terus kepangkalnya. Pintar sekali dia memainkan lidahnya.
“Truss.. Buu.. teruss.., isepp” aku mengerang merasakan nikmat.
Bu Siska menghisap-isap kontolku. Kontolku keluar masuk didalam mulutnya yang penuh sesak.

“Akuu.. tak.., tahann.., sayang! Entot aku sayang” pintanya.
“Ya.., ya.. Buu” sahutku.
Aku turun dari meja, berdiri diantara kedua pahanya. Kugenggam kontolku, mendekati lubang memeknya. Bu Siska melebarkan kedua pahanya, menyambut kontolku. Sedikit demi sedikit kontolku memasuki lubang memeknya. Semakin lama semakin dalam. Hingga seluruhnya amblas dan terbenam. Memeknya penuh sesak oleh kontolku.
Aku mulai mengerakkan pantatku maju mundur. Klecot!Klecot! Suara kontolku ketika beradu dengan memeknya.
“Ooh.., nik.. matt.., sayang.., truss” Bu Siska mendesah.

Kuangkat kedua kakinya kebahuku. Aku dapat melihat dengan jelas kontolku yang bergerak-gerak maju mundur.
“Ooh.., Buu.., enakk.. banget.., memekmu.., hangat” desahku.

Sekitar tiga puluh menit aku menggenjotnya, kurasakan memeknya berkedut-kedut, otot-ototnya menegang.
“Akuu.., tak.. tahan.., Don, aku.. mau.. keluarr” jeritnya.
“Tahan.. Buu.., aku.. masih tegang” sahutku.
Dia bangun duduk dimeja memegang pinggangku erat-erat, mencakar punggungku.
“Akkhh.., akuu.. keluar” Bu Siska menjerit histeris.
Nafasnya memburu. Dan kurasakan memeknya sangat basah, Bu siska mencapai orgasmenya. Ibu guruku yang sudah berumur 37 tahun menggelepar merasakan nikmatnya kusetubuhi.

Aku yang masih belum keluar, tak mau rugi. Kucabut kontolku yang masih tegang. Kuarahkan kelubang anusnya. Kedua pahanya kupegang erat.
“Ja,.jangan.., Don” teriaknya ketika kepala kontolku menyentuh lubang anusnya.
Aku tak memperdulikannya. Kudorong pantatku hingga setengah batang kontolku masuk kelubang anusnya yang sempit.
“Aow! Sakitt.. cabutt.., Don.., aku.. sakitt.. jangan” teriaknya keras.
Kusodok terus hingga seluruh batang kontolku amblas. Kemudian dengan perlahan tapi pasti kugerakkan pantatku maju mundur.

Teriakan Bu Siska mengendor. Berganti dengan desahan-desahan dan rintihan kecil. Bu Siska sudah bisa menikmati sentuhan kontolku dianusnya.
“Jadi dicabut ngga Bu” candaku.
“Jangan sayang, enak banget” katanya sambil tersenyum.

Kusodok terus lubang anusnya, semakin lama semakin cepat. Bu Siska menjerit-jerit. Kata-kata kotor keluar dari mulutnya. Aku semakin mempercepat sodokanku ketika kurasakan akan mencapai orgasme.
“Buu.., akuu.. mauu.. ke.. keluarr” aku melolong panjang.
“Akhh.. akuu juga sayang” sahutnya.

Crott! Crott! Crott! Aku menumpahkan sperma yang sangat banyak dilubang anusnya. Kutarik kontolku. Kuminta dia turun dari meja untuk menjilati kontolku. Bu Siska menurutinya. Dia turun dari meja dan berlutut dihadapanku. Kontolku dikulumnya. Sisa-sisa spermaku dijilatinya sampai bersih.

“Kamu hebat Don, aku puas sekali” pujinya.
“Aku juga Bu” sahutku.
“Baru kali ini memekku dimasuki kontol yang sangat besar” katanya.
“Ibu mau khan terus menikmatinya” kataku.
“Tentu sayang” jawabnya sambil berdiri dan mengecup bibirku.

