Tantehot's Blog

ML dengan sekretaris

Posted in wanita karir by tantehot on March 19, 2010

kantorku ada di sudirman plaza, lantai belasan. dengan ruang di pojokan dan view penuh ke arah jalanan. pagi hari mataku dibasuh oleh lalu lalang paha yang mulus dan dada penuh wanita wanita karir yang terpampang di lensa teropong kecilku. dasar wanita, selalu ingin dikagumi. dan aku tak malu untuk mengakui bila selalu aku mengagumi mereka. dan tentu menikmati pula. dengan teropongku. dan dengan yang lain pula.

perusahaan finance tempat aku hidup bukanlah yang terbesar diantara ribuan perudahaan yang sama yang ada di jakarta. namun jelas bukan yang terkecil, karena perusahaan ini telah setuju membayarku dengan gaji yang .. hmm lumayan. meski untuk itu aku harus menyerahkan segalanya. seluruh waktuku, meninggalkan hobbyku, sahabatku, semuanya. dan menukarnya dengan jutaan digit angka angka yang mengaduk aduk otakku, bahkan mengganggu mimpiku dengan mimpi menakutkan, mimpi jorok bahkan sangat menjijikkan.

karena itu aku selalu merasa untuk harus memiliki sesuatu kegiatan yang bisa meredakan tekanan ini. dan karena jelas waktuku telah dibeli lunas perusahaan sialan ini ya aku memindahkan kegiatan ini ke kantorku saja.

awalnya browsing situs porno memuaskan aku. lalu tidak lagi. menghadirkan situs cerita panas cukup menghibur. lalu tidak terlalu lagi. maka mau tidak mau aku menyajikan laga seru tepat di meja kerjaku. dan siapa lagi bintang utamanya kalau bukan aku. dan tentu saja salah seorang anak buah kesayanganku, yanti. seorang sarjana ekonomi, fresh graduate, dari kota yang sama, yang sama tejebaknya di kota penuh nafsu ini.

awalnya asal usul yang sama membuat kami merasa lebih istimewa dibanding dengan teman yang lain. aku membuat peluang untuk menjadi lebih dekat. lalu beban pekerjaan yang sama. membuat kami semakin dekat. tetapi jelas buatku untuk berpacaran bukanlah suatu pilihan. aku tak ingin terikat.

dulu aku merasa rambutnya yang panjang dan selalu harum itu begitu menarik. aku katakan itu padanya dan kami menjadi semakin dekat. lalu aku juga merasa matanya adalah mata terindah yang pernah aku temui. aku juga katakan itu dan kami juga semakin dekat. terakhir aku mulai merasa kalau dadanya yang sedang sedang saja itulah yang paling indah di dunia, juga pantat yang menonjol di bawah pinggang yang ramping itu. apalagi kalau ke bawah lagi, pahanya putih mulus lus lus sampai kaki terbalut sepatu hak tinggi itu adalah daya tarik yang tak dapat kutahan lagi. tetapi ini tidak aku katakan.

aku tersenyum sendiri. menghirup kopi. lalu meraih sebuah laporan di mejaku.
beberapa saat mataku terpaku pada angka angka yang ada di sebuah neraca balance. otakku berputar sebagai mesin hitung termahal didunia. lalu aku menarik kesimpulan dan tersenyum. tak ada masalah. aku selalu tersenyum bila tak ada masalah.

tapi kadang angka angka yang banyak dapat memancing libidoku. seperti kali ini. apalagi saat aku lihat paraf dipojok yang menyatakan kalau penyusun laporan ini yanti. otakku menyusun sebuah bayangan deretan angka-angka dengan latar belakang yanti, tanpa busana dan meiuk liuk menarikan sesuatu yang erotis.

