Tantehot's Blog

ngentot guru bahasa inggris

Posted in guru mesum by tantehot on March 3, 2010

Pagi itu, Randy, seorang mahasiswa sebuah universitas terkenal di Malang, memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Ia memang senang kebut-kebutan, ditambah dengan motor gede yang dimilikinya, lengkaplah sudah pemenuhan hobinya itu. Ketika melewati sebuah rumah di ujung Jalan Mawar, pikirannya pun sedikit terbang dan tidak lagi fokus ke jalan yang sedang dilaluinya. Pemilik rumah sederhana di ujung Jalan Mawar itu adalah Ibu Nina Alfiyah, guru Randy ketika kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah. Ia ingat sekali waktu itu Bu Nina mengajar mata pelajaran Fikih. Bu Nina adalah seorang guru yang cantik, kulitnya putih, hidungnya mancung, bibirnya merah delima, postur tubuhnya tinggi, body tubuhnya lumayan dan masih demikian singset.

“Cittt, …” tiba-tiba saja seekor kucing lewat di hadapan Randy sehingga membuatnya harus mengerem mendadak dan hampir terpelanting. Bayangan Bu Nina pun hilang dan Randy pun melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, remaja 21 tahun itu langsung masuk ke kamarnya, kemudian mengambil handuk dan pakaian ganti untuk mandi. Di kamar mandi, bayangan tentang Bu Nina kembali merayapi pikirannya. Ia ingat waktu mengajar dulu Bu Nina masih berusia sekitar 30 tahun. Masih cukup muda bila dibandingkan dengan guru-guru yang lain. Ia telah menikah dengan Pak Sapto, guru Bahasa Inggris yang juga mengajar Randy di Madrasah dulu.

Seperti layaknya guru madrasah, Bu Nina selalu memakai jilbab yang lebar dengan kemeja panjang yang mengulur hingga bagian pahanya. Ketika mengajar, gaya Bu Nina juga biasa saja. Standard lah seperti guru-guru yang lain. Tapi satu hal yang tidak bisa dilupakan Randy adalah ketika ia secara tak sengaja melihat Bu Nina berganti pakaian di ruang kelas 6. Kejadiannya berlangsung sangat singkat. Suatu siang, Randy kembali ke ruang kelasnya sepulang sekolah. Buku catatan yang ia pinjam dari Selvy, teman sekelasnya, ketinggalan di kolong meja. Sesampainya di ruang kelas, dilihatnya ruangan itu telah kosong, ia pun langsung menuju mejanya yang berada di barisan paling belakang. Ketika ia sedang menunduk untuk mengambil bukunya di kolong meja, tiba-tiba terdengar suara orang masuk ke ruang kelas 6, ternyata dia adalah Bu Nina.

Randy tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, tapi tiba-tiba Bu Nina yang manis itu pun mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu selepas ia menutup dan mengunci pintu kelas.

“ Aduhh, gara-gara saos bakso itu, pakaianku jadi kotor. Untung tadi bawa baju ganti,” gumam Bu Nina yang saat itu tengah melepas kerudung hitam yang melilit kepalanya.

Randy pun menyaksikan pemandangan menakjubkan dari bagian belakang kelas. Bu Nina tengah menghadap ke papan tulis, jadi tak mungkin ia melihat Randy yang sedang bersembunyi di belakang. Randy pun tidak bersuara sama sekali, ia sampai menahan nafasnya demi melihat kelanjutan ganti bajunya Bu Nina. Seperti yang diperkirakan Randy, selanjutnya Bu Nina pun melepas kancing kemejanya satu persatu dan menanggalkannya begitu saja di atas meja. Otak yang masih kecil waktu itu pun segera merekam setiap lekuk tubuh indah Bu Nina. Rambut Bu Nina yang tidak pernah terlihat ternyata begitu indah. Warnanya hitam dan panjangnya sebahu.

Bu Nina tidak memakai apa-apa lagi di balik kemejanya selain bra yang ditaksir Randy berukuran 34B. Tubuh yang selalu ditutupi ibu guru manis itu ternyata putih bersih, lekuk demi lekuknya demikian sempurna dan seksi. Setelah itu, dengan cepat Bu Nina kembali menutupi tubuhnya dengan baju ganti dan kemudian memasang jilbab lebarnya kembali. Randy pun sedikit kecewa ketika Bu Nina keluar ruangan kelas.