Kami beristirahat sehabis merengkuh kenikmatan. Kenikmatan selanjutnya kudapatkan dirumahnya. Bu Siska, guruku ternyata hyperseks. Dia kuat sekali ngentot. Satu malam bisa sampai empat kali.

memek ibu guru waktu SMA

Posted in guru mesum by tantehot on March 3, 2010

Ini pengalaman kencan seksku sebelum aku mengenal internet. Kejadian ini tepatnya ketika aku masih duduk du bangku SMA. Sedang teman kencanku adalah seorang guru seni lukis di SMA-ku yang masih terbilang baru dan masih lajang. Saat itu umurku masih mengijak 19-20 tahun. Sedang guru lukisku itu adalah guru wanita paling muda, baru 25 tahun. Semula aku memanggilnya Bu Guru, layaknya seorang murid kepada gurunya. Tapi semenjak kami akrab dan dia mengajariku making love, lama-lama aku memanggilnya dengan sebutan Mbak. Tepatnya, Mbak Yani. Mau tahu ceritanya?

Sore itu ada seorang anak kecil datang mencari ke rumah. Aku
diminta datang ke rumah Mbak Yani, tetangga kampungku, untuk memperbaiki jaringan listrik rumahnya yang rusak.
“Cepat ya, Mas. Sudah ditunggu Mbak Yani,” ujar anak SD
tetangga Mbak Yani.

Dalam hati, aku sangat girang. Betapa tidak, guru seni lukis
itu rupanya makin lengket denganku. Aku sendiri tak tahu,
kenapa dia sering minta tolong untuk memperbaiki peralatan
rumah tangganya. Yang jelas, semenjak dia mengajaku melukis pergi ke lereng gunung dan making love di semak-semak hutan, Mbak Yani makin sering mengajakku pergi. Dan sore ini dia memintaku datang ke rumahnya lagi.

Tanpa banyak pikir aku langsung berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Maklum, rumahnya terbilang cukup jauh, sekitar 5km dari rumahku. Setibanya di rumah Mbak Yani, suasana sepi.
Keluarganya tampaknya sedang pergi.Betul, ketika aku mengetuk pintu, hanya Mbak Yani yang tampak.
“Ayo, cepet masuk. Semua keluargaku sedang pergi menghadiri acara hajatan saudar di luar kota,” sambut Mbak Yani sambil menggandeng tangganku.
Darahku mendesir ketika membuntuti langkah Mbak Yani. Betapa tidak, pakaian yang dikenakan luar biasa sexy, hanya sejenis daster pendek hingga tonjolan payudara dan pahanya terasa menggoda.

“Anu, Bud… Listrik rumahku mati melulu. Mungkin ada ada
kabel yang konslet. Tolong betulin, ya… Kau tak keberatan
kan?” pinta Mbak Yani kemudian.
Tanpa banyak basa-basi Mbak Yani menggandengku masuk ke ruang tengah, kemudian masuk ke sebuah kamar.
“Nah saya curiga jaringan di kamar ini yang rusak. Buruan kau
teliti ya. Nanti keburu mahrib.”

Aku hanya menuruti segala permintaannya. Setelah merunutu
jaringan kabel, akhirnya aku memutusukan untuk memanjat atap kamar melalui ranjang. Tapi aku tidak tahu persis, kamar itu tempat tidur siapa. Yang jelas, aku sangat yakin itu bukan
kamarnya bapak-ibunya. Celakanya, ketika aku menelusuri
kabel-kabel, aku belum menemukan kabel yang lecet. Semuanya beres. Kemudian aku pindah ke kamar sebelah. aku juga tak bisa menemukan kabel yang lecet. Kemudian pindah ke kamar lain lagi, sampai akhirnya aku harus meneliti kamar tidur Mbak Yani sendiri, sebuah kamar yang dipenuhi dengan aneka lukisan sensual. Celakanya lagi, ketika hari telah gelap, aku belum bisa menemukan kabel yang rusak. Akibatnya, rumah Mbak Yani tetap gelap total. Dan aku hanya mengandalkan bantuan sebuah senter serta lilin kecil yang dinyalakan Mbak Yani.

Lebih celaka lagi, tiba-tiba hujan deras mengguyur seantero
kota. Tidak-bisa tidak, aku harus berhenti. Maunya aku ingin
melanjutkan pekerjaan itu besok pagi.
“Wah, maaf Mbak aku tak bisa menemukan kabel yang rusak. Ku pikir, kabel bagian puncak atap rumah yang kurang beres. Jadi besok aku harus bawa tangga khusus,” jelasku sambil melangkah keluar kamar.
“Yah, tak apa-apa. Tapi sorry yah. Aku…. merepotkanmu,”
balas Mbak Yanti.
“Itu es tehnya diminum dulu.”