kuraih telfon. tat tit tut tat tit tut.
‘halo …’
‘yanti ..’
suara diseberang menyahut lembut.
‘aku udah baca portfolio klien kita diutara..’
suara merdu kembali bergumam akrab, berisi penjelasan dan sedikit gurau. dia memang tidak pernah canggung menghadapiku. pengakuannya aku telah dianggapnya sebagai saudara tuanya sendiri. dan pengakuanku aku menganggapnya sebagai korban yang potensial. tentu saja cukup pengakuan dalam hati.
‘udah kamu kesini aja terangin langsung. aku gak nyambung.’
ceklek. telfon kututup. peluang kubuka.

tidak lama menungu si sintal itu datang. blazer tanpa dalaman membuat aku terkesiap. juga milikku. da di du dia menerangkan ini itu sambil duduk didepanku. mataku bekerja keras, sebentar ke angka angka, sebentar ke wajahnya biar dia tankap keseriusanku, sebentar ke belahan dadanya. shit, andai aku bisa berubah jadi nyamuk dan terjepit di tengahnya. da di du, ia terus menerangkan.

aku menghela nafas, menunjukkan ketidaknyamanan atas keterangannya dan posisi duduk kami.
‘udah, coba kamu ke samping sini, terangkan lagi, gak enak ngeliat huruf terbalik.’

dia beranjak, lalu pidah ke sampingku. bagiku gerakannya seperti potongan film bioskop dalam gerak lambat memutari meja besar milikku dan berdiri disampingku. lalu merunduk. tubuh kami begitu dekat. lalu … da di di du, kembali dia menyerocos menerangkan laporan tanpa masalah itu. sambil memainkan kata oh ini, oh itu, tangan kananku hinggap di pinggulnya. entah dia sadar ata tidak, yang jelas yanti diam saja.

cerocosannya tentang angka angka itu seperti background music yang indah bagiku dan cerita utamanya adalah gerakan tanganku yang mulai meremas, dan meraba wilayah pinggul indah itu.

yanti tiba tiba diam.
‘pak …’, protesnya. sambil mendelik.
’sst…’, kataku sambil tersenyum dan sambil meremas. kali ini agak ke bawah.
‘pak, saya tidak suka …’
hmmmp, kuraih pundaknya yang rendah karena merunduk, kutarik dan kujejali mulutnya dengan lidahku yang mendidih. dia menolak. wajar. namanya juga pembukaan.
saat rongga mulutku dipenuhi oleh daun telinganya dia berbisik.
‘jangan pak ..’
aku tak peduli. pegangan tangan kiriku di rambutnya kupererat mencegah leher jenjangnya menjauh dari bibirku yang lapar. tangan kananku membasuh punggungnya, pantatnya juga pahanya. lalu kubisikkan.
‘aku sayang kamu yan’, tentu saja itu gombal,’sangat sayang’.
bagiku sayang itu artinya nggak keberatan kalau mengeluarkan sekian ruiah untuk makan, nonton plus plus, asal aku dapat yang lain. hi hi hi. dasar.

entah bagaimana detailnya, tapi aku rasa perubahan itu berlangsung hanya beberapa menit. dan kini kami telah saling berpagutan. bibir kami mengeluarkan jurus jurus andalan dan pamungkas seolah saling berusaha untuk mengalahkan. dan tanganku … aku tak ingat telah kemana saja. yang pasti pantat itu kini kuremas tanpa terhalang lagi oleh rok span warna kelabu miliknya.

rok itu telah tersingkap dan kini tanganku menyusup dalam celana dalamnya yang sialan ketatnya. yanti mendesah, lehernya basah oleh liurku yang menyapu panas. matanya terpejam penuh penghayatan. aku nggak tahu kenapa wanita yang terpejam dengan mulut menganga selalu membuat diriku kejang kepanasan.

kubalikkan tubuhnya. kini dia merunduk bertumpu pada meka kerjaku. tanganku menyusup pada blazernya. keduanya. meremas payudaranya yang telah mengeras kenyal. dia mendesah.
kutekan keras keras milikku ke belahan pinggulnya. dan kurapatkan dadaku ke punggungnya. terasa dia bergerak gerak, pinggulnya menekan nekan milikku dan kami saling bergesekan.