“Beruntung sekali Pak Sapto,” piker Randy sambil mengelus-elus batang kejantanannya yang sedang keras.

Sejak saat itu, pikiran Randy tak pernah lepas dari tubuh telanjang Bu Nina. Setiap Bu Nina mengajar, pandangan Randy tak lepas dari buah dada Bu Nina yang menonjol dari balik jilbabnya. Randy pun demikian senang ketika angin besar bertiup melewati ruang kelasnya, karena kemudian tubuh indah Bu Nina akan tercetak jelas di pakaiannya dan membuat Randy begitu tergila-gila. Di rumah pun ia sering sekali membayangkan sedang bercinta dengan guru fikihnya tersebut. Membayangkan hal itu semua, membuat Randy masa kini yang sedang berkutat di kamar mandi kian cepat mengocok kemaluannya hingga akhirnya “crooottt … “ segumpal mani pun menyemprot dinding kamar mandi dan membuat empunya terkulai lemas di lantai kamar mandi.

Sampai ketika suatu saat Randy melihat di Facebook ada invitation untuk reuni Madrasahnya di Bali. Ia pun langsung tertarik dan menghubungi contact person acara tersebut untuk memastikan keikut sertaannya. Sampailah di waktu keberangkatan dan ia pun kembali bersua dengan semua teman-teman Madrasahnya dulu. Tiba-tiba Randy melihat Bu Nina juga hadir dalan acara tersebut. Randy melihat Bu Nina masih tetap cantik seperti dulu.
Ia pun langsung menyenggol Roni, teman sebangkunya sewaktu Madrasah dulu,

“Eh, Ron. Liat deh, itu Bu Nina kan?”

“Iyah bener, guru favorit lo dulu tuh, hee … jadi CLBK neh!” kikik Roni menjengkelkan.

“Apaan sih lo Ron, gw kan Cuma nanya doank”

“Alah, gak usah muna deh lo Di, kita sekelas tuh dah pada tahu kalo pas kelas 6 dulu lo kan sering ngeliat ke arah teteknya Bu Nina. Hee, hee, itu mah dah rahasia umum.”

“Siall lo Ron.” Ujar Randy sambil sekali menjitak kepala Roni.

Tanpa membuang waktu, Randy pun segera menghampiri Bu Nina. Ia pun mengajukan tangannya untuk bersalaman dengan mantan gurunya itu. Namun yang dituju malah hanya mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya sambil menyindir,

“Ayoo, sudah lupa yah sama pelajaran Ibu. Kan pria dan wanita yang bukan mahrom gak boleh bersentuhan,” ujar Bu Nina sambil tersenyum manis.

Beberapa menit mereka mengobrol. Dan Randy melihat yang lain sudah naik ke dalam bus. “Ibu sama siapa ke Bali-nya? Koq Bapaknya gak diajak?”

“Pak Sapto lagi melayat ke rumah temannya di Surabaya, gak bisa ikut. Dia titip salam aja sama kalian semua.” Tiba-tiba handphone di tasnya Bu Nina berbunyi dan akhirnya dia mengangkatnya. Beberapa detik pembicaraan Randy dengan Bu Nina terpotong karena Bu Nina harus mengangkat telponnya.

“Tuh kan, belum berangkat saja masih ditelpon sama Bapak, katanya hati-hati di jalan.”

“Maaf Bu Nina, sepertinya yang lain sudah pada masuk ke dalam bus, bagaimana kalau saya bawakan bawaannya.” Ujar Randy sopan.

“Ohh, apa tidak merepotkan?”

“Gak apa-apa koq Bu.” Tanpa berpikir lebih lama lagi, Randy langsung membawakan tas bawaan Bu Nina dan memasukkannya ke bagasi bus sedangkan Bu Nina langsung naik ke atas bus.

Ketika Randy masuk ke atas bus, ternyata hanya ada satu bangku yang kosong, yaitu di sebelah Bu Nina. Terdengar cekikikan Roni dari belakangku, “Siall, rupanya Roni telah mengaturnya.” Gumam Randy.