Sementara menunggu hujan reda, kami berdua berakap-cakap
berdua di ruang tengah. Cukup banyak cerita-cerita masalah
pribadi yang kami tukar, termasuk hubunganku dengan Mbak Yani selama ini. Mbak Yani juga tidak ketinggalan menanyakan soal puisi indah tulisannya yang dia kirimkan padaku lewat kado ulang tahunku beberapa bulan lalu.

Entah bagiamana awalnya, tahu-tahu nada percakapan kami
berubah mesra dan menjurus ke arah yang menggairahkan jiwa. Bahkan, Mbak Yani tak segan-segan membelai wajahku, mengelu telingkau dan sebagianya. Tak sadar, tubuh kami berdua jadi berhimpitan hingga menimbulkan rangsangan yang cukup berarti untukku. Apalagi setelah dadaku menempel erat pada payudaranya yang berukuran tidak begitu besar namun bentuknya indah dan kencang. Dan tak ayal lagi, penisku pun mulai berdiri mengencang. Aku tak sadar, bahwa aku sudah terangsang oleh guru sekolahku sendiri! Namun hawa nafsu birahi yang mulai melandaku sepertinya mengalahkan akal sehatku. Mbak Yani sendiri juga tampaknya memiliki pikiran yang sama saja. Ia tidak henti-hentinya mengulumi bibirku dengan nafsunya.

Akhirnya, nafsuku sudah tak tertahankan lagi. Sementara
bibirku dan Mbak Yani masih tetap saling memagut, tanganku
mulai menggerayangi tubuh guru sekolahku itu. Kujamah gundukan daging kembar yang menghiasi dengan indahnya dada Mbak Yani yang masih berpakaian lengkap. Dengan segera kuremas-remas bagian tubuh yang sensitif tersebut.

“Aaah… Budi… aah…” Mbak Yani mulai melenguh kenikmatan.
Bibirnya masih tetap melahap bibirku.

Mengetahui Mbak Yani tidak menghalangiku, aku semakin berani. Remasan-remasan tanganku pada payudaranya semakin menjadi-jadi. Sungguh suatu kenikmatan yang baru pertama kali kualami meremas-remas benda kembar indah nan kenyal milik guru sekolahku itu. Melalui kain blus yang dikenakan Mbak Yani kuusap-usap ujung payudaranya yang begitu menggiurkan itu. Tubuh Mbak Yani mulai bergerak menggelinjang.

“Uuuuhhh… Mbak…..” Aku mendesah saat merasakan ada jamahan yang mendarat di selangkanganku. Penisku pun bertambah menegang akibat sentuhan tangan Mbak Yani ini, membuatku bagian selangkangan celana panjangku tampak begitu menonjol.
Mbak Yani juga merasakannya, membuatnya semakin bernafsu
meremas-remas penisku itu dari balik celana panjangku. Nafsu
birahi yang menggelora nampaknya semakin menenggelamkan kami berdua, sehingga membuat kami melupakan hubungan kami sebagai guru-murid.

“Aaauuhh… Bud… uuuh…..” Mbak Yani mendesis-desis dengan
desahannya karena remasan-remasan tanganku di payudaranya bukannya berhenti, malah semakin merajalela. Matanya terpejam merasa kenikmatan yang begitu menghebat.

Tanganku mulai membuka satu persatu kancing blus Mbak Yani dari yang paling atas hingga kancing terakhir. Lalu Mbak Yani sendiri yang menanggalkan blus yang dikenakannya itu. Aku terpana sesaat melihat tubuh guru sekolahku itu yang putih dan mulus dengan payudaranya yang membulat dan bertengger dengan begitu indahnya di dadanya yang masih tertutup beha katun berwarna krem kekuningan. Tetapi aku segera tersadar, bahwa pemandangan amboi di hadapannya itu memang tersedia untukku, terlepas itu milik guru sekolahku sendiri.