kulepas satu demi satu kancing blazernya dengan tangan kiri. sengaja, semakin sulit semakin indah. dia melenguh. tangan kananku menyingkap rok depannya dan menempatkan jariku berputar putar lembut di kemaluannya.

kubiarkan beberapa saat seperti itu. kami saling berpagutan dalam posisi sulit. dia membelakangi aku. tangan kiriku bebas memiliki dadanya yang terbuka. blazernya telah turun setengah dan menyajikan punggungnya untuk kusapu bersih dengan lidahku yang panas membara. tangan kananku menelusup dalam di rongga itu. ada bunyi kecipak kecil disana.

nafasnya memburu deras. tangan kirinya bertumpu di meja dan tangan kanannya menjambak rambutku. tubuhnya masih meliuk liuk penuh sensasi. kami berpagutan lagi. lama. pinggulnya berputar putar. ooh, indah sekali rasanya.

kemudian kulepaskan semua tanganku dan kubuka celanaku dengan tergesa. dia masih diposisi semula. melihat keluarnya kemaluanku dari sarangnya dengan sorot mata sayu. kupelorotkan celana dalamnya dan memperlihatkan hamburger merah dalam posisi vertikal itu telah siap disikat.

kutuntun si hitam kebibir bawahnya. dia mendesah. mengatakan sesuatu. aku tak mendengar karena full konsentrasi dengan tugas ini. dengan menahan nafas, kumasukkan perlahan milikku ke milikknya. dia mengerang tertahan. tubuhnya merebah ke depan mempermudah prosesi ini.

aku mengerang. dia mengerang. dan kami saling mengeliat menahan kenikmatan ini. wajahnya tersandar pada meja kerja. matanya terpejam dan bibirnya merekah merintih dengan nafas yang ditahan tahan. aku memacu pinggul dan pinggangku dengan keras. kecepatan penuh.

suara kecipak semakin keras. biar saja. toh pintu tertutup rapat. suara kami jelas tak bakalan terdengar tertimpa suara musik standar gedung yang mengalun di setiap ruangan.

kuremas keras buah dadanya. kujilat punggungnya, kugigit pundaknya kkuhisap telinganya. aku menikmati setiap hentakan pinggulku yang menancapkan milikku pada titik terdalam dengan kecepatan maksimal.

dia melenguh. kadang kepalanya bergeleng kesana kemari. matanya terpejam erat, bibirnya terbuka menyemburkan nafasnya yang tersengal sengal keras. tangannya melekat di permukaan meja. jari kanannya meremas tepi meja menonjolkan urat-urat kecil di permukaan lengannya. pinggulnya menyentak nyentak mengikuti gerakan pinggangku.

terasa panas di seluruh dadaku. gelombang kenikmatan bertalu talu turun dari atas tubuh ke titik di bawah kemaluanku. rabaanku ke punggungnya, remasanku di payudara kenyal itu, genggamanku di pinggulnya dan gesekan telapak tanganku di pahanya menimbulkan sensasi yang memperkuat gelombang kenikmatan itu.

di berteriak kecil. berkali kali. tubuhnya meliuk bagai busur. mukanya menengadah keatas dengan mulut terbuka penuh. lututnya melonjak lonjak kecil mengarahkan miliknya menyongsong seranganku. dirasakannya perutnya seperti diaduk aduk. dan dunia terasa seolah gelap berbintang bintang.