Sepanjang perjalanan Randy terus mengobrol ngalor ngidul tentang kegiatan Bu Nina sekarang, termasuk juga tentang Fathimah, anak perempuan satu-satunya Bu Nina yang sangat cantik dan sekarang tengah kuliah di ITB. Mereka ngobrol cukup lama sampai akhirnya Bu Nina tertidur dalam bus. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan hampir seluruh penumpang bus telah lelap tertidur. Randy pun melirik Bu Nina di sebelahnya.

“Ahh, ingin sekali kudekap tubuh mulus nya itu,” Pikirnya.

Randy pun mulai melancarkan serangannya sedikit demi sedikit. Demikian perlahan agar Bu Nina tidak menyadarinya. Ia sedikit meraba buah dada Bu Nina yang alim itu dengan perlahan sampai ia merasakan putting Bu Nina yang naik turun dengan kecepatan statis.

Tiba-tiba tubuh Bu Nina bergerak, tapi untungnya Randy bisa dengan cepat menarik tangannya hingga Bu Nina pun tertidur lagi tanpa mengetahui apa yang telah dilakukan Randy. Randy pun terlelap juga setelah itu. Waktu terus berjalan, akhirnya pukul 5 pagi rombongan madrasah itu pun tiba di pantai Sanur untuk melihat sunrise. Pukul 10 pagi Randy dan rombongan tiba di Hotel.

Sesampainya mereka di hotel, Randy dan kawan-kawan langsung melepas kepenatan dengan mandi di kolam renang. Saat mandi di kolam renang, para wanitanya, termasuk Bu Nina, pun ikut berkumpul untuk menonton dari pinggir kolam renang.

Ketika teman-temannya tengah asyik bermain, Randy pun menghampiri Bu Nina yang sedang duduk-duduk di pinggir kolam renang dengan pakaian tertutup rapat namun tetap menunjukkan keindahan tubuhnya.

“Bu, bisa minta tolong ambilkan Randy minuman dingin gak? Randy haus.”

“Ohh, iya. Tunggu sebentar ya Di,” dengan sedikit tergesa-gesa Bu Nina langsung membelikan Randy minuman ringan dan membawanya ke kolam renang. “Ini Di, minumannya.”

Randy pun langsung naik ke kolam renang dan menghampiri Bu Nina. Inilah saat yang paling ia tunggu-tunggu. Ia sengaja ingin memperlihatkan tubuhnya yang setengah telanjang dan hanya memakai celana renang tipis. Bu Nina hampir tak berkedip menatap tubuh Randy yang demikian sempurna dari atas hingga bawah. Perutnya begitu six-pack dan ketika sampai di bagian selangkangannya, Bu Nina pun hampir menjerit. Seonggok kemaluan Randy yang sedikit menyembul dari celah celana dalamnya itu begitu mengejutkan. Seumur-umur Bu Nina tak pernah melihat kemaluan lelaki selain milik suaminya. Dan itu pun begitu kecil dan jarang bisa memuaskannya. Berbeda sekali dengan yang kini sedang berada di hadapannya. Randy pura-pura tidak menyadari keadaan itu dan hanya cekikikan dalam hati melihat Bu Nina mendengus dan menahan ludah ketika melihat tubuhnya. Kemudian ia pun mengembalikan gelas minuman itu kembali kepada Bu Nina dan meninggalkan mantan gurunya yang alim itu dengan fantasi birahinya sendiri.

Malam pun tiba. Pukul 8 malam Randy pun mengetuk pintu kamar Bu Nina. Ia ketuk beberapa kali tapi tak ada yang membuka. Kemudian tepat ketika Randy hendak kembali ke kamar, Bu Nina memanggilnya. “Ada apa Di??? “Bu Nina melongokkan kepalanya ke luar. Terlihat ia mengenakan sebuah mukena berwarna putih. Ternyata dia baru akan shalat Isya’.

“Randy mau ngobrol sesuatu sama ibu, gak apa apa kan kalau Randy masuk, maaf Bu kalau Randy menggangu ibu”

“Ohhh… ya udah masuk ajah. Tapi Ibu mau shalat Isya’ dulu yah” seketika Randy masuk ke kamar gurunya yang sendirian itu, ia langsung mengunci pintu tanpa sepengatahuan Bu Nina.