Tidak ingin membuang-buang waktu, bibirku berhenti menciumi
bibir Mbak Yani dan mulai bergerak ke bawah. Kucium dan
kujilati leher jenjang Mbak Yani, membuatnya
menggelinjal-gelinjal sambil merintih kecil. Sementara itu,
tanganku kuselipkan ke balik beha Mbak Yani sehingga
menungkupi seluruh permukaan payudara sebelah kanannya. Puting susunya yang tinggi dan mulai mengeras begitu menggelitik telapak tanganku. Segera kuelus-elus puting susu yang indah itu dengan telapak tanganku. Kepala Mbak Yani tersentak menghadap ke atas sambil memejamkan matanya. Tidak puas dengan itu, ibu jari dan telunjukku memilin-milin puting susu Mbak Yani yang langsung saja menjadi sangat keras. Memang baru kali ini aku menggeluti tubuh indah seorang wanita. Namun memang insting kelelakianku membuatku seakan-akan sudah mahir melakukannya.

“Iiiihh….. auuuhhh….. aaahhh…..” Mbak Yani tidak dapat
menahan desahan-desahan nafsunya. Segala gelitikan
jari-jemariku yang dirasakan oleh payudara dan puting susunya
dengan bertubi-tubi, membuat nafsu birahinya semakin
membulak-bulak.

Kupegang tali pengikat beha Mbak Yani lalu kuturunkan ke
bawah. Kemudian beha itu kupelorotkan ke bawah sampai ke perut Mbak Yani. Puting susu Mbak Yani yang sudah begitu mengeras itu langsung mencelat dan mencuat dengan indahnya di depanku. Aku langsung saja melahap puting susu yang sangat menggiurkan itu. Kusedot-sedot puting susu Mbak Yani. Kuingat masa kecilku dulu saat masih menyusu pada payudara ibuku. Bedanya, tentu saja payudara guru sekolahku ini belum dapat mengeluarkan air susu. Mbak Yani menggeliat-geliat akibat rasa nikmat yang begitu melanda kalbunya. Lidahku dengan mahirnya tak ayal menggelitiki puting susunya sehingga pentil yang sensitif itu melenting ke kiri dan ke kanan terkena hajaran lidahku.

“Oooh…. Buuuuuuuud” desahan Mbak Yani semakin lama bertambah keras. Untung saja rumahnya sedang sepi dan letaknya memang agak berjauhan dari rumah yang paling dekat, sehingga tidak mungkin ada orang yang mendengarnya.

Belum puas dengan payudara dan puting susu Mbak Yani yang
sebelah kiri, yang sudah basah berlumuran air liurku, mulutku
kini pindah merambah bukit membusung sebelah kanan. Apa yang kuperbuat pada belahan indah sebelah kiri tadi, uperbuat pula pada yang sebelah kanan ini. Payudara sebelah kanan milik guru sekolahku yang membulat indah itu tak luput menerima jelajahan mulutku dengan lidahnya yang bergerak-gerak dengan mahirnya. Kukulum ujung payudara Mbak Yani. Lalu kujilati dan kugelitiki puting susunya yang tinggi. Puting susu itu juga sama melenting ke kiri dan ke kanan, seperti halnya puting susu payudaranya yang sebelah kiri tadi. Mbak Yani pun semakin merintih-rintih karena merasakan geli dan nikmat yang menjadi-jadi berbaur menjadi satu padu. Seperti tengah minum soft drink dengan memakai sedotan plastik, kuseruput puting susu guru sekolahku itu.

“Buuuddd….. Aaaahhhhh…..” Mbak Yani menjerit panjang.

Lidahku tetap tak henti-hentinya menjilati puting susu Mbak
Yani yang sudah demikian kerasnya. Sementara itu tanganku
mulai bergerak ke arah bawah. Kubuka retsleting celana jeans
yang Mbak Yani kenakan. Kemudian dengan sedikit dibantunya
sambil tetap merem-melek, kutanggalkan celana jeans itu ke
bawah hingga ke mata kaki. Tubuh bagian bawah Mbak Yani
sekarang hanya dilindungi oleh selembar celana dalam dengan
bahan dan warna yang seragam dengan behanya. Meskipun begitu, tetap dapat kulihat warna kehitaman samar-samar di bagian selangkangannya.