kami bergumul semakin liar. lonjakan lonjakan kami semakin tak terkontrol. gelombang itu tak dapat kutahan lagi. terasa panas seolah ada diubun ubun. lalu kurengkuh tubuhnya dengan sangat erat. kami saling melekat dengan sangat erat. dan yanti berteriak keras. dia orgasme. gelora deras meluncur deras dari seluruh ujung syaraf dan berkumpul di kemaluannya. tak kuat lagi ia menahan perasaan itu. kulumat bibirnya yang terasa sangat dingin. lalu keluarlah panas yang tak dapat kutahan itu dari tubuhku. deras. berkali kali. diiring tubuhku yang mengejan ngejan kaku.

kami berpelukan lama. melepas ketgangan ini. dan berangsur angsur mengembalikan kesadaran kami. ruangan yang tadinya terlihat kabur sedikit demi sedikit menjadi jelas.
meja, kursi, deretan cendera mata …

tubuhku jatuh ke kursi kerja masih dengan nafas yang terengah engah. tubuh yanti meorot ke lantai karpet. lalu bersandar di dinding kaca pembatas. terlihat tubuh seksinya dengan dada terbuka menampakkan payudara indah itu disana, blazer yang turun hinga lengan membebaskan seluruh pundaknya, dan rok yang tersingkap di pinggang serta celana dalam yang turun di pergelangan kaki. dia duduk berselonjor bersandar di dinding, terlihat begitu seksi memperlihatkan gundukan hitam di pangkal paha dalam backgroun tubuh jalan raya sudirman yang ramai.

Nikmatnya dokter cantik

Posted in wanita karir by tantehot on March 19, 2010

Setelah berputar putar keliling kota. Akhirnya kutemukan juga tempat praktek sunat. Hati-hati aku masuk kedalam dan, terjadilah yang kutakutkan. Terlihat banyak anak kecil yang antre untuk disunat. Aargh.. tidaak. Rasa malu kembali mengalahkan logika. Sehingga aku pun ngacir pergi dari tempat itu dan bertekad untuk mencari tempat lain saja. Namun keadaan semakin sulit karena kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 19.00. Waduh, bisa batal ini, dan Ine pasti marah lagi padaku besok, kenapa tadi aku tidak sunat saja ditempat yang banyak anak kecil itu, kataku dalam hati. Jam menunjukkan pukul 19.30 aku melihat papan nama sebuah klinik yang melayani penyunatan. Kali ini aku sudah bertekad untuk tidak akan lari apapun yang terjadi, ini demi rasa sayangku pada Ine, aku tidak mau mengecewakannya lagi. Dengan jantung berdegup kencang, kudorong pintu kaca depan klinik dan.. thank god, tidakada orang. Hanya ada seorang perawat, yang menurutku lumayan cantik, beranjak menyambutku dan menanyakan keperluanku dengan ramah. Aku menjawab “Emm, benar disini bisa sunat suster?”
“Oh betul sekali bapak. Nah, dimana anaknya yang mau disunat pak?” Tanya suster itu.
Waduh, sialan, pertanyaan yang aku sangat tidak suka. Terlebih lagi untuk menjelaskan. “Engg, sebenarnya…. sebenarnya..” Aku merasa tidak sanggup mengucapkannya, ingin rasanya lari lagi namun bayangan Ine yang menangis tiba-tiba terlintas di benakku sehingga aku memutuskan untuk menjawabnya. Ah terserah sajalah kata orang, batinku. “Sebenarnya saya yang mau sunat sus..” There, selesai sudah, aku sudah berhasil mengatakannya. Rasanya seperti beban 100kg sudah terangkat dari pundakku.