Bu Nina pun langsung menghadapkan diri ke kiblat dengan beralaskan sehelai sajadah tanpa mengetahui kalau Randy sedang mengikutinya. Randy segera mendekati tubuh Bu Nina yang sedang membaca Surat Al-Fatihah dengan khusyu’ dalam hatinya. Randy merasakan penisnya telah begitu kencang, walaupun sebenarnya ia sudah tidak mengenakan celana dalam dari tadi. Ia merasakan getaran yang berbeda ketika hendak menyetubuhi wanita muslimah setengah baya yang alim itu. Dengan cekatan Randy memeluk tubuh indah Bu Nina dari belakang. Bu Nina pun sedikit tersentak dan memberontak, namun kekuatannya tentu kalah besar bila dibandingkan Randy yang perkasa.

“Apa –apaan kamu Di, Ibu kan sedang shalat,” ujar Bu Nina seperti tak menyadari bahaya yang kini mengintainya.

“Bu aku sangat ingin sekali memiliki kamu bu, tapi ibu sudah bersuami dan ibu sudah punya anak, kalau boleh memilih takdir aku ingin jadi suamimu Bu”
Langsung seketika Bu Nina kaget dan marah dengan pengakuan Randy tadi.

“Di…kamu gak boleh seperti ini sama Ibu…bagaimanapun juga Ibu ini tetap Mantan Gurumu dan harus kau hormati dan jangan mengada ngada tentang kata katamu tadi”

Randy langsung mencium pipi kiri Bu Nina yang kian berdebar-debar karena merasakan penis sang mantan murid di selangkangannya.. “Astagfirullah Di…jangan…di…”

Saat Bu Nina melontarkan kata kata itu dengan nada marah dan kesal, tanpa panjang lebar langsung Randy tetap memeluk tubuhnya dengan erat dalam keadaan berdiri, segera Randy membalikkan tubuh Bu Nina dan menciumi pipi dan bibirnya. “Di jangan Di….Ibu mohon jangan” Bu Nina hanya marah tapi dia tidak berontak seperti adegan adegan perkosaan lain. Dia hanya melarang Randy dengan kata – kata nya yang bernada marah tapi dia tak melawan bahkan tangannya diam tak berusaha mendorong tubuh Randy sedikitpun.
Setelah beberapa kali Randy menciumi pipi Bu Nina baik sebelah kanan maupun kiri, Randy pun menarik paksa mukena yang sedang dipakai Bu Nina. Ternyata di balik mukena itu Bu Nina masih memakai jilbab panjang berwarna merah muda. Randy pun beralih ke bagian dagu Bu Nina yang putih dan mulus dan menjilati bagian telinga Ibu Guru setengah baya itu dari balik jilbab merah mudanya. Randy menciumi setiap senti tubuh indah ummahat beranak dua itu dengan beringas seperti orang kesetanan.

“Stop..hentikan ini Di…kamu jangan kurang ajar sama Ibu..aaaahhh…aaaahhh…hentikan Di….aaaahhh” terdengar nada kata kata Bu Nina yang tadi seperti orang marah ternyata sekarang berubah menjadi lirih dan diiringi dengan desahan desahannya yang membuat Randy semakin bringas dan liar menciumi jilbabnya. Aroma wangi tubuh Bu Nina yang semerbak membuat penis Randy seperti ingin keluar merobek celana dalamnya sendiri. Sambil menciumi seluruh bagian tubuh Bu Nina yang bisa digapainya, Randy pun segera melepas bajunya sedikit demi sedikit hingga ia hanya mengenakan celana dalam. Bu Nina tampak hanya memejamkan mata sambil mendesah dan melarang Randy melakukan itu.