Ditunjang oleh nafsu birahi yang semakin menjulang tinggi,
tanpa berpikir panjang lagi, kulepas pula kain satu-satunya
yang masih menutupi tubuh Mbak Yani yang memang sintal itu.
Dan akhirnya tubuh mulus guru sekolahku itu pun terhampar
bugil di depanku, siap untuk kunikmati.

Tak ayal, jari tengahku mulai menjamah bibir vagina Mbak Yani
di selangkangannya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu tipis
kehitaman walaupun belum begitu banyak. Kutelusuri sekujur
permukaan bibir vagina itu secara melingkar berulang-ulang
dengan lembutnya. Tubuh Mbak Yani yang masih terduduk di sofa melengkung ke atas dibuatnya, sehingga payudaranya semakin membusung menjulang tinggi, yang masih tetap dilahap oleh mulut dan bibirku dengan tanpa henti.

“Oooohhh….. Budddyyyy….. Iiiihhh….. Buuud…..!”

Jari tengahku itu berhenti pada gundukan daging kecil berwarna
kemerahan yang terletak di bibir vagina Mbak Yani yang mulai
dibasahi cairan-cairan bening. Mula-mula kuusap-usap daging
kecil yang bernama klitoris ini dengan perlahan-lahan.
Lama-kelamaan kunaikkan temponya, sehingga usapan-usapan tersebut sekarang sudah menjadi gelitikan, bahkan tak lama kemudian bertambah lagi intensitasnya menjadi sentilan. Klitoris Mbak Yani yang bertambah merah akibat sentuhan jariku yang bagaikan sudah profesional, membuat tubuh pemiliknya itu semakin menggelinjal-gelinjal tak tentu arahnya.

Melihat Mbak Yani yang tampak semakin merangsang, aku menambah kecepatan gelitikanku pada klitorisnya. Dan akibatnya, klitoris Mbak Yani mulai membengkak. Sementara vaginanya pun semakin dibanjiri oleh cairan-cairan kenikmatan yang terus mengalir dari dalam lubang keramat yang masih sempit itu.

Puas menjelajahi klitoris Mbak Yani, jari tengahku mulai
merangsek masuk perlahan-lahan ke dalam vagina guru sekolahku itu. Setahap demi setahap kumasukkan jariku ke dalam vaginanya. Mula-mula sebatas ruas jari yang pertama. Dengan susah payah memang, sebab vagina Mbak Yani memang masih teramat sempit. Kemudian perlahan-lahan jariku kutusukkan lebih dalam lagi. Pada saat setengah jariku sudah amblas ke dalam vagina Mbak Yani, terasa ada hambatan. Seperti adanya selaput yang cukup lentur.

“Aiiihh… Bud…” Mbak Yani merintih kecil seraya meringis
seperti menahan rasa sakit. Saat itu juga, aku langsung sadar,
bahwa yang menghambat penetrasi jari tengahku ke dalam vagina Mbak Yani adalah selaput daranya yang masih utuh. Ternyata guru sekolahku satu-satunya itu masih perawan. Baru aku tahu, ternyata sebandel-bandelnya Mbak Yani, ternyata guru sekolahku itu masih sanggup memelihara kehormatannya. Aku sedikit salut padanya. Dan untuk menghargainya, aku memutuskan tidak akan
melanjutkan perbuatanku itu.

“Bud….. Kok distop…..” tanya Mbak Yani dengan nafas
terengah-engah.

“Mbak, Mbak kan masih perawan. Nanti kalo aku terusin kan Mbak
bisa…..”

Mbak Yani malah menjulurkan tangannya menggapai
selangkanganku. Begitu tangannya menyentuh ujung penisku yang masih ada di dalam celana pendek yang kupakai, penisku yang tadinya sudah mengecil, sontak langsung bergerak mengeras kembali. Ternyata sentuhan lembut tangannya itu berhasil membuatku terangsang kembali, membuatku tidak dapat membantah apapun lagi, bahkan aku seperti melupakan apa-apa yang kukatakan barusan.

Dengan secepat kilat, Mbak Yani memegang kolor celana pendekku itu, lalu dengan sigap pula celanaku itu dilucutinya sebatas lutut. Yang tersisa hanya celana dalamku. Mata Mbak Yani tampak berbinar-binar menyaksikan onggokan yang cukup besar di selangkanganku. Diremas-remasnya penisku dengan tangannya, membuat penisku itu semakin bertambah keras dan bertambah panjang. Kutaksir panjangnya sekarang sudah bertambah dua kali lipat semula. Bukan main! Semua ini akibat rangsangan yang kuterima dari guru sekolahku itu sedemikian hebatnya.