Suster itu agak terkejut mendengarnya, yang membuatku lega, dia tidak menertawakanku seperti bayanganku semula. Tidak lama kemudian dia masuk kedalam untuk menemui dokternya, lalu kembali lagi kedepan menemuiku dan berkata “Baik pak, dokternya sudah siap, silahkan masuk.”
Akupun masuk kedalam ruang praktek dan.. aku kembali terkejut karena dokternya seorang wanita. Wah, masak aku mesti buka-bukaan didepan cewek selain Ine. Tetapi pikiran itu semakin memudar melihat sosok dokter itu yang cantik, sangat cantik bahkan. Kalau kutaksir kira-kira umurnya baru 23 mungkin 24, pastilah baru lulus dan buka praktek batinku, ukuran dadanya… tidak terlalu kelihatan karena ia memakai jubah khas dokter yang putih.
“Eee, dokter yang nanti……” Kata-kataku terputus. “Ya betul mas, saya yang akan menyunat anda.” Katanya sambil tersenyum ramah. Kemudian dokter itu memintaku untuk melepas celana berikut celana dalamku. Wah, aku degdegan juga karena harus mengekspos bagian pribadiku dihadapan lawan jenis yang tidak kukenal. Perlahan tapi pasti, celana jeansku beserta celana dalamku sudah terlepas sehingga kemaluanku kini gandul-gandul dihadapan dokter tersebut. Dokter itu sendiri tidak terlalu memperhatikan karena sibuk menyiapkan peralatannya. Baru kemudian ia memandang penisku ini. Entah apa yang ada dibenaknya karena kurasa, biasanya dia menyunat anak-anak, sekarang dia dihadapkan pada penis pria dewasa.

Dokter wanita itu memintaku duduk di atas meja periksa dan kemudian dia memakai sarung tangan lateks. Barulah kemudian kedua tangan dokter itu menuju ke arah alat kelaminku. Waduh, aku kembali dagdigdug. Kemaluanku ini kan bukan punyanya anak kecil. So, kalau dipegang-pegang, apalagi oleh lawan jenis, pasti bakalan bangkit dari tidurnya. Benar saja, sewaktu dokter itu memegang batang penisku, si junior langsung bangun dan mengembang dengan cepat menuju ukuran maksimalnya, 18cm. dokter itu terlihat terkejut sekali, entah itu terkejut karena adikku tiba-tiba bangun, atau terkejut karena ukuran adikku yang lumayan besar. “Eeh, maaf ya dok, ini… spontan soalnya.” Kataku dengan senyum yang kecut. “Oo, ee. nggak apa-apa kok.” Dokter itu sepertinya juga salah tingkah, mukanya memerah. Melihat itu, pikiran jorokku mulai bermain. Bagaimana kalau dokter cantik ini kusuruh melakukan handjob. Tentu ia kaget waktu tadi tahu pasiennya adalah pria dewasa. Nah, kalau kubilang bahwa aku tidak tahu cara mengecilkan kembali penisku ini kemungkinan ia akan percaya, apalagi hingga sebesar ini aku belum disunat.

“Mmmm, tapi saya tidak bisa mengkhitan kalau sedang…. begini.” Kata dokter itu padaku sambil sesekali memandang penis tegangku. “Lebih baik mas.. ee.. keluarkan dulu di kamar mandi baru kita lanjutkan.” Tambah dokter itu lagi. Akupun mulai aksi pura-pura bego, “keluarkan? Maksudnya apa dok? Saya kan lagi nggak kebelet pipis.” Jawabku dengan memasang tampang yang sebego mungkin. “Ee.. bukan pipis maksud saya. Maksudnya mas.. ee.. masturbasi dulu.” Jawab dokter itu gugup. Nah, umpanku mulai kena, batinku. “Mas.. apa dok, saya nggak ngerti. Setahu saya kalau lagi begini ya didiamkan aja, ntar juga kecil lagi. Kalau pagi-pagi bangun juga gitu dok, saya diemin aja.” Jawabku bego dengan penis yang tetap mengacung. “Memang caranya bagaimana dok?” Pancingku. “Ee.. ya, mas .. ngg.. kocok itunya, nanti kalau sudah keluar, pasti mengecil.” Jawab dokter itu dengan muka yang kian memerah. Hatiku semakin girang, pasti ia percaya kalau aku tidak tahu apa-apa tentang ini. “Bagaimana dok? Aduhh, saya nggak ngerti. Atau, dokter aja deh yang keluarkan. Saya takut soalnya saya bener-bener nggak ngerti soal ini.” Tambahku. Dokter itu tampak terperanjat dengan jawaban polosku tadi. Namun sepertinya ia kehabisan akal untuk mengajariku cara masturbasi, dan ia juga tampak tidak ingin berlama-lama dengan pasien yang satu ini. Akhirnya dokter itu setuju untuk melakukan handjob. Hehehe, berhasil!! Batinku. >:)