“Di…jangan….Di….aaaaahhhhh….ini perbuatan dosa Di….aaaahhhh….sekali lagi…ibu mohon………aaaaaaahhhhhhh”

Dengan sebuah hentakan, Randy pun berhasil menjatuhkan Bu Nina di atas ranjang nan empuk di hadapannya. Randy langsung beralih menciumi bagian pundak Bu Nina sambil mencoba melepaskan baju kurung yang dipakai Bu Nina. “Dasar….bajingan kamu…Di….hentikan…ibu mohon….aaaaaaaaahhhhh…..Ibu gak mau Di….ini dosa….….aaaaahhhhh….” Bu Nina terus mendesah sambil memejamkan mata. Tak lama kemudian baju kurung Bu Nina pun terjatuh dilantai. Di balik baju kurungnya, ternyata Bu Nina hanya memakai BH G-string merah, terlihat BH G string yang dipakainya seperti terlalu ketat dan kekecilan sehingga payudaranya di bagian atas seperi mau menjumbul keluar. Dengan cepat Randy pun menyosor dengan lahap pundak dan dadanya yang terlihat mulus.

Di tengah aksinya menciumi dada Bu Nina, Randy berkata pada Bu Nina “Bu aku ingin sekali ibu menjadi orang yang pertama kali mendapatkan perjakaku ini, cccccpppppccckkk….. jadi aku mohon…mmmmuuuuaaaachhhh…mmmmhhhhcccchhh….. izinkan aku menjamah tubuh ibu yang mulus ini… karena sejak SD aku menantikan kesempatan seperti ini dengan kamu Bu” Randy langsung meneruskan ciumannya ke pundak dan dada Bu Nina yang mulus.

“Tapi kamu salah Di…ibu ini hanya wanita tua berumur 38 tahun… aaaaahhhh….tak pantas…kau perlakukan ibu seperti ini….….aaaaahhhhh…. ibu tak ada bedanya dengan ibu kamu sendiri….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….hentikan hentikan Di….kamu memang biadab….….aaaaahhhhh….dasar terkutuk kamu….aaaaahhhhh….” setelah puas menciumi dada Bu Nina, Randy pun menciumi payudaranya yang masih terbungkus BH G-String berwarna merah. Saat bibir Randy menyentuh tali BH Bu Nina, ia benar benar seperti orang kesetanan dan bringas, dilahapnya dengan cepat payudara muslimah setengah baya itu hingga BH yang dipakainya basah karena air liur Randy. Kemudian sambil terus menciumi payudara Bu Nina yang terbungkus BH Randy mencoba membuka kancing BH nya yang berada dibelakang punggungnya. Akhirnya tangan Randy pun berhasil meraih kancing BH Bu Nina. Segera Randy menariknya dengan kencang hingga dengan cepat terlepaslah BH yang dipakai Bu Nina dan terjatuh begitu saja di lantai kamar hotel. Randy sangat kaget melihat ukuran payudara Bu Nina saat BH nya dibuka, ternyata sangat montok dan besar. Dulu, ketika ia tak sengaja mengintip Bu Nina yang sedang berganti pakaian, Randy mengira payudara Bu Nina ukuranya kecil serta biasa saja, tapi setelah terpampang jelas di hadapannya, Randy pun tak kenal ampun langsung melahapnya dengan bringas dan liar, bahkan seperti orang kesetanan. Randy langsung menciumi kedua payudara Bu Nina yang montok itu baik kanan ataupun kiri, seperti orang yang tak sabaran dan tergesa gesa.

“…. Aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh …. biadab kamu .aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh …. jangan …. Aaaaahhhhh …. Jangan …. Aaaaahhhhh …. jaaaaaaaaaangaaaaaannn Di” desahan Bu Nina yang lirih dilakukannya sambil mengelus elus dan memegangi kepala Randy. Sangat lama sekali Randy menciumi kedua payudara Bu Nina. Tak henti hentinya ia menciumi berulang ulang payudara Guru Agama yang telah banyak memberikan ilmu kepadanya itu.

“mmmccchhhhh…mmmmmcccchhhh,…..” terasa nikmat sekali terasa seperti dipuncak kenikmatan saat Randy berulang ulang menciumi kedua payudara Bu Nina. Setelah berulang kali Randy menciumi dan menghisap payudara Bu Nin secara bergantian baik sebelah kiri maupun kanan begitu lamanya. Bu Nina dan Randy kini terbaring di atas ranjang dengan posisi tubuh Randy diatas tubuh Bu Nina. “…. Aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh …. biadab kamu …. Aaaaahhhhh ….…. bangsat kamu aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh …. Jangan …. Aaaaahhhhh …. Jangan …. Aaaaahhhhh …. jaaaaaaaaaangaaaaaannn Di”