“Mbak….. aku buka dulu ya,” tanyaku sambil menanggalkan
celana dalamku.

Penisku yang sudah begitu tegangnya seperti meloncat keluar
begitu penutupnya terlepas.

“Aw!” Mbak Yani menjerit kaget melihat penisku yang begitu
menjulang dan siap tempur. Namun kemudian ia meraih penisku itu dan perlahan-lahan ia menggosok-gosok batang ‘meriam’-ku itu, sehingga membuat otot-otot yang mengitarinya bertambah jelas kelihatan dan batang penisku itu pun menjadi laksana tonggak yang kokoh dan siap menghujam siapa saja yang menghalanginya. Kemudian Mbak Yani menarik penisku dan membimbingnya menuju selangkangannya sendiri. Diarahkannya penisku itu tepat ke arah lubang vaginanya.

Sekilas, aku seperti sadar. Astaga! Mbak Yani kan guru
sekolahku sendiri! Apa jadinya nanti jika aku sampai
menyetubuhinya? Apa kata orang-orang nanti mengetahui aku
berhubungan seks dengan guru sekolahku sendiri?

Akhirnya aku memutuskan tidak akan melakukan penetrasi lebih jauh ke dalam vagina Mbak Yani. Kutempelkan ujung penisku ke bibir vagina Mbak Yani, lalu kuputar-putar mengelilingi bibir gua tersebut. Mbak Yani menggerinjal-gerinjal merasakan sensasi yang demikian hebatnya serta tidak ada duanya di dunia ini.

“Aaahhh….. uuuhhhh…..” Mbak Yani mendesah-desah dengan
Yanirnya sewaktu aku sengaja menyentuhkan penisku pada
klitorisnya yang kemerahan dan kini kembali membengkak.
Sementara bibirku masih belum puas-puasnya berpetualang di
payudara Mbak Yani itu dengan puting susunya yang
menggairahkan. Terlihat payudara guru sekolahku itu dan daerah sekitarnya basah kuyup terkena jilatan dan lumatanku yang begitu menggila, sehingga tampak mengkilap.

Aku perlahan-lahan mulai memasukkan batang penisku ke dalam lubang vagina Mbak Yani. Sengaja aku tidak mau langsung menusukkannya. Sebab jika sampai kebablasan, bukan tidak mungkin dapat mengoyak selaput daranya. Aku tidak mau melakukan perbuatan itu, sebab bagaimanapun juga Mbak Yani adalah guru sekolahku, darah dagingku sendiri!

Mbak Yani mengejan ketika kusodokkan penisku lebih dalam lagi ke dalam vaginanya. Sewaktu kira-kira penisku amblas hampir setengahnya, ujung “tonggak”-ku itu ternyata telah tertahan oleh selaput dara Mbak Yani, sehingga membuatku menghentikan hujaman penisku itu. Segera saja kutarik penisku perlahan-lahan dari Yaning surgawi milik guru sekolahku itu. Gesekan-gesekan yang terjadi antara batang penisku dengan dinding lorong vagina Mbak Yani membuatku meringis-ringis menahan rasa nikmat yang yang tak terhingga. Baru kali ini aku merasakan sensasi seperti ini. Lalu, kembali kutusukkan penisku ke dalam vagina Mbak Yani sampai sebatas selaput daranya lagi dan kutarik lagi sampai hampir keluar seluruhnya.

Begitu terus kulakukan berulang-ulang memasukkan dan
mengeluarkan setengah batang penisku ke dalam vagina Mbak
Yani. Dan temponya pun semakin lama semakin kupercepat.
Gesekan-gesekan batang penisku dengan Yaning vagina Mbak Yani semakin menggila. Rasanya tidak ada lagi di dunia ini yang dapat menandingi kenikmatan yang sedang kurasakan dalam permainan cintaku dengan guru sekolahku sendiri ini.
Kenikmatan yang pertama dengan kenikmatan berikutnya,
disambung dengan kenikmatan selanjutnya lagi, saling
susul-menyusul tanpa henti.

Tampaknya setan mulai merajalela di otakku seiring dengan
intensitas gesekan-gesekan yang terjadi di dalam vagina Mbak
Yani yang semakin tinggi. Kenikmatan tiada taranya yang serasa tidak kesudahan, bahkan semakin menjadi-jadi membuat aku dan Mbak Yani menjadi lupa segala-galanya. Aku pun melupakan semua komitmenku tadi.

Dalam suatu kali saat penisku tengah menyodok vagina Mbak
Yani, aku tidak menghentikan hujamanku itu sebatas selaput
daranya seperti biasa, namun malah meneruskannya dengan cukup keras dan cepat, sehingga batang penisku amblas seluruhnya dalam vagina Mbak Yani. Vaginanya yang amat sempit itu berdenyut-denyut menjepit batang penisku yang tenggelam sepenuhnya.

“Aaaauuuuwwww…..” Mbak Yani menjerit cukup keras kesakitan.
Tetapi aku tidak menghiraukannya. Sebaliknya aku semakin
bernafsu untuk memompa penisku itu semakin dalam dan semakin cepat lagi penetrasi di dalam vagina Mbak Yani. Tampaknya rasa sakit yang dialami guru sekolahku itu tidak membuat aku mengurungkan perbuatan setanku. Bahkan genjotan penisku ke dalam lubang vaginanya semakin menggila. Kurasakan, semakin cepat aku memompa penisku, semakin hebat pula gesekan-gesekan yang terjadi antara batang penisku itu dengan dinding vagina Mbak Yani, dan semakin tiada tandingannya kenikmatan yang
kurasakan.

Hujaman-hujaman penisku ke dalam vagina Mbak Yani
terus-menerus terjadi sambung-menyambung. Bahkan tambah lama bertambah tinggi temponya. Mbak Yani tidak sanggup berbuat apa-apa lagi kecuali hanya menjerit-jerit tidak karuan.
Rupa-rupanya setan telah menguasai jiwa kami berdua, sehingga kami terhanyut dalam perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh dua guru dan murid.

“Aaaah….. Budi….. aaahhh…..” Mbak Yani menjerit panjang.
Tampaknya ia sudah seakan-akan terbang melayang sampai langit ketujuh. Matanya terpejam sementara tubuhnya bergetar dan menggelinjang keras. Peluh mulai membasahi tubuh kami berdua. Kutahu, guru sekolahku itu sudah hampir mencapai orgasme. Namun aku tidak mempedulikannya. Aku sendiri belum merasakan apa-apa. Dan lenguhan serta jeritan Mbak Yani semakin membuat tusukan-tusukan penisku ke dalam vaginanya bertambah menggila lagi. Mbak Yani pun bertambah keras jeritan-jeritannya. Pokoknya suasana saat itu sudah gaduh sekali. Segala macam lenguhan, desahan, ditambah dengan jeritan berpadu menjadi satu.

Akhirnya kurasakan sesuatu hampir meluap keluar dari dalam
penisku. Tetapi ini tidak membuatku menghentikan penetrasiku pada vagina Mbak Yani. Tempo genjotan-genjotan penisku juga tidak kukurangi. Dan akhirnya setelah rasanya aku tidak sanggup menahan orgasmeku, kutarik penisku dari dalam vagina Mbak Yani secepat kilat. Kemudian dengan tempo yang tinggi, kugosok-gosok batang penisku itu dengan tanganku. Tak lama kemudian, cairan-cairan kental berwarna putih bagaikan layaknya senapan mesin bermuncratan dari ujung penisku. Sebagian mengenai muka Mbak Yani. Ada pula yang mengenai payudara dan bagian tubuhnya yang lain. Bahkan celaka! Ada pula yang belepotan di jok sofa yang diduduki Mbak Yani. Ditambah dengan darah yang mengalir dari dalam vaginanya, menandakan keperawanan guru sekolahku itu berhasil direnggut olehku, adik kandungnya sendiri!

Dan akhirnya karena kehabisan tenaga, aku terhempas begitu
saja ke atas sofa di samping Mbak Yani. Tubuh kami berdua
sudah bermandikan keringat dari ujung rambut ke ujung kaki.
Aku hanya mengenakan kaus oblong saja, sedangkan Mbak Yani telanjang bulat tanpa selembar benangpun yang menutupi
tubuhnya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.