Pertama-tama, dokter itu menggenggam batang penisku dengan tangan kirinya yang masih terbungkus sarung tangan lateks. Kemudian ia mulai menggerakkan tangannya naik-turun. Ohh, gila, rasanya enak sekali. Apalagi kemudian dokter itu memainkan kedua buah zakarku dengan tangan kanannya yang, tentunya, juga masih bersarung tangan. Lalu, tangan kanannya digunakan untuk merangsang bagian sensitif penis pria, yaitu daerah dibawah kepala penis. Ahh, rasanya semakin nikmat, aku terkadang sampai memejamkan mataku untuk menikmati sensasinya. Tidak seberapa lama, cairan pelumas (cairan yang keluar jika pria terangsang) mulai menetes dari lubang kencingku. Dokter itu menadahinya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya yang mendapat giliran mengocok batang penisku. Setelah seluruh cairan pelumas keluar. Tangan kanannya behenti mengocok penisku dan tangan kirinya yang ada tetesan cairan tadi dipakai untuk mengocok batang penisku. Woow, sensasinya bebeda karena lebih licin rasanya. Nafasku mulai memburu, perjalanan menuju puncak sudah mencapai tengahnya. Dokter itu tidak mengurangi ritme kocokannya melainkan malah mempercepatnya, aah rasanya enak sekali apalagi karena ada cairan tadi. Lima menit kemudian aku sudah tidak tahan lagi, sedikit lagi sudah mencapai orgasme. “Aaaaaaa.. aaa.” pekikku. Dan sedetik kemudian “Aaahh… hhh… hhh.” Muntahlah spermaku ke lantai tempat praktek itu, sebagian mengenai pakaian dokter itu. Lega dan senang sekali rasanya, apalagi karena dokter cantik ini bersedia memberiku handjob, hehehe. Singkat cerita, akhirnya aku disunat juga, entah memakai metode apa, dan dokter itu bilang bahwa lukanya akan sembuh dalam waktu dua minggu. Sebelum pergi, aku menanyakan nama dokter itu, ternyata namanya Ika. Ternyata lagi, aku salah mengira, umurnya ternyata 27. Heh, dua tahun lebih tua dariku, tapi kok kelihatannya masih sangat muda, pastilah ia pandai merawat kecantikannya. Aku juga bertanya apakah aku bisa datang kembali ke klinik itu untuk memeriksakan juniorku dua minggu lagi.

Dalam waktu dua minggu itu pula aku berencana agar bisa melakukan yang lebih. I mean, dokter ini sudah mau handjob, bagaimana kalau aku bisa mendapatkan yang lebih dari itu. Dalam dua minggu itu pula, aku menolak ajakan Ine untuk melanjutkan ‘hidangan utama’ yang belum sempat dinikmati di hotel dulu. Aku bilang kepadanya bahwa penyembuhannya makan waktu satu bulan setengah dan bahwa sebaiknya kami melakukannya setelah menikah saja. Untung si Ine mau mengerti dan tidak ngambek lagi. (Lagi lagi lagi) singkat cerita, dua minggu telah berlalu. Aku menunggu lagi satu hari untuk memastikan bahwa juniorku ini sudah siap tempur. Hari yang ditunggu tibalah juga, aku berangkat kembali ke klinik itu pada jam yang serupa dengan terakhir kali aku ke sana. Harapanku, tidak ada pasien yang mengantre. Dan… betul juga, hanya ada satu orang pasien anak-anak dan bapaknya yang baru saja pergi meninggalkan klinik itu.

Aku menemui suster yang jaga. “E… bisa saya bertemu dengan dokter Ika? Saya sudah bikin janji dua mingu yang lalu.” Tanyaku. Suster itu kemudian menuju ke ruang praktek dan tidak seberapa lama kemudian kembali dan mempersilakanku masuk. Aku akhirnya masuk kedalam ruang praktek. Dokter Ika menanyakan apakah ada keluhan pada kemaluanku. Aku menjawab bahwa tidak ada keluhan dan tidak terasa sakit. Dokter Ika kemudian menyatakan bahwa aku sudah sepenuhnya sembuh. “Ehh, tapi dok. Begini.. Saya, dalam waktu dekat ini akan menikah. Engg, saya kan tidak tahu apakah anu saya akan normal saja pas malam pertama.” Pertanyaan yang ngarang dan ngaco. “Begini saja mas, mas coba saja masturbasi dulu, kalau tidak sakit kemungkinan tidak akan sakit waktu dipakai berhubungan badan.” Jawab dokter Ika dengan wajah yang sedikit memerah. Mungkin karena mengingat yang tejadi dua minggu yang lalu. Aku kembali mencari akal agar dia mau kuajak yang tidak-tidak. “Mmm, saya masih takut dokter, bagaimana kalau nanti lukanya kambuh. Aduuuh, saya takut.” Jawabku beralasan. “Emm.. gimana kalau dokter aja yang….” Tambahku. Ika hanya terdiam. Aku tidak ingin ia menjawab tidak sesuai keinginanku, jadi aku langsung berjalan menuju meja periksa dan melepas bawahanku sehingga bagian bawah tubuhku kini sudah tanpa sehelai benangpun. Sesuai dugaanku, Ika terpaksa harus menuruti kemauanku. Iapun menuju meja periksa dan kemudian langsung menggenggam batang penisku, tapi kali ini tanpa sarung tangan, wow. Menerima sentuhan dari tangan wanita, kontan penisku mengeliat dan bangun dari tidurnya. Dokter Ika kemudian tampak tertegun, memang, setelah disunat juniorku tampak lebih garang. Ika kemudian memeriksa bagian leher penis dan menyentuh-nyentuh disekeliling diameternya untuk memastikan bahwa aku tidak merasakan sakit. Kemudian ia mulai mengocok penisku. Ahh, memang enak sekali kalau disentuh oleh lawan jenis. Kocokan tangannya mulai dipercepat, pasti tujuannya supaya aku cepat keluar dan cepat pergi dari sini. Aku tahu itu, tapi aku tidak akan membiarkannya terjadi. Saat ini posisiku duduk diatas meja periksa sementara Ika duduk di kursi yang dihadapkan ke meja periksa itu sehingga posisinya agak lebih rendah dariku. Akupun menggerakkan tanganku menuju payudaranya yang terbalut jubah dokter dan kemeja hitam. Tanpa basa basi, kuremas kedua payudaranya. Ikapun terkejut dan melepaskan genggaman tangannya dari penisku. Kemudian kedua tangannya disilangkan diatas dadanya. “Mas, apa-apaan sih.. emph!” Sebelum banyak berkata-kata, kulumat dan kuhisap-hisap mulutnya. Kedua tangan Ika mencoba mendorongku, tapi tidak cukup kuat untuk melakukannya. Dengan tangan kiriku, kuremas sebelah payudaranya. Sementara tangan kananku, meremas-remas bongkahan pantatnya dari luar rok kain berwarna hitam yang dikenakan Ika. “Emmm… mmmhhh.” Hanya itu yang terlontar keluar dari bibir Ika yang sedang kucium dengan ganas. Perlahan kucoba memasukkan lidahku kedalam mulutnya dan bermain-main dengan lidahnya, mungkin karenasudah terangsang, Ika membalas pemainan lidahku, lidahnya juga dimasukkan kedalam mulutku dan akupun langsung menghisap-hisapnya. Jemari tanganku mulai bergerak lincah membuka satu demi satu kancing kemeja Ika. Dan, aku tidak measakan penolakan darinya, berarti keadaan sudah benar-benar aman nih, hehehe. Akupun melepaskan ciumanku dan Ika tampak terengah-engah. Setelah kubuka semua kancing kemejanya segera kulepas kemeja dan jubah dokternya, kemudian menyusul bra putih yang dikenakannya. Wow, ternyata payudara dokter ini cukup sekal, kira-kira seukuran dengan punya Ine. Kedua payudara Ika juga terlihat masih tegak dan menantang. Tanpa buang-buang waktu, aku langsung mengulum sebelah puting susu Ika sementara yang satunya lagi aku mainkan dengan tanganku. “Ahh, ssshh.. mmmhh.” Desah Ika. Tangan kananku yang bebas begerilya kebelakang dan bergerak kebawah, melepas pengait dan resleting rok Ika. Begitu sudah terbuka, rok hitam itupun meluncur bebas kebawah. Tangan kanankupun leluasa meremas-remas pantat Ika yang terbungkus celana dalam warna putih. Perlahan jemari tanganku kususupkan ke kemaluannya yang ternyata sudah basah. Ok, tidak perlu menunggu lagi, segera kuturunkan celana dalam itu sehingga Ika kini benar-benar telanjang bulat. Segera kuangkat tubuhnya dan kubaringkan diatas meja periksa. Aku membuka kaosku sehingga kini aku dan Ika sama-sama telanjang bulat. Kukangkangkan kakinya lalu segera kuarahkan batang penisku yang sudah tegang sekali menuju liang vaginanya. Kugesek-gesekkan terlebih dahulu di permukaan vaginanya. Lalu, bless, batang penisku melesak dalam di vagina Ika. “Aaa… masss.. pe.. lan.” Desah Ika. Kudiamkan terlebih dahulu penisku. Setelah beberapa saat, barulah kugerakkan maju mundur diiringi dengan desahan Ika, si dokter cantik itu. Plok, plok! Suara pahaku yang bertemu dengan pangkal paha Ika. Sambil bersenggama, tanganku meremas-remas payudaranya dan terkadang memilin-milin putingnya, sementara bibirku berulang kali menciumi bibir, pipi dan leher Ika. Sepuluh menit berselang, nafas Ika semakin memburu dan tidak lama kemudian, “Aa.. ahhh… aaahhh!” Ika mencapai orgasme. Kedua matanya dipejamkan. Keringat deras membasahi tubuhnya. Kudiamkan sejenak dan kubiarkan Ika menikmati orgasmenya. Lalu kubalikkan badannya dan kumasukkan lagi penisku dalam posisi doggy style. Kusodokkan penisku pelahan, namun kian lama kian cepat. “Ahhh, mass… ahh.. ach.. enak mass!!” Racau Ika. Sekitar lima belas menit kami bercinta dalam posisi ini, Ika kembali orgasme. “Achh.. mass.. aku keluar, ahh, aaaaaa!” Kubalikkan lagi badannya dan kupompa terus karena aku juga merasakan gelombang orgasme kian mendekat. Kupacu dan kupecepat sodokanku dan “aaa.. aku mau kel.. luar.” Aku hendak mencabut penisku untuk memuntahkan sperma diatas perutnya, namun kedua kaki Ika tiba tiba dilingkarkan disekeliling pinggangku dan “Ahh… hhh.. hhh!” Semburan demi semburan sperma masuk kedalam rahim Ika. Aku merasakan suasana ini sangat intim. Kudiamkan penisku didalam vagina Ika selama beberapa saat dan kupagut bibirnya lalu kubisikkan thank you di telinganya. Ika hanya tersenyum manis.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.