Setelah cukup lama Randy menciumi dan menghisap kedua payudara ummahat setengah baya itu, ia pun beralih ke perutnya. Randy menciumi perut dan pusarnya sampai menuju vaginanya yang masih terbungkus oleh CD G-String Hitam. Randy merasakan sendiri ketika menyentuh vagina Bu Nina, ternyata kemaluan suci wanita muslimah itu sudah basah sekali. Langsung saja sambil menciumi selakangannya yang wangi, Randy memelorotkan CD G-string hitam yang dipakai Bu Nina hingga terlepas dan terjatuh ke lantai. Randy pun ganti menyosor dengan lahap vaginanya. “ …. Aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh …. biadab kamu …. Aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh …. Jangan …. Aaaaahhhhh …. Jangan …. Aaaaahhhhh …. jaaaaaaaaaangaaaaaannn lakukan itu …. Aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ……. Aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh …. stop ibu gak mau berbuat dosa …. Aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….…. aaaaahhhhh ….”

Tak lama kemudian Bu Nina tak lagi melarang Randy tapi dia hanya mendesah berulang kali “….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh…….aaaaah hhhh….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh…….aaaaahhhhh….….a aaaahhhhh….….aaaaahhhhh…….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh ….….aaaaahhhhh…aaaauuuuuhh……”
Setelah Randy menciumi seluruh permukaan vagina Bu Nina, dia pun beralih terus ke bawah dan terus hingga jari kaki Bu Nina. Sambil melepas CD yang ia kenakan, Randy pun menciumi betis dan kaki Bu Nina. Setelah menciumi kaki dan jari ummahat alim itu, Randy pun naik kembali ke bagian atas tubuh Bu Nina. Ia tindih lagi tubuh Bu Nina sambil menancapkan penisnya ke liang vagina mantan gurunya itu. Terlihat Bu Nina hanya bisa pasrah sambil memejamkan mata. Tak lama kemudian penis Randy pun terbenam tepat di vagina Bu Nina yang sedari tadi sudah basah sekali. Randy menggenjot tubuh Bu Nina berulang kali. “ …. Aaaaahhhhh ….…. oooohhhhh ….…. aaaaahhhhh ……. Aaaauuuu ….…. aaaaahhhhh …. Aaahhhhh ….…. oooohhhhh ….…. aaaaahhhhh ……. Aaaauuuu ….…. aaaaahhhhh …. Aaaaahhhhh ….…. oooohhhhh ….…. aaaaahhhhh ……. Aaaauuuu ….…. aaaaahhhhh” hanya desahan dan desahan yang keluar dari bibir Bu Nina sambil memejamkan kedua matanya. Ia benar-benar sedang berada di puncak kenikmatan walaupun berawal dari pemaksaan. Randy merasa bahwa ia benar-benar manusia paling bahagia di dunia waktu itu. Setelah berulang kali menggenjot tubuh Bu Nina, tak lama kemudian Randy merasakan ada yang menyembur deras dari penisnya menuju liang vagina suci milik ummahat alim beranak dua itu.

Setelah air mani itu keluar dan menuju liang vagina Bu Nina, Randy pun menggenjot tubuhnya lagi berulang kali dengan ritme yang semakin pelan, hingga air mani itu keluar berulang kali. Setelah beberapa saat kemudian Randy pun merasa lelah sekali setelah berulang kali melakukan genjotan. Terlihat pula dari wajahnya, Bu Nina tampak kelelahan. Terlihat dia memejamkan matanya dan menoleh ke arah kiri dan tak berani memandang wajah Randy. Segera Randy menarik penisnya dari vagina Bu Nina dan ia pun berbaring disamping Bu Nina sambil menciumi payudaranya. Di tengah-tengah ciumannya Randy meminta maaf pada Bu Nina ”Bu maafin aku… aku sudah berbuat dosa pada ibu…sekali lagi maaf” kemudian Randy pun mengambil selimut dan akhirnya ia pun berbaring di samping Bu Nina sambil memeluk tubuhnya yang mulus, ia menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut yang tebal. Karena udaranya sangat dingin. Dua insane yang habis berzina itu pun tidur bersama hingga pagi menjelang.

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Sperma5cc said, on April 5, 2010 at 11:54 pm

    Boong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: